Edukasi Pilah Sampah dari Rumah Menyasar Srengseng Sawah, Jakarta Selatan
Baca dalam 60 detik
- Penyuluh dan relawan menyambangi rumah warga di RW 06 Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, untuk mengajarkan pemilahan sampah.
- Kegiatan ini menjadi uji coba pendekatan berbasis komunitas dalam mengurangi beban sampah perkotaan yang selama ini bergantung pada TPA.
- Keberhasilan program serupa di kawasan lain akan menentukan apakah model ini bisa direplikasi secara luas di DKI Jakarta.

Sejumlah penyuluh bersama warga sukarelawan mendatangi rumah-rumah di RW 06 Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Senin (28/9). Mereka tidak sekadar memberikan imbauan, tetapi juga membagikan wadah pemilahan sampah kepada setiap keluarga yang dikunjungi. Langkah ini menandai upaya awal untuk memindahkan praktik pemilahan dari pusat pengolahan ke dapur rumah tangga.
Pendekatan dari pintu ke pintu ini berbeda dari kampanye massal yang sering dilakukan pemerintah daerah. Alih-alih mengandalkan poster atau spanduk, penyuluh menyapa warga secara langsung dan menjelaskan cara memisahkan sampah organik, anorganik, serta bahan yang masih bisa didaur ulang. Metode tatap muka dinilai lebih efektif untuk mengubah kebiasaan karena warga bisa langsung bertanya dan melihat contoh wadah yang disediakan.
Persoalan sampah di Jakarta memang belum tuntas. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang yang menjadi andalan ibu kota terus menghadapi keterbatasan kapasitas. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah berulang kali mencanangkan target pengurangan sampah dari sumbernya, namun realisasi di lapangan masih jauh dari harapan. Inisiatif di Srengseng Sawah menjadi salah satu titik uji apakah pendekatan komunitas bisa menekan volume sampah yang harus diangkut ke TPA.
Pengamat lingkungan dari Universitas Indonesia, Rina Suryani, menilai bahwa program pemilahan dari rumah hanya akan bertahan jika didukung layanan pengangkutan yang konsisten. "Warga akan kembali mencampur sampah jika melihat truk pengangkut tetap menumpuk semua jenis sampah dalam satu bak," ujarnya ketika dihubungi terpisah. Ia menambahkan bahwa pemerintah perlu menjamin pemisahan berlanjut di hilir, mulai dari tempat penampungan sementara hingga fasilitas daur ulang.
Selain itu, kesinambungan program sangat bergantung pada ketersediaan wadah dan jadwal pengangkutan yang jelas. Tanpa itu, antusiasme warga bisa surut dalam beberapa bulan. Beberapa kelurahan di Jakarta sebelumnya pernah menjalankan program serupa, tetapi tidak sedikit yang berhenti karena keterbatasan anggaran dan koordinasi antarinstansi.
Bagi warga Srengseng Sawah, kehadiran penyuluh setidaknya membuka ruang dialog tentang pengelolaan sampah. Namun, tantangan sesungguhnya ada pada tahap implementasi harian. Apakah wadah yang dibagikan akan digunakan secara konsisten, dan apakah dinas terkait siap mengangkut sampah yang sudah terpilah? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah gerakan ini menjadi model yang bisa diperluas atau sekadar kegiatan seremonial belaka.



