Indra Sjafri Nilai Mental Timnas 7,5 tapi Soroti Sistem Pertahanan yang Terlalu Pasif
Baca dalam 60 detik
- Indra Sjafri memberi skor 7,5 untuk mental dan 6 untuk sistem setelah Timnas Indonesia bermain 0-0 melawan Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026.
- Meski bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-38, Indonesia mampu menahan gempuran Malaysia, namun Indra menilai pertahanan terlalu dalam dan kurang memberi tekanan.
- Evaluasi sistem menjadi krusial untuk laga berikutnya, terutama saat menghadapi lawan dengan kualitas berbeda dan situasi kehilangan pemain.

Mantan pelatih Timnas Indonesia U-23, Indra Sjafri, mengapresiasi perjuangan timnas senior yang bermain dengan sepuluh pemain sejak menit ke-38 dalam laga melawan Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026. Meski harus puas dengan hasil imbang 0-0 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (28/9/2026), Indra menilai ada catatan penting pada aspek sistem pertahanan yang perlu dibenahi.
Dalam keterangan tertulisnya, Selasa (29/9/2026), Indra memberikan penilaian spesifik: mental pemain mendapat nilai 7,5, sementara sistem hanya 6. Menurutnya, kemampuan bertahan dengan jumlah pemain tidak seimbang menunjukkan karakter kuat, tetapi pendekatan taktis yang terlalu defensif menyisakan pekerjaan rumah.
"Kalau dengan sepuluh pemain sejak menit ke-37 sampai ke-90 lebih, kita tidak kebobolan, itu luar biasa. Itu menunjukkan mental dan perjuangan yang sangat kuat," ujar Indra.
Namun, Indra tidak ingin hasil imbang tersebut menghentikan evaluasi. Ia menilai dalam kondisi kehilangan satu pemain, Timnas Indonesia memang harus melakukan penyesuaian formasi. Tetapi ke depan, ia berharap ada mekanisme bertahan yang tetap memungkinkan memberikan tekanan kepada lawan, bukan semata-mata bertahan makin dalam.
"Untuk sistem saya beri enam. Kenapa? Karena kita lebih banyak bertahan dan menumpuk pemain di belakang. Itu memang bisa menjadi solusi dalam situasi seperti ini, tetapi masih ada yang harus kita perbaiki," tutur Indra.
Indra menyadari bahwa pola bertahan rapat efektif untuk menyelamatkan hasil pertandingan dalam situasi darurat. Namun, ia berharap pengalaman melawan Malaysia dapat menjadi bahan evaluasi untuk menghadapi pertandingan ke depan, terutama ketika menghadapi lawan dengan kualitas berbeda atau saat harus keluar dari tekanan dan melakukan pressing.
"Yang paling penting, saya memberikan apresiasi kepada pemain. Mereka berjuang, disiplin dan tidak menyerah. Itu harus kita hargai," ucap Indra. "Setelah itu baru kita evaluasi. Bagaimana kalau menghadapi lawan dengan kualitas yang berbeda? Bagaimana ketika kita kehilangan satu pemain? Bagaimana tim tetap bisa keluar dari tekanan dan melakukan pressing? Itu yang harus terus dikembangkan."
Dalam konteks persepakbolaan Indonesia, evaluasi ini menjadi penting karena Timnas Indonesia tengah membangun fondasi menuju kompetisi yang lebih tinggi. Kualitas mental bertanding memang modal berharga, tetapi tanpa perbaikan sistem, tim berisiko kesulitan menghadapi lawan yang lebih kuat. Indra berharap para pemain tidak berhenti pada pencapaian ini dan terus mengasah kemampuan taktis.
"Jadi saya puji perjuangannya. Mental pemain luar biasa. Tetapi jangan berhenti di situ. Kita harus belajar dari pertandingan ini supaya sistem kita semakin matang," terang Indra.
Ke depan, Timnas Indonesia masih memiliki laga tersisa di Grup A. Pertanyaannya, mampukah tim asuhan pelatih saat ini mengembangkan sistem pertahanan yang lebih proaktif tanpa mengorbankan soliditas? Publik sepak bola nasional menanti jawabannya di lapangan.



