Trump Pertimbangkan Larangan Ekspor Diesel, Harga BBM Global Terancam Melonjak
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan secara serius pelarangan ekspor diesel untuk menekan harga bahan bakar domestik yang melonjak menjelang pemilu sela November.
- Langkah ini dikhawatirkan para analis justru memicu kenaikan harga diesel global dan berbalik menaikkan harga bensin di AS karena penyesuaian operasi kilang.
- Eropa menjadi wilayah paling rentan karena sekitar separuh impor dieselnya berasal dari AS, sementara pasokan dari Rusia dan Timur Tengah masih terganggu.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan bahwa Gedung Putih masih menimbang secara serius untuk melarang ekspor diesel. Pernyataan itu muncul di tengah tekanan politik yang meningkat menjelang pemilihan sela November, ketika harga bahan bakar di dalam negeri terus meroket dan menjadi sorotan publik.
"Kami sedang memikirkannya dengan sangat serius," ujar Trump kepada reporter Fox News pada Minggu (27/9/2026) saat menghadiri turnamen golf Presidents Cup di Illinois. Ia menambahkan bahwa kebijakan semacam itu "seringkali dapat menyebabkan sedikit kenaikan pada bensin untuk mobil," sehingga pemerintah masih mengkaji opsi tersebut secara hati-hati. Trump sebelumnya telah menyatakan dukungan terhadap gagasan larangan ekspor ketika harga diesel ritel mencetak rekor baru, dan mengatakan keputusan akan diambil cepat "satu arah atau lainnya."
Menteri Energi AS Chris Wright menyebut Gedung Putih sedang mempertimbangkan pembatasan, bukan larangan total. Sementara itu, Politico melaporkan pekan lalu bahwa administrasi Trump tengah menyiapkan rencana untuk melarang ekspor diesel selama 90 hari. Wacana ini langsung menuai penolakan keras dari industri energi AS, yang menilai kebijakan tersebut berpotensi memperburuk krisis bahan bakar global alih-alih meredakannya.
Harga diesel melonjak akibat ketegangan antara AS dan Iran, serta konflik Rusia-Ukraina yang mengganggu jalur perdagangan minyak dan bahan bakar. Dalam catatan risetnya, strateg komoditas Morgan Stanley menilai pembatasan ekspor dari AS—yang selama ini menjadi sumber pasokan diesel marginal penting di tengah berkurangnya aliran dari Rusia dan Timur Tengah—mungkin awalnya akan menurunkan harga diesel domestik, "tetapi dengan reaksi berantai yang berpotensi merugikan." Mereka memperingatkan bahwa harga diesel global akan lebih tinggi, dan hal itu dapat berbalik menekan harga bensin AS karena kilang menyesuaikan operasi.
Benedict George, kepala penetapan harga produk Eropa di Argus Media, mengatakan pembatasan ekspor diesel AS dalam bentuk apa pun kemungkinan akan mendorong harga diesel Eropa dan premi terhadap minyak mentah "ke level baru yang belum pernah terjadi sebelumnya." Ia menekankan bahwa belum ada keputusan resmi dan masih sangat tidak jelas apakah kebijakan akan diambil. "Ketika berbicara dengan pedagang minyak di Eropa, jelas bahwa mereka sebagian besar meragukan AS akan membatasi ekspor diesel, mengingat betapa sulitnya langkah itu bagi perusahaan minyak AS," ujarnya kepada CNBC.
"Membatasi ekspor energi AS hanya akan memperparah masalah—memperburuk tantangan kilang dan pada akhirnya merugikan konsumen. Jawabannya adalah lebih banyak pasokan dan lebih banyak fleksibilitas, bukan pembatasan baru yang berisiko memperburuk situasi sulit." — Mike Sommers, CEO American Petroleum Institute (API)
Di dalam negeri AS, lonjakan harga diesel telah menambah beban finansial bagi petani, pekerja pertanian, pengemudi, dan rumah tangga. Kelompok lobi minyak API termasuk yang paling vokal menentang wacana larangan ekspor. CEO API Mike Sommers menegaskan bahwa pembatasan ekspor energi hanya akan memperburuk tantangan kilang dan merugikan konsumen. Ia menyerukan pasokan dan fleksibilitas yang lebih besar, bukan pembatasan baru.
Trump sebelumnya juga mendesak Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk menghentikan serangan terhadap kilang minyak Rusia, dengan alasan serangan itu "merugikan dunia" karena gangguan pasokan bahan bakar terus menopang harga diesel AS. Ukraina, yang khawatir menghadapi musim dingin sangat sulit akibat potensi serangan Rusia terhadap infrastruktur energinya, menganggap kilang minyak Rusia sebagai target militer yang sah. George dari Argus menilai serangan Ukraina terhadap kilang Rusia telah menambah lapisan baru dalam krisis pasokan global, menjadikan diesel "masalah terbesar bagi sistem minyak global, padahal sebelumnya hanya salah satu dari beberapa masalah besar."
Ketika ditanya tentang prospek krisis pasokan diesel global, George mengatakan ketidakpastiannya begitu ekstrem sehingga sebagian pedagang menyerah membuat perkiraan. "Seorang pedagang berkata kepada saya baru-baru ini bahwa ia tidak repot-repot mencoba meramalkan sekarang karena terasa sia-sia. Anda benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi," ujarnya. Ia memperkirakan jika AS memberlakukan pembatasan, durasinya kemungkinan hanya jangka pendek, paling lama dua atau tiga bulan. Namun untuk konflik Rusia-Ukraina, ia menegaskan tidak ada yang tahu kapan akan berakhir, dan hal serupa berlaku untuk semi-penutupan Selat Hormuz.
Bagi Indonesia, kebijakan ini dapat berdampak tidak langsung pada harga bahan bakar dan biaya logistik. Sebagai importir minyak, Indonesia rentan terhadap gejolak harga diesel global yang dapat mendorong inflasi energi dan menekan anggaran subsidi. Pemerintah perlu mencermati dinamika ini, terutama jika larangan ekspor AS benar-benar diberlakukan dan memicu lonjakan harga di pasar Asia. Selain itu, ketegangan geopolitik yang berlarut-larut dapat mengganggu rantai pasok energi regional, memaksa Indonesia mempercepat diversifikasi sumber impor dan memperkuat ketahanan energi domestik.
Pertanyaannya kini, apakah Gedung Putih akan benar-benar menempuh kebijakan berisiko tinggi ini menjelang pemilu, atau memilih langkah pembatasan yang lebih terbatas? Keputusan apa pun akan berdampak besar tidak hanya bagi konsumen AS, tetapi juga bagi stabilitas pasar energi global, termasuk negara-negara berkembang seperti Indonesia.



