Bareskrim Bongkar Jaringan Etomidate Malaysia-Indonesia, 5 Kg Diselundupkan dalam Sepatu
Baca dalam 60 detik
- Bareskrim Polri menangkap lima WN Malaysia dan seorang sopir asal Bandung yang diduga menyelundupkan 5 kg etomidate dalam sepatu.
- Pengungkapan kasus ini membuka tabir operasi narkotika lintas negara yang memanfaatkan modus unik dan jaringan komunikasi terenkripsi.
- Penyidik tengah mendalami peran aktor intelektual dan kemungkinan keterkaitan dengan sindikat internasional yang lebih luas.

Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri menggagalkan upaya penyelundupan narkotika jenis etomidate seberat 5 kilogram yang disamarkan di dalam sepatu. Lima warga negara Malaysia ditangkap bersama seorang pria asal Bandung yang berperan sebagai sopir, dalam operasi yang berlangsung sejak Jumat (25/9) hingga Minggu (27/9).
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim, Irjen Eko Hadi Santoso, mengungkapkan bahwa kelima WN Malaysia tersebut adalah Mohamad Zulhusni (49), Nur Aisyah (25), Emmanuel (24), Prince Alvin Robin (22), dan Muhammad Adam (21). Mereka tiba dari Kuala Lumpur menggunakan penerbangan AirAsia QZ201 dan membawa 10 bungkus serbuk etomidate dengan berat bruto total 5 kg. Barang haram itu disembunyikan di bagian insole sepatu.
Penangkapan bermula dari informasi Bea dan Cukai Soekarno-Hatta yang mengamankan kelima pelaku. Dari pemeriksaan awal, mereka mengaku diperintah seorang perempuan yang dipanggil "Madam" untuk membawa etomidate dari Malaysia ke Indonesia. Setibanya di Jakarta, mereka diarahkan melalui aplikasi Telegram menuju sebuah hotel di kawasan Harmoni untuk menyerahkan koper merah berisi sepatu-sepatu tersebut kepada pria berinisial Wu Song.
Penyidik kemudian menangkap Wu Song dan menemukan kunci apartemen di Mediterania Marina Residence. Penggeledahan apartemen itu mengungkap apa yang diduga sebagai laboratorium clandestine pembuatan etomidate. Di lokasi tersebut, petugas menyita 16 jerigen berisi cairan perasa, 21 ribu pods vape kosong, 15 ribu silicon caps pods, 800 pipet plastik, serta ribuan kemasan pods dengan berbagai rasa seperti Cantaloupe, Grape, Lychee, Mango, dan Pineapple.
Wu Song mengaku telah berada di Indonesia sejak 19 September 2026 dan menerima instruksi melalui grup komunikasi terenkripsi "SIGNAL" untuk mencatat stok barang. Pada 25 September, ia diperintah mengambil koper berisi etomidate di area hotel Harmoni. Hingga berita ini diturunkan, penyidik masih mendalami peran Madam dan kemungkinan jaringan yang lebih luas.
"Mereka berperan sebagai kurir," ujar Eko dalam keterangan tertulis, Senin (28/9).
Kasus ini mencuatkan kekhawatiran baru bagi Indonesia. Etomidate, yang biasanya digunakan sebagai obat bius di dunia medis, kini disalahgunakan sebagai bahan campuran liquid vape. Modus penyelundupan melalui sepatu dan keterlibatan jaringan lintas negara menunjukkan bahwa sindikat narkotika terus berinovasi mencari celah. Pengungkapan ini juga menjadi peringatan bahwa peredaran narkotika jenis baru (new psychoactive substances) semakin marak dan menyasar generasi muda melalui produk vape.
Bagi Indonesia, kasus ini mempertegas perlunya penguatan pengawasan di bandara dan pelabuhan, terutama terhadap barang bawaan penumpang dari negara tetangga. Kerja sama dengan Malaysia dan negara ASEAN lainnya menjadi krusial untuk membongkar jaringan Madam dan Wu Song. Selain itu, maraknya pods vape yang disita mengindikasikan bahwa pasar gelap narkotika mulai merambah ke produk gaya hidup yang sulit dideteksi.
Ke depan, penyidik dituntut mengungkap aktor intelektual di balik operasi ini. Apakah Madam dan Wu Song hanya bagian dari sindikat yang lebih besar? Bagaimana pula pengawasan terhadap peredaran etomidate di fasilitas kesehatan agar tidak disalahgunakan? Publik menanti langkah tegas aparat untuk memutus rantai peredaran narkotika yang terus mengintai.



