Rebranding AI ala Trump Picu Lonjakan 2.100% Domain .si Slovenia
Baca dalam 60 detik
- Pendaftaran domain .si di Slovenia melonjak dari kurang dari 2.000 pada Agustus menjadi 44.000 pada September, dipicu imbauan Trump untuk mengganti istilah AI menjadi SI.
- Fenomena ini memunculkan spekulasi cybersquatting, di mana investor memburu nama domain bernilai jual tinggi di masa depan.
- Kebijakan Trump berpotensi mengubah lanskap digital global, dengan implikasi bagi Indonesia yang perlu mengantisipasi pergeseran terminologi teknologi.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggagas penggantian istilah kecerdasan buatan (AI) menjadi kecerdasan super (SI). Imbauan itu disampaikan dalam pidatonya di Sidang Umum PBB, New York, 11 September lalu. Dampaknya tak terduga: pendaftaran nama domain dengan akhiran .si—kode negara Slovenia—melonjak tajam. Menurut registry nasional Slovenia, Register.si, lonjakan ini disebut "belum pernah terjadi sebelumnya".
Juru bicara Register.si, Klara Herman, mengungkapkan bahwa sepanjang September tercatat 44.000 alamat web berakhiran .si terdaftar. Angka itu melesat lebih dari 2.100% dibandingkan Agustus yang hanya kurang dari 2.000 pendaftaran. Pada 30 September saja, 11.000 pendaftaran baru tercatat. "Skala aktivitasnya sangat menonjol dibandingkan bulan-bulan lain sepanjang tahun," ujar Herman, seraya tetap berhati-hati menyimpulkan bahwa lonjakan ini murni akibat pernyataan Trump.
Pemicu utamanya adalah pernyataan Trump yang menilai kata "artificial" atau artifisial membuat teknologi terdengar palsu. "Kata artificial membuatnya terdengar tidak nyata. Padahal itu luar biasa. Kita harus berhati-hati... selamat datang di dunia baru kecerdasan super," ucapnya. Ia kemudian menandatangani perintah eksekutif yang menginstruksikan departemen dan lembaga pemerintah AS untuk mulai menggunakan istilah "SI" dan "Super Intelligence", serta tidak lagi mengakui penggunaan istilah AI dalam korespondensi resmi, situs web, laporan, dan komunikasi lainnya.
Fenomena ini memicu spekulasi praktik cybersquatting, yakni pembelian nama domain secara spekulatif untuk dijual kembali dengan harga lebih tinggi. Contoh klasik adalah Rick Schwartz, yang dijuluki "The Domain King", membeli men.com seharga US$15.000 pada 1997 dan menjualnya tujuh tahun kemudian seharga US$1,32 juta. Pola serupa mungkin terjadi pada domain .si yang dianggap punya potensi nilai di masa depan.
"Penggunaan kata artificial membuatnya terdengar palsu. Itu tidak palsu, itu luar biasa. Tapi kita harus berhati-hati... selamat datang di dunia baru kecerdasan super." — Donald Trump
Di sisi lain, kebijakan ini menuai kritik. Gambar tanda tangan perintah eksekutif yang diunggah daring menjadi bahan olok-olok setelah ditemukan kesalahan penulisan "United States" di bawah tanda tangan Trump. Meski demikian, Gedung Putih tetap pada pendiriannya bahwa terminologi baru akan segera diterapkan di seluruh instansi pemerintah.
Perubahan istilah ini bukan sekadar urusan semantik. Bagi Indonesia, langkah AS dapat memengaruhi cara industri teknologi nasional berkomunikasi dengan mitra global. Jika istilah SI mulai diadopsi secara luas, pelaku usaha rintisan, akademisi, dan pembuat kebijakan di dalam negeri perlu menyesuaikan diri agar tidak tertinggal dalam percakapan internasional. Selain itu, fenomena domain .si menunjukkan bagaimana kebijakan di satu negara bisa berdampak langsung pada pasar digital negara lain—sebuah peringatan bahwa ekonomi internet sangat terhubung dan rentan terhadap kejutan kebijakan.
Ke depan, apakah lonjakan domain .si akan berlanjut atau hanya gelembung sesaat? Jika pemerintah AS konsisten menggunakan SI, permintaan global terhadap domain dengan akhiran tersebut bisa terus meningkat. Namun, tanpa adopsi luas dari negara lain, euforia ini mungkin mereda. Yang jelas, langkah Trump telah menciptakan preseden: kebijakan teknologi tidak lagi hanya soal inovasi, tetapi juga soal branding dan pengaruh geopolitik.



