Pisang Hasil Rekayasa Genetik Tak Cepat Cokelat, Inggris Siap Meluncurkan ke Rak Supermarket
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan bioteknologi asal Norwich, Tropic, memperoleh lampu hijau dari Defra untuk status precision-bred pada pisang yang tidak mudah menghitam setelah dikupas dan diiris.
- Inovasi ini diklaim mampu memangkas limbah pangan sekaligus menekan emisi karbon hingga lebih dari 25% di sepanjang rantai pasok, dengan potensi pengurangan 9 juta ton CO2 per tahun di pasar ekspor pisang global.
- Meski sudah diakui di 10 negara, pisang ini masih menunggu tinjauan keamanan dari FSA sebelum benar-benar bisa dijual ke konsumen Inggris, dan implikasinya bagi Indonesia sebagai produsen pisang perlu dicermati.

Pisang yang tetap kuning segar meski sudah dikupas dan diiris beberapa jam lamanya kini semakin dekat ke rak supermarket Inggris. Perusahaan agriteknologi Tropic yang berbasis di Norwich mengumumkan bahwa Departemen Lingkungan, Pangan, dan Urusan Pedesaan (Defra) telah menyetujui pemberitahuan pemasaran untuk pisang hasil rekayasa presisi tersebut, menandai terpenuhinya salah satu dari dua syarat utama sebelum produk dilepas ke pasar.
Persetujuan ini menjadi babak baru dalam perdebatan panjang soal rekayasa genetika pada pangan. Berbeda dengan modifikasi genetik konvensional yang menyisipkan DNA dari spesies lain, teknologi penyuntingan gen yang digunakan Tropic—Crispr-Cas9—hanya mengubah gen yang sudah ada di dalam pisang itu sendiri. Badan Standar Pangan Inggris (FSA) menetapkan status precision-bred hanya jika perubahan genetik yang dilakukan bisa dicapai melalui pemuliaan tradisional, sehingga secara regulasi tidak dikategorikan sebagai organisme hasil rekayasa genetika.
Gilad Gershon, CEO Tropic, menjelaskan bahwa daging buah pisang ini mampu menahan proses pencokelatan selama satu hingga dua hari tambahan, dan lebih lama lagi jika disimpan di lemari pendingin. Menurutnya, keunggulan ini membuka peluang lebih besar bagi pisang untuk diolah menjadi produk siap saji seperti salad buah dan sarapan kemasan, sekaligus mengurangi jumlah buah yang terbuang di sepanjang perjalanan dari kebun hingga meja makan.
Proses rekayasa dilakukan dengan menonaktifkan tiga salinan gen tunggal yang bertanggung jawab memproduksi polifenol oksidase, enzim pemicu warna cokelat. Pendekatan serupa sebelumnya berhasil diterapkan pada jamur dan beberapa komoditas lain. Namun, jalan menuju meja makan konsumen Inggris belum sepenuhnya terbuka. Prof Cathie Martin dari John Innes Centre, yang terlibat dalam riset tomat hasil penyuntingan gen, mengingatkan bahwa tahap berikutnya adalah tinjauan keamanan oleh FSA. "Belum sepenuhnya jelas berapa lama proses ini akan berlangsung," ujarnya, memberi sinyal bahwa kepastian waktu masih menjadi ketidakpastian tersendiri.
"Precision breeding menawarkan potensi besar untuk memperkuat ketahanan pangan, mengurangi penggunaan pestisida, meningkatkan hasil panen, dan memperkuat ketahanan terhadap penyakit. Pisang non-browning ini contoh nyata bagaimana inovasi dapat mengurangi limbah pangan dan meningkatkan keberlanjutan sistem pangan kita," demikian pernyataan juru bicara Defra.
Regulasi untuk tanaman hasil pemuliaan presisi sendiri baru berlaku sejak November tahun lalu dan hanya mencakup wilayah Inggris. FSA mencatat bahwa produk pangan presisi yang telah diizinkan di Inggris dapat dijual di Wales dan Skotlandia selama tidak melalui pemrosesan lanjutan, dengan aturan serupa untuk Irlandia Utara. Hingga kini, belum ada satu pun organisme presisi yang benar-benar mendapat otorisasi pasar untuk dijual di Inggris, sehingga pisang ini akan menjadi uji coba penting bagi penerimaan publik dan kesiapan industri.
Bagi Indonesia, perkembangan ini layak disimak karena posisi negara sebagai salah satu produsen pisang terbesar dunia. Jika pisang non-browning ini diterima luas di pasar global, standar kualitas dan daya simpan buah bisa bergeser, terutama untuk pasar ekspor dan industri makanan olahan. Petani dan pelaku usaha lokal yang selama ini mengandalkan varietas konvensional menghadapi pertanyaan besar: apakah mereka akan mengadopsi teknologi serupa, atau tetap bersaing dengan keunggulan rasa dan varietas lokal yang sudah dikenal? Di sisi lain, isu keamanan pangan dan penerimaan konsumen terhadap produk hasil penyuntingan gen tetap menjadi medan pertarungan yang belum selesai, bahkan di negara maju seperti Inggris.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada keputusan FSA dan reaksi pasar Inggris begitu pisang ini benar-benar dijual. Jika sukses, gelombang komoditas presisi lain—mulai dari stroberi yang lebih manis hingga tomat kaya vitamin D—bisa menyusul. Pertanyaannya, apakah konsumen akan menerima buah yang secara genetik "diperbaiki" demi kenyamanan dan keberlanjutan, atau justru memilih kembali ke alam dengan segala ketidaksempurnaannya?



