Brian Chesky: Agen AI Butuh Sistem Operasi Sendiri, Bukan Sekadar Aplikasi
Baca dalam 60 detik
- Airbnb merilis pencarian berbasis AI dalam pembaruan musim gugur, tetapi CEO Brian Chesky menegaskan antarmuka chatbot bukan bentuk final e-commerce perjalanan.
- Chesky menilai industri belum memiliki sistem operasi yang dirancang khusus untuk AI, sehingga agen-agen pintar belum mampu bekerja optimal di platform yang ada.
- Perusahaan berencana meluncurkan agen suara untuk pencarian dan layanan pelanggan pada musim gugur ini, sambil menjajaki antarmuka AI multipemain untuk perencanaan grup.

Airbnb resmi meluncurkan fitur pencarian berbasis kecerdasan buatan dalam pembaruan musim gugurnya pekan ini. Langkah tersebut menandai pergeseran strategi perusahaan yang sebelumnya dikenal berhati-hati dalam mengadopsi AI. Namun, di balik peluncuran itu, CEO sekaligus salah satu pendiri Airbnb, Brian Chesky, menyatakan bahwa bentuk antarmuka saat ini masih jauh dari kata final.
Dalam wawancara jarak jauh, Chesky mengungkapkan bahwa chatbot bukanlah solusi ideal untuk belanja daring, termasuk perjalanan. Menurutnya, percakapan dengan bot menyajikan opsi secara bertahap dan memaksa pengguna melewati banyak giliran sebelum menemukan pilihan yang tepat. Ia justru melihat masa depan antarmuka berada di antara chatbot dan tampilan pencarian yang baru saja dirilis. “Saya sudah lama percaya bahwa chatbot bukan antarmuka yang tepat untuk e-commerce. Apa yang Anda lihat hari ini juga bukan akhir dari segalanya,” ujarnya.
Pandangan Chesky menyoroti perbedaan mendasar antara transaksi cepat dan pengalaman menjelajah. Untuk pemesanan tiket pesawat, pengguna menginginkan kecepatan. Sebaliknya, dalam perjalanan wisata, proses mencari inspirasi dan membayangkan destinasi justru menjadi bagian dari kenikmatan. Studi pariwisata menunjukkan bahwa orang merasakan kepuasan lebih besar saat merencanakan dan menantikan liburan dibandingkan saat liburan itu sendiri berlangsung. Karena itu, menghilangkan elemen penjelajahan berarti mencabut inti dari pengalaman Airbnb.
Masalah kedua yang diidentifikasi Chesky adalah sifat chatbot yang dirancang untuk satu pengguna. Padahal, perjalanan sering kali melibatkan keluarga atau teman. Selama tiga hingga enam bulan ke depan, Airbnb akan mengeksplorasi antarmuka yang memungkinkan AI “multipemain”, di mana beberapa orang dapat berinteraksi dengan agen yang sama secara bersamaan. Eksperimen serupa juga dilakukan startup seperti Monogram dan Wabi yang mengembangkan antarmuka generatif—layar yang dibangun AI secara langsung, bukan hasil desain tetap. Chesky memperkirakan pasar akan melihat campuran antara antarmuka deterministik dan generatif.
Persiapan Airbnb terhadap agen AI konsumen juga menjadi perhatian. Agen seperti Instinct dan Muse yang menjalankan tugas atas nama pengguna membutuhkan infrastruktur perangkat lunak yang kokoh. Chesky ingin Airbnb lebih ramah terhadap agen, bahkan melihatnya sebagai sumber prospek yang baik. Ia membayangkan aplikasi Airbnb kelak menjadi agen itu sendiri, dengan agen terpisah untuk tab jelajah, layanan pelanggan, dan area layanan lain, semuanya saling terhubung melalui standar seperti MCP. “Agen adalah aplikasi yang memiliki wajah. Ketika mereka berbicara satu sama lain, semua aplikasi bisa menjadi interoperable,” katanya.
Namun, Chesky menilai hambatan terbesar industri bukanlah pada kemampuan agen, melainkan ketiadaan sistem operasi yang benar-benar dirancang untuk AI. Saat ini, pengembang membangun aplikasi AI di atas iOS, macOS, atau Windows—platform yang bukan sistem operasi AI. Ia berpendapat idealnya AI beroperasi di tingkat kernel, tempat semua komponen seperti agen dapat berinteraksi. Persaingan saat ini, menurutnya, adalah menjadi “quarterback” atau agen utama yang digunakan pengguna untuk segala hal. Upaya ChatGPT membangun toko aplikasi dinilai gagal karena tidak menyediakan kit pengembang perangkat lunak dan sistem operasi yang setara dengan App Store. “Saya sudah menggunakan Airbnb di Muse dan Instinct. Tidak berjalan baik. Bahkan hotel pun tidak terlalu baik, dan Airbnb lebih buruk. Jadi AI konsumen belum terpecahkan,” tegasnya.
Chesky juga menyoroti dua kesalahpahaman di Silicon Valley: pertama, anggapan bahwa antarmuka akan hilang dan orang hanya akan berbicara atau mengetik; kedua, keyakinan bahwa perangkat lunak akan sepenuhnya generatif. Menurutnya, desainer dapat memberikan perintah yang lebih baik daripada konsumen biasa. Selama iPhone masih dominan dan Apple serta Google menguasai platform utama, aplikasi akan tetap menjadi pusat. “Terserah Apple, Google, atau pihak lain untuk membangun platform baru agar kita benar-benar beralih dari aplikasi ke agen. Jika tidak, kita hanya akan memiliki aplikasi yang berisi agen di dalamnya, bukan aplikasi yang seluruhnya menjadi agen tangguh,” ujarnya.
Menjelang penutup, Chesky menyoroti peran suara. Ia memperkirakan orang akan lebih banyak berbicara kepada komputer daripada mengetik. Suara akan menjadi kunci untuk pencarian dan layanan pelanggan Airbnb, dan perusahaan berencana merilis agen suara pada musim gugur ini. Di sisi internal, AI telah mempercepat pengiriman fitur dan mengurangi lapisan komunikasi. “Salah satu tugas saya sebagai CEO adalah mendapatkan informasi. Dulu saya mengumpulkannya lewat rapat. Sekarang saya bisa bertanya ke AI dan tidak perlu rapat sebanyak dulu,” tuturnya.
Bagi pasar Indonesia, pergeseran ini dapat memengaruhi cara platform lokal mengembangkan layanan. Agen AI yang mampu memahami konteks lokal, bahasa daerah, dan preferensi wisatawan nusantara berpotensi menjadi pembeda. Namun, tanpa sistem operasi yang mendukung, adopsi bisa tersendat. Pertanyaannya, akankah pemain global seperti Apple atau Google segera menyediakan fondasi yang dibutuhkan, atau justru startup di Asia yang lebih dulu menawarkan solusi sistem operasi AI yang inklusif?



