Ketika Warga China Memilih Bertempur untuk Ukraina: Misi Rahasia, Risiko, dan Tekanan dari Beijing
Baca dalam 60 detik
- Sejumlah sukarelawan asal China bergabung dengan unit militer Ukraina, meski negara mereka dianggap pendukung utama Rusia.
- Mereka menghadapi pengawasan ketat dari otoritas China dan ancaman bagi keluarga di kampung halaman, sementara Ukraina kekurangan tenaga tempur.
- Keberadaan mereka memicu dilema intelijen: di satu sisi dianggap berisiko, di sisi lain keterampilan teknis mereka dinilai berharga di medan perang.

Di sebuah desa dekat garis depan perang Rusia-Ukraina, sebuah bengkel drone darurat berdiri di ruang tamu sempit. Dindingnya dipenuhi tang dan lakban, meja dipenuhi obeng dan kabel, sementara dua drone kamikaze bersandar di dinding. Satu benda tampak janggal: teko berisi teh longjing China, daunnya layu karena terus diseduh ulang. Itulah secuil kehidupan Tim, sukarelawan asal China yang kini menjadi otak perbaikan drone di unit militer Ukraina.
Tim, 44 tahun, adalah sukarelawan utama dalam proyek tak biasa yang diluncurkan tahun ini: merekrut tentara dari negara yang dianggap sebagai pendukung terbesar Rusia. Unit pengintaian yang menaunginya memilih menyembunyikan identitas karena sensitivitas misi. Komandan unit, yang dikenal dengan panggilan Muse, beralasan langkah itu demi keselamatan para sukarelawan dan keluarga mereka. Sejauh ini, sekitar selusin warga China telah bergabung, dan lima di antaranya pulang ke China setelah menyelesaikan pelatihan karena tekanan dari otoritas negara mereka.
Ukraina memang tengah menghadapi krisis tenaga tempur. Sebagian besar sukarelawan domestik sudah lelah, sementara sejumlah pria sipil memilih bersembunyi untuk menghindari mobilisasi. Perhatian pun beralih ke orang asing. Tercatat sekitar 16.000 tentara asing di Ukraina, kurang dari 3% dari total angkatan bersenjata. Mantan Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov sempat meloloskan reformasi untuk mempermudah rekrutmen asing, bahkan memprediksi separuh pasukan garis depan bisa berasal dari luar negeri.
Namun, kehadiran sukarelawan China menghadirkan tantangan tersendiri. Di satu sisi, mereka rentan terhadap tekanan pemerintah China yang mengawasi ketat warganya. Hukum China tidak secara spesifik melarang warga bergabung dengan militer asing, tetapi beberapa sukarelawan mengaku aparat keamanan pernah menginterogasi mereka atau kerabat mereka. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyatakan pihaknya telah mengeluarkan peringatan agar warga China menjauhi wilayah konflik dan tidak terlibat dalam operasi militer pihak mana pun.
Di sisi lain, China adalah pendukung utama Rusia. Meski mengklaim netral, Beijing meningkatkan hubungan dagang dengan Moskow ke rekor tertinggi sejak 2022 dan memberikan dukungan diplomatik. Laporan tentang kerja sama militer tingkat tinggi antara kedua negara pun muncul, meski dibantah China. Seorang perwira dari brigade lain mengaku akan "berpikir dua kali" sebelum menerima warga China karena khawatir mereka bisa menjadi saluran intelijen bagi Beijing. Namun Muse tidak ambil pusing. "Dalam situasi ini, bagi kami para komandan, bagi rakyat Ukraina, siapa pun bisa diterima. Karena jumlah orang tidak cukup," ujarnya.
"Saya ingin orang tahu bahwa tidak semua orang China mendukung agresi Rusia. Banyak orang China, seperti saya, baik dan ingin membantu Ukraina." โ Nero, sukarelawan China
Muse juga memuji etos kerja sukarelawan China. Tim, misalnya, dalam sepekan mampu memperbaiki sekitar 10 drone Mavic dan 15 drone FPV. Muse bahkan bercanda bahwa "satu orang China lebih baik daripada 10 orang Ukraina". Rekrutmen dilakukan melalui media sosial dan mulut ke mulut. Tim bertanggung jawab menyaring pelamar dengan serangkaian wawancara. Ia mengaku menolak lebih dari 30 pelamar karena tidak memenuhi syarat, termasuk yang hanya didorong kebencian terhadap negara asalnya. "Saya sangat menentang menerima orang yang hanya digerakkan kebencian terhadap negaranya sendiri," tegasnya.
Di balik itu, kisah para sukarelawan beragam. Vanya, 36 tahun, asal Hubei, mengaku hidup di China "sesak". Ia mengakses internet lewat VPN, membaca tentang perang Ukraina, dan terpapar gagasan demokrasi dan kebebasan. Penghasilannya sebagai pekerja renovasi rumah turun hingga 50% akibat perlambatan ekonomi. Terlalu tua untuk mendaftar militer di China, ia memutuskan ke Ukraina. "Keputusan ini bukan tiba-tiba. Itu hasil dari banyak hal yang menumpuk: kelelahan dengan hidup saya sebelumnya, kerinduan akan demokrasi dan kebebasan, serta pandangan saya tentang Ukraina," tuturnya.
Sementara Nero, 37 tahun, dari Fujian, adalah influencer pendukung Ukraina yang akunnya beberapa kali dihapus. Ia menerima serangan dari akun-akun yang dicurigai sebagai spam Rusia. Setelah tiba di Ukraina, poster "dicari" berbahasa Rusia yang memuat nama asli, tanggal lahir, dan fotonya beredar online. Poster itu menuduhnya sebagai tentara bayaran dan melanggar perbatasan Rusia. Nero menduga poster itu dibuat oleh agensi propaganda China yang bekerja untuk Rusia. Kini ia berlatih menjadi pilot drone FPV. "Saya ingin orang tahu bahwa tidak semua orang China mendukung agresi Rusia," ujarnya.
Para sukarelawan menyadari pengawasan otoritas China akan mempersulit kepulangan mereka. Jinmu, seorang tukang las yang kini menjadi teknisi listrik spesialis bahan peledak dan baterai, mengatakan, "Jika saya pulang sekarang, akan sulit keluar lagi." Pada 23 September, seorang rekan China mereka tewas dalam serangan Rusia. Seorang sukarelawan dokter memilih pergi, tetapi yang lain memilih bertahan. Bagi Indonesia, fenomena ini menyoroti bagaimana perang di Ukraina menarik individu dari berbagai negara, termasuk dari negara yang secara resmi bersekutu dengan Rusia. Pemerintah Indonesia perlu mencermati dinamika ini, terutama jika ada warga negara Indonesia yang terlibat, karena dapat berdampak pada hubungan diplomatik dan keamanan nasional. Ke depan, pertanyaannya: akankah gelombang sukarelawan China ini mengubah peta dukungan global terhadap Ukraina, atau justru memperuncing ketegangan Beijing-Moskow?



