Blokade Truk Usai, Antrean di Pelabuhan Ketapang Masih 18 Kilometer
Baca dalam 60 detik
- Aksi pemblokiran oleh pengemudi truk di Pelabuhan Ketapang resmi berakhir, namun ekor antrean kendaraan masih mencapai 18 kilometer hingga Senin pagi.
- ASDP mengoperasikan 25 kapal dan menerapkan pemisahan muatan di atas 30 ton ke kapal LCM guna mempercepat pemulihan layanan.
- Antrean ini mengancam kelancaran distribusi logistik jalur Jawa-Bali, menuntut percepatan siklus kapal dan koordinasi lintas instansi.

Antrean kendaraan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, masih membentang hingga 18 kilometer pada Senin (28/9) pagi, dua hari setelah aksi pemblokiran oleh pengemudi truk berakhir. Meski akses pelabuhan telah dibuka kembali, dampak penumpukan kendaraan belum sepenuhnya terurai, terutama di sisi Banyuwangi, sementara arus di Gilimanuk, Bali, dilaporkan sudah lancar.
Manager Humas PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ketapang, Bintang Felfian, mengonfirmasi bahwa unjuk rasa pengemudi truk yang sempat menutup pintu keluar dermaga telah selesai. Namun, ia mengakui antrean masih terjadi secara fluktuatif. "Pantauan terakhir pukul 07.00 WIB, ekor antrean berada di Pasar Wongsorejo, sekitar 18 kilometer," ujarnya. Sebaliknya, di Pelabuhan Gilimanuk tidak ditemukan antrean berarti.
Kemacetan ini menjadi pukulan bagi rantai distribusi logistik rute Jawa-Bali yang mengandalkan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk. Setiap jam keterlambatan berarti biaya tambahan bagi pengusaha angkutan dan potensi kelangkaan barang di pasar Bali. ASDP mencatat bahwa kepadatan kali ini tidak hanya disebabkan oleh sisa blokade, tetapi juga oleh lonjakan volume kendaraan yang tertahan selama aksi berlangsung.
Direktur Utama ASDP Heru Widodo menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah mempercepat normalisasi operasional tanpa mengorbankan keselamatan pelayaran. "Kami mengoptimalkan kapasitas kapal melalui percepatan siklus pelayanan dan pengaturan muatan sesuai karakteristik kapal," kata Heru. Ia juga menyebut bahwa kesepakatan dengan pengemudi truk telah tercapai, sehingga fokus beralih ke pemulihan.
Langkah teknis yang diambil ASDP antara lain memisahkan kendaraan berdasarkan berat muatan. Truk dengan muatan di atas 30 ton diarahkan ke kapal LCM (Landing Craft Mechanized) yang memiliki kapasitas lebih besar, sedangkan muatan di bawah 30 ton menggunakan kapal reguler. General Manager ASDP Cabang Ketapang, Media Syahrianto, menjelaskan bahwa percepatan siklus kapal dilakukan mulai dari proses sandar hingga keberangkatan. "Kuncinya adalah memastikan seluruh kapasitas tersedia digunakan secara optimal," tuturnya.
Meski demikian, pemulihan tidak bisa instan. Antrean 18 kilometer setara dengan ribuan kendaraan yang harus diseberangkan. Dengan 25 kapal yang beroperasi, ASDP memperkirakan butuh waktu beberapa hari untuk kembali ke kondisi normal. Pengamat transportasi menilai bahwa peristiwa ini menyoroti kerentanan jalur logistik utama Jawa-Bali terhadap gangguan eksternal, termasuk aksi protes yang tidak terduga.
Bagi Indonesia, kelancaran penyeberangan Ketapang-Gilimanuk adalah urat nadi ekonomi karena menjadi penghubung utama pasokan barang dari Jawa ke Bali dan Nusa Tenggara. Gangguan di titik ini dapat memicu inflasi lokal dan menghambat sektor pariwisata. Pemerintah daerah dan otoritas pelabuhan perlu mengevaluasi mekanisme penanganan darurat agar kejadian serupa tidak terulang.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah percepatan siklus kapal dan pengaturan muatan cukup untuk mengurai antrean sebelum akhir pekan, atau diperlukan rekayasa lalu lintas tambahan di jalur arteri Banyuwangi. ASDP mengimbau pengguna jasa mematuhi arahan petugas agar proses pemulihan berjalan tertib. Tanpa dukungan semua pihak, antrean panjang bisa kembali terjadi.



