Agung Setyabudi: Satu Poin Lawan Malaysia Sudah Maksimal, Taktik Indonesia Buyar Usai Kartu Merah
Baca dalam 60 detik
- Agung Setyabudi menilai hasil imbang 0-0 kontra Malaysia sebagai capaian terbaik Indonesia yang harus bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-37.
- Kartu merah Thom Haye membuat strategi pelatih tidak berjalan, sementara Malaysia mendominasi 67 persen penguasaan bola dan delapan tembakan ke gawang.
- Indonesia wajib mengalahkan Bangladesh dan berharap Malaysia ditahan Singapura untuk mengamankan tiket final FIFA ASEAN Cup 2026.

Mantan kapten Timnas Indonesia, Agung Setyabudi, menilai hasil imbang 0-0 melawan Malaysia pada matchday kedua Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 sebagai pencapaian maksimal. Bermain dengan sepuluh orang sejak menit ke-37, Skuad Garuda dinilainya mampu bertahan dan menyelamatkan satu poin di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (28/9/2026) malam.
Kartu merah Thom Haye menjadi titik balik pertandingan. Gelandang keturunan Belanda itu awalnya hanya diganjar kartu kuning karena melanggar Arif Aiman, namun wasit mengubah keputusan menjadi kartu merah setelah meninjau VAR. Sejak itu, Indonesia kehilangan kendali permainan. Malaysia menguasai 67 persen penguasaan bola dan melepaskan delapan tembakan ke arah gawang, sementara Indonesia lebih banyak bertahan.
Meski tertekan, lini belakang Indonesia tampil disiplin. Elkan Baggott, Maarten Paes, dan Justin Hubner menjadi pilar penting yang menggagalkan sejumlah peluang Malaysia. Sebelumnya, Indonesia sempat mencetak gol melalui Hubner, tetapi dianulir wasit. Agung menilai Malaysia adalah lawan seimbang yang kualitasnya berbeda dari Singapura, yang dikalahkan Indonesia pada laga pertama.
"Timnas Indonesia benar-benar dapat lawan yang seimbang, dan kalah jumlah pemain, apa boleh buat harus banyak bertahan. Tapi, bagus, saya salut karena bisa mengimbangi dan minimal bisa mendapat satu poin," ujar Agung kepada Bola.com, Selasa (29/9/2026).
Agung menyoroti bahwa kehilangan satu pemain membuat taktik pelatih tidak berjalan. Ia menilai Malaysia sebenarnya layak menang, tetapi Indonesia tampil lebih percaya diri meski kelelahan dikurung pemain lawan. "Begitu kalah jumlah pemain, taktik pelatih jadi tidak jalan. Jujur, harusnya Malaysia layak menang, tapi Indonesia lebih percaya diri, dan terlihat sangat capek dikurung pemain Malaysia," tuturnya.
Perbandingan dengan laga melawan Singapura juga disorot. Menurut Agung, kemenangan atas Singapura terjadi karena perbedaan kualitas, sedangkan Malaysia adalah lawan sepadan yang menguji mental dan strategi. "Lawan Singapura kemarin layak menang karena memang beda kualitas. Kemudian Indonesia baru ketemu lawan yang sepadan, yaitu Malaysia, bahkan harus kehilangan pemain karena kartu merah. Berarti tensinya tinggi," kata kapten Timnas Indonesia di Piala Asia 2004 itu.
Hasil ini membuat Indonesia harus meraih kemenangan atas Bangladesh pada laga terakhir Grup A, sekaligus berharap Malaysia bermain imbang melawan Singapura. Dua hasil tersebut menjadi syarat mutlak bagi Skuad Garuda untuk melaju ke final FIFA ASEAN Cup 2026. Dengan kata lain, nasib Indonesia tidak sepenuhnya berada di tangan sendiri.
Konteks Indonesia: tekanan bagi pelatih dan pemain semakin besar. Rotasi pemain, disiplin taktik, dan kesiapan mental menghadapi laga krusial menjadi sorotan publik. Kegagalan lolos akan memicu evaluasi menyeluruh terhadap pembinaan dan strategi tim nasional. Di sisi lain, keberhasilan melewati fase grup akan menjadi modal berharga menuju turnamen yang lebih besar.
Ke depan, pertanyaan besarnya: mampukah Indonesia tampil lebih agresif dan efisien saat menghadapi Bangladesh, ataukah bayang-bayang kartu merah dan ketergantungan pada hasil laga lain akan kembali menghantui? Laga terakhir akan menjadi ujian sesungguhnya bagi kematangan Skuad Garuda.



