Isman Jasulmei Berpulang: Kehilangan Besar bagi Pembinaan Sepak Bola Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Isman Jasulmei, eks pemain dan asisten pelatih Persija Jakarta, meninggal dunia akibat serangan jantung pada Selasa pagi, 29 September 2026.
- Sepanjang kariernya, ia menangani 25 tim dan fokus pada pembinaan usia muda, meninggalkan warisan besar bagi sepak bola nasional.
- Kepergiannya menyoroti pentingnya peran pelatih akar rumput dalam membangun fondasi tim nasional Indonesia di masa depan.

Dunia sepak bola Indonesia kembali berduka. Isman Jasulmei, sosok yang akrab disapa Coach Is atau Om Is, menghembuskan napas terakhir pada Selasa pagi, 29 September 2026, di sebuah rumah sakit di Matraman, Jakarta, akibat serangan jantung. Kabar ini meninggalkan luka mendalam bagi keluarga besar Persija Jakarta dan komunitas sepak bola tanah air.
Persija Jakarta secara resmi menyampaikan belasungkawa melalui akun Instagram mereka pada Senin, 28 September 2026, sehari sebelum kepergiannya. The Jakmania, kelompok suporter setia Macan Kemayoran, juga menyampaikan duka cita yang mendalam. Kehilangan ini bukan sekadar kabar duka biasa; Isman adalah figur yang telah mengabdikan lebih dari empat dekade hidupnya untuk sepak bola, baik sebagai pemain maupun pelatih.
Ketua PSSI Kota Depok, Meiyadi Rakasiwi, menilai kepergian Isman sebagai pukulan telak bagi pembinaan sepak bola nasional. Menurutnya, Coach Isman adalah salah satu dari sedikit pelatih yang konsisten menggarap usia muda, sebuah fondasi yang sering terabaikan dalam industri sepak bola yang kerap berorientasi hasil instan. "Kami kehilangan sosok yang sangat peduli pada perkembangan pemain muda," ujar Meiyadi, seperti dikutip dari Bola.com.
Perjalanan karier Isman dimulai pada 1976 ketika ia bergabung dengan Merdeka Boys Football Association, bertahan hingga 1982. Selama periode itu, ia memperkuat tim nasional Indonesia di berbagai turnamen internasional, termasuk National Junior Lion City Cup di Singapura (1982), National Super Pre-Olimpiade (PSSI Putih) pada 1983, serta National Garuda Pre-Asian Cup dan Merlion Cup pada 1984. Di level klub, ia membela Arseto Solo FC (1986-1987) sebelum memperkuat Persija Jakarta FC dari 1987 hingga 1994.
Setelah pensiun sebagai pemain, Isman beralih ke dunia kepelatihan dan pembinaan. Hingga 2020, ia tercatat telah menangani atau menjadi asisten pelatih di 25 tim berbeda. Sebagai pelatih kepala, ia membawa Jakarta University meraih runner-up nasional pada 1998, Trisakti FC menjadi runner-up Persija Jakarta Competition pada 1999, dan Persija Junior meraih runner-up Piala Suratin pada 2000. Klub-klub besar seperti Indocement-Trisakti FC, Pra PON Riau U-23, Persikad Depok, Persis Solo, PSMS Medan, dan Maluku FC juga pernah ia tangani.
Kontribusi terbesarnya mungkin adalah perannya sebagai asisten pelatih yang membantu Persija Jakarta meraih gelar juara Liga Indonesia 2001 bersama Sergei Dubrovin. Ia juga pernah mendampingi Danurwindo di Persija. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Coach Isman lebih fokus pada pembinaan sepak bola akar rumput. Filosofi kepelatihannya menekankan kerja keras, kerja cerdas, dan disiplin kebersamaan untuk membangun tim yang solid.
Kepergian Isman Jasulmei menyisakan pertanyaan besar tentang regenerasi pelatih di level akar rumput. Sepak bola Indonesia sering dikritik karena kurangnya perhatian pada pembinaan usia dini, dan sosok seperti Isman adalah pengecualian. Dengan lisensi kepelatihan yang dimilikinya, ia seharusnya bisa menjadi mentor bagi pelatih-pelatih muda. Kini, tongkat estafet itu harus dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kehilangan ini juga menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap kompetisi profesional, ada pekerjaan keras yang tak terlihat di lapangan-lapangan kampung. Isman adalah bukti bahwa dedikasi pada pembinaan tidak selalu mendapat sorotan, tetapi dampaknya terasa hingga ke level tertinggi. PSSI dan klub-klub besar diharapkan dapat mengambil pelajaran dari warisan yang ditinggalkannya.
Ke depan, tantangan bagi Persija dan PSSI adalah memastikan bahwa semangat Coach Isman tetap hidup. Apakah akan ada program beasiswa kepelatihan untuk pembina usia muda? Ataukah klub-klub akan lebih serius menggarap akademi mereka? Publik menanti langkah nyata untuk menghormati jasa seorang legenda yang telah mengabdikan hidupnya untuk sepak bola Indonesia.



