Kritik Pedas Buxton: Diamnya Pembalap F1 saat Fans Melakukan Abuse Dinilai sebagai Bentuk Persetujuan
Baca dalam 60 detik
- Will Buxton menilai pembalap yang tidak mengecam serangan daring dari penggemarnya turut bertanggung jawab atas perilaku tersebut.
- Insiden Azerbaijan Grand Prix 2025 memicu gelombang kebencian daring terhadap Franco Colapinto dan Lando Norris.
- Pola serupa pernah terjadi pada Sergio Perez, Lewis Hamilton, dan Nicholas Latifi, menunjukkan masalah sistemik di komunitas F1.

Komentator Formula 1 Will Buxton melontarkan kritik tajam terhadap para pembalap yang dinilainya abai dalam menindak perilaku buruk penggemar mereka di media sosial. Dalam podcast Up To Speed, Buxton menyatakan bahwa sikap diam para pembalap terhadap serangan daring yang dilakukan pendukungnya menjadikan mereka bagian dari persoalan itu sendiri.
Pernyataan ini muncul setelah insiden di Azerbaijan Grand Prix 2025. Lando Norris, yang saat itu memimpin klasemen, melontarkan komentar emosional seusai balapan. Norris menyebut sejumlah pembalap "tidak layak berada di F1" dan menuntut sanksi larangan balapan untuk Franco Colapinto. Komentar tersebut memicu reaksi keras dari basis penggemar Argentina yang dikenal vokal, yang kemudian melampiaskan kemarahan secara daring. Norris pun menerima banjir pesan kebencian sebelum akhirnya meminta maaf.
Buxton menegaskan bahwa tanggung jawab untuk menghentikan budaya intimidasi daring tidak bisa hanya dibebankan kepada penyelenggara atau platform media sosial. Menurutnya, setiap figur publik, terutama atlet, memiliki kewajiban moral untuk mengoreksi perilaku penggemarnya. "Adalah kewajiban mereka untuk menyerukan hal itu," ujarnya, seraya menambahkan bahwa pembalap tidak bisa berlindung di balik alasan bahwa mereka tidak mengontrol tindakan penggemar.
Buxton juga menyoroti bahwa masalah ini bukan hal baru. Ia mengenang bagaimana penggemar Sergio Perez kerap melontarkan serangan serupa, dan bagaimana pendukung Lewis Hamilton melampiaskan kemarahan setelah Abu Dhabi 2021. Buxton bahkan mengaku menerima pesan-pesan menjijikkan selama musim dingin tahun itu, sementara Nicholas Latifi mendapat ancaman pembunuhan. "Ini sudah menjadi kejadian rutin," tegasnya.
"Jika Anda benar-benar ingin orang percaya bahwa Anda ingin mengakhiri ini, maka Anda harus mengambil sikap. Diam adalah bentuk persetujuan," kata Buxton.
Pernyataan Buxton memantik diskusi lebih luas tentang budaya penggemar di dunia olahraga, khususnya F1 yang semakin global dan terhubung melalui media sosial. Para pembalap sering kali menjadi sasaran sekaligus sumber provokasi, terutama ketika emosi memuncak usai balapan. Namun, menurut Buxton, para pembalap tidak bisa lepas tangan begitu saja. Mereka memiliki platform dan pengaruh untuk meredam ketegangan, bukan malah memperkeruh suasana.
Dalam konteks Indonesia, fenomena serupa juga kerap terjadi di dunia maya. Penggemar tim atau atlet tertentu sering melancarkan serangan verbal terhadap rival, wasit, atau bahkan sesama pendukung. Meski tidak selalu berujung pada ancaman fisik, dampak psikologisnya bisa serius. Kasus ini menjadi cermin bahwa edukasi literasi digital dan sportivitas masih menjadi pekerjaan rumah besar, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di panggung global.
Ke depan, muncul pertanyaan apakah FIA atau penyelenggara F1 akan mengambil langkah lebih tegas, misalnya dengan mewajibkan pembalap untuk secara aktif mengampanyekan anti-intimidasi. Atau akankah seruan Buxton hanya menjadi angin lalu hingga insiden berikutnya terjadi? Yang jelas, tekanan publik terhadap para bintang balap untuk bertindak lebih dari sekadar meminta maaf semakin besar.



