Leeds United di Ambang Dilema: Gruev dan Longstaff Jadi Beban Gaji di Tengah Ambisi Eropa
Baca dalam 60 detik
- Leeds United memulai musim 2026/27 dengan performa impresif, namun dua gelandang seniornya, Ilia Gruev dan Sean Longstaff, justru menjadi masalah besar.
- Gruev, yang pernah menjadi pahlawan promosi, kini terpuruk karena statistik duel dan kreativitas di bawah rata-rata, sementara Longstaff hanya tampil 10 menit di Premier League.
- Manajemen klub dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan mereka sebagai pelapis atau menjual demi merampingkan skuad dan mendanai perburuan tiket Eropa.

Leeds United tengah menikmati start terbaik mereka di Premier League musim 2026/27 dengan raihan sembilan poin dari lima laga, termasuk kemenangan atas Nottingham Forest dan Newcastle United. Namun, di balik performa apik tersebut, tersimpan persoalan serius di lini tengah: dua gelandang senior, Ilia Gruev dan Sean Longstaff, nyaris tidak berkontribusi dan justru membebani anggaran gaji klub.
Sejak promosi pada 2024, Leeds telah menggelontorkan hampir ยฃ200 juta untuk memperkuat skuad. Salah satu pembelian yang dianggap murah adalah Sean Longstaff, yang didatangkan dari Newcastle United dengan harga ยฃ10 juta. Gelandang berusia 28 tahun itu diharapkan membawa pengalaman Premier League, tetapi kenyataannya ia hanya tampil 10 menit di liga musim ini, dengan dua start di Carabao Cup. Dalam kekalahan telak dari Chelsea, Longstaff gagal menyelesaikan dribel, tidak akurat dalam umpan silang, dan kehilangan bola tiga kali.
Senada dengan Longstaff, Ilia Gruev juga mengalami nasib serupa. Gelandang asal Bulgaria berusia 26 tahun itu adalah sosok kunci saat Leeds promosi dari Championship, tetapi sejak kembali ke kasta tertinggi, ia kesulitan menembus starting eleven. Musim lalu, ia hanya bermain 15 kali di liga dengan tiga assist, dan kini belum sekalipun tampil di semua kompetisi musim 2026/27. Kontraknya akan berakhir pada musim panas 2027, dan laporan TEAMtalk menyebutkan Gruev sangat ingin bertahan, namun belum ada tawaran perpanjangan.
Statistik Gruev musim lalu memperlihatkan kelemahannya. Ia berada di 10% terbawah pemain Premier League untuk duel yang dimenangkan, sering kali terpinggirkan karena postur tubuhnya yang kecil. Ia juga dilewati lawan 1,3 kali per 90 menit, lebih buruk dari 81% gelandang lainnya. Dalam hal menciptakan peluang, kontribusinya hanya 0,6 per 90 menit, terendah di antara gelandang senior Leeds. Duo Ethan Ampadu dan Anton Stach yang lebih fisik telah mengunci posisi inti, membuat Gruev semakin tersisih.
"Gruev adalah bagian penting dari promosi, tetapi untuk bersaing di Premier League, Leeds butuh pemain dengan kualitas berbeda," ujar seorang analis yang mengikuti perkembangan klub.
Bagi Indonesia, kisah Leeds ini menjadi cerminan bagaimana klub promosi di liga top Eropa harus mengambil keputusan tegas. Tim seperti Persija atau Persib di Liga 1 juga kerap menghadapi dilema serupa: mempertahankan pemain yang berjasa di musim sebelumnya atau merekrut pemain baru yang lebih sesuai dengan kompetisi yang lebih ketat. Leeds, dengan ambisi finis di zona Eropa, tidak bisa membiarkan slot skuad diisi pemain yang tidak lagi kompetitif. Keputusan menjual Gruev dan Longstaff bisa menjadi langkah strategis untuk mendatangkan gelandang yang lebih sesuai dengan gaya Farke.
Jika Leeds ingin terus melaju, mereka harus berani mengambil keputusan tidak populer. Melepas pemain yang pernah berjasa bukanlah pengkhianatan, melainkan evolusi yang diperlukan. Pertanyaannya, akankah manajemen Leeds bergerak cepat di bursa transfer musim dingin, atau justru menunggu hingga kontrak berakhir dan kehilangan mereka secara gratis?



