Amanda Holden dan 20 Tahun Britain's Got Talent: Panggung yang Tak Pernah Usai
Baca dalam 60 detik
- Amanda Holden menandai dua dekade sebagai juri Britain's Got Talent, mengaku tak menyangka bisa bertahan selama itu.
- Ia menyoroti pergeseran audisi dari kamar tidur ke media sosial, namun menilai acara tetap menjadi tontonan keluarga.
- Holden menegaskan tak berencana pensiun dan mengapresiasi kepercayaan Simon Cowell terhadapnya.

Amanda Holden merayakan 20 tahun keterlibatannya sebagai juri dalam ajang pencarian bakat ITV, Britain's Got Talent. Sejak pertama kali bergabung pada 2007, ia mengaku masih terkejut dengan daya tahan kariernya di program tersebut. "Saya tidak percaya masih ada di sana. Putri saya berusia 20 tahun, dan saya melihatnya sebagai cerminan usia saya. Bisa bertahan 20 tahun di acara ini sungguh luar biasa," ujarnya kepada Digital Spy.
Holden menyoroti transformasi besar yang dialami Britain's Got Talent selama dua dekade terakhir. Jika dulu audisi banyak dilakukan dari kamar tidur, kini media sosial menjadi jalur utama menemukan bakat. Meski demikian, ia menilai esensi acara tidak berubah: tontonan yang dinikmati bersama keluarga. "Kami benar-benar mengubah hidup orang. Anda tidak harus menang untuk merasakan dampaknya," tambahnya.
Dalam wawancara tersebut, Holden juga menyampaikan terima kasih kepada Simon Cowell, pencipta acara, yang dinilainya terus memberikan kepercayaan. "Simon sangat luar biasa karena telah mempertahankan saya. Saya juga harus menjaga relevansi diri," katanya. Ia menambahkan bahwa pengalamannya di berbagai lini industri hiburan—panggung, film, televisi, dan radio—membantunya bertahan. "Satu-satunya yang belum saya lakukan adalah film Bollywood. Itu ada dalam daftar," candanya.
"Saya selalu jujur. Saya telah menjadi bagian dari semua aspek industri. Saya sudah melakukan panggung, film, TV, radio. Hanya film Bollywood yang belum. Saya perlu mencentangnya dari daftar," ujar Holden.
Meski telah mencapai banyak hal, Holden menegaskan tidak berniat memperlambat karier. Ketika ditanya tentang pensiun, ia menjawab, "Saya mengambil libur musim panas. Tapi saya tidak pandai beristirahat. Saya membersihkan piring orang sebelum mereka selesai makan. Saya merapikan. Saya tidak bisa duduk diam. Keluarga saya sering menggodaku karena itu."
Bagi industri hiburan Indonesia, kisah Holden menjadi cermin tentang pentingnya adaptasi dan relevansi jangka panjang. Program televisi di Tanah Air juga menghadapi tantangan serupa: bagaimana mempertahankan pemirsa di tengah gempuran platform digital dan perubahan perilaku menonton. Keberhasilan Britain's Got Talent tidak lepas dari kemampuan berinovasi tanpa kehilangan identitas. Holden sendiri membuktikan bahwa sosok juri yang konsisten dan jujur dapat menjadi wajah yang melekat pada sebuah acara.
Ke depan, apakah Britain's Got Talent akan terus mempertahankan formula yang sama, atau akankah perubahan lanskap media memaksa mereka beradaptasi lebih radikal? Yang jelas, bagi Holden, panggung itu masih menjadi rumah kedua yang sulit ditinggalkan.



