Siemens Healthineers Luncurkan Accela, Radioterapi 60 Detik yang Bisa Ubah Respons Biologis Kanker
Baca dalam 60 detik
- Siemens Healthineers resmi merilis Accela, sistem radioterapi yang mampu menyelesaikan terapi radiasi stereotaktik multi-target hanya dalam satu menit.
- Platform NeoArc yang mendasarinya menggabungkan panel CT cone-beam, kolimator multi-leaf baru, dan laju dosis hingga 40 Gy/menit, serta didukung perencanaan berbasis AI.
- Peluncuran ini berpotensi mengubah lanskap perawatan kanker global, termasuk di Indonesia yang masih menghadapi keterbatasan alat dan tenaga medis.

Siemens Healthineers memperkenalkan sistem radioterapi terbarunya, Accela, pada Senin (10/3/2025). Perangkat ini diklaim mampu menuntaskan stereotactic body radiation therapy (SBRT) multi-target hanya dalam waktu 60 detik dan memungkinkan perawatan stereotaktik dengan sekali tahan napas. Langkah ini menandai babak baru dalam terapi radiasi yang selama ini identik dengan durasi panjang dan kompleksitas tinggi.
Accela merupakan solusi radioterapi pertama yang dibangun di atas platform anyar bernama NeoArc. Di dalamnya terdapat panel pencitraan CT cone-beam, kolimator multi-leaf yang didesain ulang, gantry yang berputar pada kecepatan 2,5 RPM, serta laju dosis hingga 40 Gy/menit. Siemens juga menyematkan pengaturan energi flattening filter-free delapan megavolt yang baru. Perangkat lunak perencanaannya memanfaatkan kecerdasan buatan dan algoritma yang memungkinkan dokter menimbang kualitas rencana terapi terhadap kecepatan penyinaran.
"Accela adalah lompatan yang jarang terjadi di bidang kami," ujar Dee Khuntia, Chief Medical Officer Varian, unit bisnis perawatan kanker Siemens Healthineers, dalam keterangan resminya. Ia menekankan bahwa sistem ini tidak sekadar lebih cepat, tetapi dibangun di atas arsitektur modern yang memperkenalkan pergeseran generasi dalam perencanaan terapi. "Yang paling menggairahkan adalah potensinya mengubah respons biologis terhadap radioterapi. Itu bukan kemajuan bertahap, melainkan babak baru," tambahnya.
Arthur Kaindl, Head of Varian, menyatakan bahwa peluncuran ini bertumpu pada fondasi yang dibangun selama puluhan tahun: bisnis pencitraan global, basis instalasi onkologi radiasi, perangkat lunak dan AI yang matang, serta hubungan klinis jangka panjang. Pengembangan Accela dan NeoArc sendiri melibatkan kelompok penasihat dari sejumlah institusi riset kanker terkemuka, seperti Mayo Clinic, Washington University School of Medicine di St. Louis dan Siteman Cancer Center, University Hospital Zurich, Seidman Cancer Center di University Hospitals Cleveland Medical Center, Maastro โ Maastricht Radiation Oncology Institute, Mass General Brigham Cancer Center, dan Memorial Sloan Kettering Cancer Center.
Siemens Healthineers menegaskan bahwa sistem ini dirancang untuk menjawab tantangan sistem kesehatan, termasuk beban kanker yang terus meningkat, permintaan perawatan yang semakin kompleks, dan keterbatasan staf medis. Perusahaan yang tercatat di Bursa Frankfurt dengan ticker SHL ini beroperasi di lebih dari 180 negara. Pada fiskal 2025 yang berakhir 30 September 2025, mereka melaporkan sekitar 74.000 karyawan dan pendapatan sekitar โฌ23,4 miliar.
Bagi Indonesia, kehadiran Accela membuka peluang sekaligus tantangan. Kementerian Kesehatan mencatat prevalensi kanker terus naik, sementara jumlah mesin radioterapi masih terbatas dan tidak merata. Jika teknologi ini masuk ke pasar domestik, rumah sakit besar di kota-kota utama bisa menawarkan perawatan presisi tinggi dengan waktu tunggu lebih singkat. Namun, harga investasi dan kebutuhan sumber daya manusia terlatih menjadi penghalang utama. Regulasi impor alat kesehatan dan kesiapan infrastruktur listrik juga perlu diperhitungkan.
Di tingkat global, langkah Siemens ini mempertegas persaingan di industri radioterapi yang selama ini didominasi oleh beberapa pemain besar. Elekta dan Varian sendiri (yang kini berada di bawah Siemens) terus berlomba menghadirkan solusi yang lebih cepat, lebih cerdas, dan lebih personal. Kehadiran AI dalam perencanaan terapi menjadi pembeda, karena memungkinkan dokter memangkas waktu persiapan tanpa mengorbankan akurasi. Namun, pertanyaan etis dan klinis tetap muncul: sejauh mana AI dapat diandalkan untuk mengambil keputusan yang menyangkut nyawa pasien?
Dengan target penyinaran 60 detik, Accela berpotensi mengubah alur kerja unit radioterapi. Pasien tidak perlu berbaring lama, risiko pergerakan organ akibat napas dapat ditekan, dan kapasitas harian mesin meningkat. Efeknya, antrean pasien yang selama ini menjadi momok di banyak negara berkembang bisa berkurang. Meski demikian, validasi klinis jangka panjang dan kesiapan adopsi di tiap negara akan menentukan seberapa cepat teknologi ini benar-benar menyentuh pasien.
Pertanyaannya kini: akankah rumah sakit di Indonesia mampu mengadopsi terapi radiasi generasi baru ini, atau justru semakin tertinggal dalam perlombaan onkologi presisi?



