Bayern Munich Incar Pickford, Masa Depan Kinnear di Everton Dipertaruhkan
Baca dalam 60 detik
- Bayern Munich dikabarkan menargetkan Jordan Pickford sebagai pengganti Manuel Neuer yang kontraknya habis akhir musim.
- Penjualan Pickford akan memperburuk kekecewaan fans Everton terhadap Direktur Teknis Angus Kinnear yang dinilai gagal di bursa transfer.
- Jika Pickford pergi, posisi Kinnear terancam, sementara Everton kehilangan kiper utama dan simbol tim.

Everton menghadapi tekanan besar setelah muncul laporan bahwa Bayern Munich berminat merekrut kiper utama mereka, Jordan Pickford, sebagai penerus Manuel Neuer. Menurut jurnalis Alan Nixon, Bayern menganggap Pickford sebagai sosok ideal untuk mengisi posisi yang akan ditinggalkan Neuer, yang kontraknya berakhir musim panas mendatang.
Kabar ini mencuat di tengah ketidakpuasan suporter terhadap kinerja Direktur Teknis Angus Kinnear. Jendela transfer musim panas lalu dinilai buruk: Everton melepas Iliman Ndiaye ke Manchester City dengan harga ยฃ65 juta dan menjual Beto, tetapi gagal mendatangkan pengganti yang sepadan. Nama-nama seperti Richarlison, Folarin Balogun, dan Joshua Zirkzee sempat dikaitkan, namun tak satu pun terealisasi.
Akibatnya, skuad Everton menipis dan kualitas menurun. Meski manajer David Moyes mampu membawa tim tampil kompetitif di awal musim, kedalaman tim menjadi masalah serius dalam upaya menembus kompetisi Eropa. Kekecewaan fans memuncak, dan mereka menuntut pertanggungjawaban manajemen.
Pickford bukan sekadar kiper biasa bagi Everton. Sejak bergabung pada 2017, ia telah menjadi pilar utama dan salah satu penjaga gawang terbaik di era modern klub. Penampilannya bersama timnas Inggris juga membuatnya dicintai publik sepak bola nasional. Kehilangannya akan menjadi pukulan telak, baik dari segi teknis maupun simbolis.
"Pickford adalah nyawa tim ini. Menjualnya sama saja dengan mengkhianati ambisi klub," tulis Football FanCast dalam analisisnya.
Jika Pickford dijual, terutama ke Bayern, kemarahan suporter dipastikan meledak. Kinnear, yang sudah berada di bawah tekanan, bisa kehilangan kepercayaan sepenuhnya. Bahkan, menjual Pickford pada 2027 akan dianggap lebih fatal daripada penjualan Ndiaye tahun ini. Sebaliknya, mempertahankan Pickford hingga 2029 tidak hanya menjaga stabilitas tim, tetapi juga membuka peluang bagi kiper berusia 30 tahun itu menorehkan rekor penampilan terbanyak untuk Everton di Premier League.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, saga ini menjadi cerminan bagaimana klub-klub Liga Primer Inggris kian bergantung pada keputusan direktur teknik. Everton, yang tengah membangun stadion baru di Bramley-Moore Dock, butuh stabilitas performa untuk meningkatkan pendapatan komersial dan daya tarik global. Jika Pickford pergi, daya saing Everton di pasar Asia, termasuk Indonesia, bisa tergerus. Apalagi, kiper timnas Inggris selalu menjadi magnet bagi penggemar di kawasan ini.
Keputusan akhir ada di tangan manajemen Everton. Akankah mereka menolak tawaran Bayern dan mempertahankan Pickford, atau justru menguangkan aset berharga demi neraca keuangan? Jawabannya akan menentukan arah klub dan nasib Kinnear di kursi direktur teknik.



