NASA Artemis Watch 2.0: Jam Tangan Coding, Bukan Smartwatch Kesehatan
Baca dalam 60 detik
- CircuitMess merilis Artemis Watch 2.0 seharga $149, sebuah perangkat wearable yang dapat diprogram ulang melalui Python, CircuitBlocks, dan Arduino IDE.
- Berbeda dari smartwatch arus utama, jam ini tidak dilengkapi sensor detak jantung atau oksigen darah, dan hanya mengandalkan akselerometer serta giroskop untuk pelacakan gerakan.
- Daya tahan baterai yang dilaporkan hanya 2โ3 jam menjadikannya alat eksperimen meja, bukan perangkat harian, sehingga lebih cocok untuk edukasi STEM dan proyek hobi.

CircuitMess secara resmi meluncurkan NASA Artemis Watch 2.0, sebuah perangkat wearable seharga $149 yang menyasar pembuat kode, pendidik, dan penggemar antariksa. Jam ini bukan smartwatch konvensional: pengguna dapat menulis dan mengunggah kode sendiri melalui Python, CircuitBlocks, atau Arduino IDE, menjadikannya lebih mirip komputer mini yang dipakai di pergelangan tangan ketimbang pelacak kebugaran.
Perangkat ini terhubung ke ponsel Android dan iPhone via Bluetooth untuk menampilkan notifikasi dan mencatat aktivitas dasar seperti langkah kaki. Namun, tidak ada monitor detak jantung maupun sensor oksigen darah. Ketiadaan fitur kesehatan tersebut menegaskan posisinya sebagai alat eksperimen, bukan perangkat pemantau vital.
Spesifikasi teknisnya mencakup mikrokontroler ESP32-S3 dual-core, akselerometer, giroskop, kompas, sensor suhu, port USB-C, tombol fisik, LED pengguna, buzzer, dan jam waktu nyata. Baterai 600 mAh diklaim hanya bertahan 2โ3 jam, angka yang belum dikonfirmasi resmi oleh CircuitMess. Jika benar, durasi tersebut menuntut pengisian daya sering, sehingga jam ini lebih pas untuk sesi belajar di meja daripada dipakai seharian.
Keunggulan utama terletak pada keterbukaan firmware. Pengguna dapat mengubah tampilan jam, membuat animasi, game sederhana, hingga eksperimen sensor. CircuitBlocks, lingkungan pemrograman berbasis blok dari CircuitMess, memudahkan pemula untuk mulai berkarya. Fleksibilitas ini jarang ditemui pada smartwatch komersial yang mengunci sistem operasinya.
Meski demikian, ada beberapa ketidakpastian. Sumber yang ada saling bertentangan mengenai jenis layarโapakah LCD berwarna penuh atau monokrom. Selain itu, selisih harga antara $149 dan $129 yang disebut dalam liputan sebelumnya belum dijelaskan secara resmi. CircuitMess juga menawarkan paket opsional, seperti kolektor dengan tali tambahan dan kit yang menggabungkan jam dengan proyek rover Mars.
"Bagi pelajar STEM dan penghobi, keterbukaan perangkat ini adalah fitur utamanya. Namun, jika prioritas Anda adalah daya tahan baterai panjang atau pelacakan kesehatan, Artemis Watch 2.0 bukan pilihan yang tepat," demikian catatan redaksi dari sumber yang ada.
Bagi pasar Indonesia, kehadiran perangkat ini membuka peluang bagi komunitas maker dan institusi pendidikan untuk mengadopsi teknologi wearable yang dapat dimodifikasi. Dengan harga sekitar Rp2,3 juta (kurs Rp15.500), perangkat ini menawarkan alternatif bagi sekolah vokasi atau universitas yang ingin mengajarkan IoT dan pemrograman embedded. Namun, distribusi resmi di Indonesia belum jelas, sehingga calon pembeli harus mempertimbangkan biaya impor dan garansi.
Ke depan, apakah CircuitMess akan memperbaiki durasi baterai dan memperjelas spesifikasi layar? Jika tidak, Artemis Watch 2.0 akan tetap menjadi mainan edukasi yang menarik, bukan perangkat wearable untuk konsumen umum.



