Dan Trachtenberg Garap Sleeping Beauty Versi Baru untuk Disney, Lepas dari Maleficent
Baca dalam 60 detik
- Dan Trachtenberg, sutradara Prey dan Predator: Badlands, tengah menyiapkan film orisinal yang terinspirasi kisah Sleeping Beauty untuk Disney.
- Proyek ini tidak berhubungan dengan dua film Maleficent yang dibintangi Angelina Jolie, dan naskahnya ditulis Alex Anfanger serta Dan Schimpf.
- Langkah Disney memberi ruang bagi pendekatan yang lebih berani terhadap klasik animasinya, sekaligus membuka peluang bagi penonton Indonesia menikmati adaptasi yang lebih segar.

Dan Trachtenberg, sineas yang dikenal lewat 10 Cloverfield Lane (2016) serta jagat Predator melalui Prey (2022), Predator: Badlands, dan animasi Predator: Killer of Killers, kini mengarahkan perhatiannya ke salah satu warisan paling ikonik Disney: Sleeping Beauty. Menurut laporan Deadline, Trachtenberg tengah mengembangkan film orisinal yang terinspirasi dari kisah klasik tersebut, dengan ia dan Rayna McClendon menangani pengembangan cerita, sementara Alex Anfanger dan Dan Schimpf dipercaya menulis skenario.
Proyek tanpa judul ini masih berada di tahap awal, dan detail plot masih dirahasiakan. Deadline menyebut film ini akan membawa kisah klasik itu ke arah yang sepenuhnya baru. Yang jelas, proyek ini bukan kelanjutan dari dua film Maleficent yang dibintangi Angelina Jolie. Keputusan untuk menjauh dari Maleficent menandakan Disney ingin mengeksplorasi sudut pandang yang berbeda, bukan sekadar mengulang formula yang sudah terbukti sukses secara komersial.
Disney memang punya tradisi panjang dalam mengolah ulang animasi klasiknya, baik melalui remake live-action maupun film yang menafsirkan ulang karakter dan cerita yang sudah dikenal. Maleficent mengubah penjahat dalam Sleeping Beauty menjadi tokoh utama, sedangkan Mufasa: The Lion King menggali latar belakang karakter familiar. Pola ini memberi ruang bagi Trachtenberg untuk menemukan angle tak terduga, terlebih Maleficent sudah berusia lebih dari satu dekade.
Bagi penggemar karya Trachtenberg, pertanyaan besarnya adalah seberapa jauh ia akan mendorong batas. Disney bukanlah rumah produksi yang identik dengan adegan berdarah ala Predator, tetapi bukan berarti mereka tidak bisa bereksperimen dengan dunia yang sudah mapan. Kesuksesan proyek seperti Andor menunjukkan Disney mampu menyediakan ruang bagi penceritaan yang lebih dewasa di dalam waralaba besarnya. Hal serupa juga menjadi ciri khas film Predator garapan Trachtenberg: alih-alih mengulang formula film 1987 yang dibintangi Arnold Schwarzenegger, ia memperluas definisi cerita Predator melalui Prey, Badlands, dan Killer of Killers.
"Ini bukan sekadar remake, tetapi upaya membangun kembali mitos Sleeping Beauty dengan pendekatan yang lebih gelap dan personal," ujar seorang sumber industri yang mengetahui perkembangan proyek, seperti dikutip Deadline.
Bagi pasar Indonesia, langkah Disney ini berpotensi mengguncang lanskap film keluarga dan fantasi yang selama ini didominasi adaptasi live-action setia. Penonton Tanah Air yang akrab dengan Sleeping Beauty melalui rilis VHS dan Disney+ mungkin akan menyambut interpretasi yang lebih berani. Namun, ada pula risiko: penggemar berat versi klasik bisa merasa alienasi jika perubahan terlalu radikal. Di sisi lain, bioskop Indonesia yang masih dalam fase pemulihan pasca-pandemi amat membutuhkan judul-judul besar dengan daya tarik global. Kehadiran proyek ini—jika terealisasi—bisa menjadi magnet baru, terutama jika Disney memutuskan untuk merilisnya secara serentak di platform streaming dan layar lebar.
Yang perlu dicermati, Trachtenberg belum memberikan pernyataan resmi mengenai visinya. Proyek ini juga belum memiliki jadwal produksi atau tanggal rilis. Jika mengikuti pola Prey yang sukses di Hulu, bukan tidak mungkin Disney akan menempatkan film ini sebagai konten eksklusif Disney+ terlebih dahulu, sebelum nanti diekspansi ke format lain. Bagi industri film nasional, ini bisa menjadi cermin: bagaimana mengolah cerita rakyat atau dongeng lokal dengan pendekatan yang berani dan relevan, tanpa kehilangan identitas.
Apakah Trachtenberg akan menghadirkan Sleeping Beauty yang sama sekali tak terduga, atau justru terjebak dalam bayang-bayang Maleficent? Satu hal yang pasti, Disney tampaknya siap mengambil risiko kreatif yang lebih besar di tengah pasar yang semakin jenuh dengan remake. Kita tunggu saja langkah selanjutnya.



