Liverpool Ulangi Formula Coutinho: Trey Nyoni Jadi Permata Murah Bernilai Jutaan
Baca dalam 60 detik
- Liverpool merekrut Trey Nyoni dari Leicester City dengan biaya awal sekitar £1 juta pada 2013, mengulang strategi pembelian murah Philippe Coutinho.
- Nilai pasar Nyoni kini melonjak sekitar 600% menjadi €8 juta menurut Transfermarkt, menandakan potensi keuntungan besar bagi The Reds.
- Keberhasilan akademi ini menjadi pelajaran bagi klub Indonesia untuk serius menggarap pembinaan usia muda sebagai sumber daya ekonomi dan prestasi.

Liverpool kembali menunjukkan ketajaman bisnis transfer mereka dengan merekrut gelandang muda Trey Nyoni dari Leicester City seharga sekitar £1 juta, sebuah langkah yang mengingatkan pada kesepakatan murah Philippe Coutinho lebih dari satu dekade lalu. Nyoni, yang kini berusia 19 tahun, telah mencuri perhatian setelah penampilan impresifnya di pramusim dan laga Carabao Cup melawan Tottenham Hotspur, di mana ia menjadi starter dan berperan penting dalam kemenangan 3-1.
Kesepakatan ini bukan sekadar kebetulan. Manajemen Liverpool di bawah Fenway Sports Group (FSG) dikenal gemar berburu talenta muda dengan harga rendah sebelum nilai mereka meledak. Coutinho, yang dibeli dari Inter Milan pada Januari 2013 seharga £8,5 juta, kemudian dijual ke Barcelona dengan harga £142 juta—salah satu keuntungan terbesar dalam sejarah klub. Kini, pola serupa terlihat pada Nyoni, yang nilai pasarnya telah meroket sekitar 600% menjadi €8 juta menurut Transfermarkt, hanya setelah 24 penampilan bersama tim utama.
Pelatih U21 Liverpool, Jay Spearing, memberikan pujian tinggi kepada Nyoni. “Sejak kedatangannya, ia bermain jauh di atas usianya. Bahkan di pramusim, saya pikir ia adalah pemain terbaik Liverpool,” ujarnya. Performa Nyoni di laga melawan Tottenham juga menjadi bukti kematangan, di mana Liverpool kehilangan kendali setelah ia ditarik keluar. Gaya bermainnya yang teknis dan progresif mengingatkan pada Coutinho, meski ia lebih cenderung beroperasi dari lini tengah ke belakang.
Keberhasilan Liverpool dalam mengembangkan pemain seperti Nyoni tidak lepas dari peran akademi dan pemandu bakat. Klub juga sukses merekrut Rio Ngumoha dari Chelsea dengan biaya awal £3 juta, serta Trey Nyoni dari Leicester dengan harga serupa. Strategi ini memungkinkan The Reds tetap kompetitif di pasar transfer meski harus bersaing dengan klub-klub besar yang berani mengeluarkan dana besar untuk pemain seperti Alexander Isak, Florian Wirtz, atau Bradley Barcola.
Bagi Indonesia, kisah Nyoni memberikan pelajaran berharga. Klub-klub Liga Indonesia sering kali lebih memilih membeli pemain jadi dengan harga mahal daripada menginvestasikan dana di pembinaan usia muda. Padahal, dengan populasi besar dan bakat sepak bola yang melimpah, Indonesia bisa meniru model Liverpool: merekrut pemain muda berbakat dari daerah atau bahkan dari luar negeri dengan biaya rendah, lalu mengembangkan mereka hingga bernilai jual tinggi. Klub seperti Persija Jakarta, Persib Bandung, atau Bali United dapat menjadikan akademi sebagai pusat keuntungan jangka panjang, sekaligus memperkuat tim nasional di masa depan.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Nyoni akan terus berkembang dan menjadi bintang utama Liverpool, atau justru dijual dengan keuntungan besar seperti Coutinho? Yang jelas, FSG kembali membuktikan bahwa dalam sepak bola modern, kecerdasan dalam merekrut pemain muda bisa sama berharganya dengan kemenangan di lapangan.



