Arif Aiman Sesalkan Tambahan Waktu 7 Menit, Malaysia Gagal ke Final ASEAN Cup 2026
Baca dalam 60 detik
- Malaysia menang 6-0 atas Singapura, tetapi Indonesia melaju ke final ASEAN Cup 2026 setelah menghancurkan Bangladesh 9-2.
- Arif Aiman menyoroti tambahan waktu tujuh menit yang dianggap memengaruhi situasi pertandingan, namun menegaskan timnya tak bisa mengendalikan keputusan wasit.
- Meski gagal, Arif memuji pertahanan Malaysia yang tak kebobolan dalam tiga laga dan menyebut skuad ini sebagai fondasi masa depan.

Penyerang sayap Timnas Malaysia, Arif Aiman, mengungkapkan kekecewaannya setelah Harimau Malaya dipastikan tersingkir dari perburuan tiket final FIFA ASEAN Cup 2026. Kekalahan tipis atas Indonesia dalam perhitungan selisih gol menjadi pukulan telak bagi tim asuhan pelatih asal Malaysia tersebut, meski mereka berhasil menutup fase grup dengan kemenangan besar 6-0 atas Singapura di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, pada 1 Oktober 2026.
Kemenangan Malaysia atas Singapura sejatinya membuka peluang, tetapi hasil di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, memupus harapan itu. Indonesia tampil perkasa dengan menghancurkan Bangladesh 9-2, memastikan langkah ke partai puncak dengan keunggulan selisih gol yang tidak terkejar. Arif mengakui bahwa timnya sudah berusaha maksimal, namun keberuntungan belum berpihak.
"Kami sudah memberikan yang terbaik, tapi memang belum rezeki kami untuk melaju ke final," ujar Arif Aiman selepas pertandingan.
Pemain yang memperkuat Johor Darul Ta'zim (JDT) itu menyoroti keputusan wasit terkait tambahan waktu tujuh menit dalam laga kontra Indonesia. Menurutnya, durasi tambahan tersebut menciptakan situasi yang tidak bisa dikendalikan pemain. "Semua orang tahu situasi Malaysia memberikan terlalu banyak, ada tambahan waktu tujuh menit. Kami tidak bisa berkomentar dan tidak bisa mengendalikannya," selorohnya. Pernyataan ini menyiratkan kekecewaan terhadap manajemen waktu pertandingan, meski ia enggan menyalahkan pihak lain secara eksplisit.
Meski gagal, Arif tetap memberikan apresiasi tinggi kepada rekan-rekannya. Ia menilai komitmen seluruh pemain sepanjang tiga pertandingan patut diacungi jempol. "Kami telah memberikan komitmen terbaik, namun memang belum rezeki. Kami juga paham Indonesia yang berhak lolos, kami hanya kalah selisih dua gol," tambahnya. Kegagalan ini, menurut Arif, tidak boleh berlarut-larut dan harus menjadi cambuk untuk menghadapi pertandingan berikutnya.
Dari kacamata taktik, pertahanan Malaysia memang tampil solid dengan tiga clean sheet. Arif menyebut pencapaian itu sebagai indikasi kualitas skuad yang mumpuni untuk masa depan. "Tiga pertandingan tanpa kebobolan. Saya rasa ini adalah skuad terbaik untuk masa depan dalam waktu dekat ini," pungkasnya. Catatan tersebut menjadi modal berharga bagi Harimau Malaya yang tengah membangun generasi baru di bawah asuhan pelatih yang menerapkan disiplin ketat.
Bagi Indonesia, kemenangan besar atas Bangladesh tidak hanya mengantarkan ke final, tetapi juga menegaskan dominasi di kawasan. Pertandingan final nanti akan menjadi ujian sesungguhnya bagi skuad Garuda yang tampil tajam dengan total 15 gol dalam tiga laga. Sementara Malaysia harus puas menutup turnamen dengan pelajaran berharga: konsistensi dan efisiensi di lini depan masih perlu diasah.
Ke depan, fokus Malaysia akan tertuju pada kompetisi regional berikutnya. Arif dan kolega diharapkan kembali bangkit dengan semangat baru. Pertanyaannya, mampukah Harimau Malaya mengubah kekecewaan ini menjadi motivasi untuk merebut gelar di turnamen mendatang?



