Harga Minyak Melonjak: Brent Tembus $107 Usai Trump Tolak Tawaran Damai Iran
Baca dalam 60 detik
- Brent melonjak hampir 3% ke $107,34 dan WTI naik 1,87% ke $94,14 setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal damai Iran.
- Penolakan itu memicu spekulasi serangan AS akan berlanjut pasca pemilu sela November, sementara Iran menawarkan pembukaan Selat Hormuz dengan syarat.
- Bagi Indonesia, ketegangan ini mengancam stabilitas harga BBM dan inflasi, terutama jika pasokan minyak global terganggu.

Harga minyak mentah dunia melonjak pada perdagangan Asia, Senin (28/9/2026), setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal damai Iran yang bertujuan mengakhiri konflik Timur Tengah dan membuka kembali Selat Hormuz. Brent crude—acuan internasional—menembus level $107,34 per barel, naik 2,89%, sementara minyak mentah AS (WTI) untuk pengiriman November menguat 1,87% menjadi $94,14 per barel pada pukul 02.23 waktu ET.
Penolakan Trump diungkapkan setelah ia menerima tawaran bersyarat dari Teheran. Menurut laporan The Wall Street Journal yang mengutip pejabat AS, Trump mengatakan kepada para pembantunya bahwa ia memperkirakan serangan AS terhadap Iran akan berlanjut setelah pemilihan sela November. Kepada wartawan, Trump membenarkan penolakan tersebut: “Mereka mengajukan proposal, tetapi saya menolaknya.”
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Jumat (25/9/2026) menawarkan pembukaan kembali jalur pelayaran strategis itu dan memulai kembali negosiasi nuklir dengan Washington dalam tujuh hari, asalkan pemerintahan Trump memenuhi syarat-syarat Teheran. Syarat tersebut meliputi penghentian apa yang disebut Iran sebagai “tindakan agresi” AS, pencabutan blokade laut dan perang ekonomi, serta pembebasan aset Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, merinci kondisi tersebut.
Ketegangan semakin memanas setelah koalisi pimpinan Saudi di Yaman mengumumkan pada Sabtu (26/9/2026) bahwa mereka mencegat proyektil yang diluncurkan oleh pemberontak Houthi yang didukung Iran. Konflik ini sendiri dimulai sejak serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Trump sebelumnya menyatakan konflik akan berakhir tak lama setelah pemilu sela, dan harga minyak akan turun. Namun, eskalasi terbaru justru membalik ekspektasi tersebut.
Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak ini menjadi alarm. Sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga Brent dan WTI akan menekan neraca perdagangan dan anggaran subsidi energi. Pemerintah perlu mengantisipasi potensi kenaikan harga BBM nonsubsidi serta inflasi yang dapat menggerus daya beli masyarakat. Selain itu, ketegangan di Timur Tengah dapat mengganggu pasokan minyak mentah ke Asia, termasuk Indonesia, yang selama ini mengimpor sebagian besar kebutuhan dari kawasan tersebut.
Analis energi menilai bahwa pasar sedang menghitung ulang risiko geopolitik. Jika serangan AS benar-benar berlanjut pasca pemilu sela, premi risiko akan semakin tinggi dan harga minyak berpotensi menembus level $110 per barel. Sebaliknya, jika ada terobosan diplomasi, harga bisa terkoreksi. Namun, dengan sikap Trump yang keras dan tawaran Iran yang bersyarat, jalan menuju deeskalasi masih panjang.
“Jika kondisi tertentu terpenuhi, Selat Hormuz akan terbuka dalam tujuh hari, dan pembicaraan akan dimulai kembali,” ujar Araghchi di sela-sela Sidang Umum PBB di New York.
Pertanyaannya, akankah ketegangan ini mendorong harga minyak ke level yang lebih tinggi, atau justru menjadi pemicu kesepakatan damai yang selama ini dinanti? Dalam jangka pendek, volatilitas harga minyak akan terus membayangi pasar global, dan Indonesia perlu memperkuat bantalan fiskal untuk melindungi ekonomi domestik dari guncangan eksternal.



