Kuda Poni Eriskay di Ambang Kepunahan: Komunitas Pulau Kecil Berjuang Selamatkan Warisan Dunia
Baca dalam 60 detik
- Populasi kuda poni Eriskay tinggal 300–400 ekor, salah satu ras asli paling langka di dunia.
- Warga Pulau Eriskay di Skotlandia mengelola program penangkaran dan perawatan harian untuk menjaga kelestariannya.
- Perubahan iklim dan erosi pantai menambah tekanan, sementara kesadaran global akan konservasi ras lokal masih rendah.

Di lereng Beinn Sciathan, sebuah bukit berbatu di Kepulauan Hebrides Luar, Skotlandia, kawanan kuda poni berwarna putih dan abu-abu berkeliaran bebas. Mereka adalah kuda poni Eriskay, salah satu ras asli paling terancam punah di dunia, dengan populasi diperkirakan hanya tersisa 300 hingga 400 ekor murni. Angka ini menempatkan mereka dalam status kritis, memicu kekhawatiran akan hilangnya warisan genetik yang telah beradaptasi selama berabad-abad dengan iklim keras Atlantik.
Keunikan kuda poni ini bukan hanya pada kelangkaannya, tetapi juga pada cara mereka dipelihara. Berbeda dengan kuda liar yang hidup terisolasi, kuda poni Eriskay hidup berdampingan dengan penduduk desa. Selama setengah tahun, terutama musim dingin, mereka dibiarkan berkeliaran bebas di pulau dan perkampungan. Setiap kuda memiliki pemilik yang mampu mengenali hewannya di antara kawanan yang bagi orang awam tampak seragam. Sistem kepemilikan komunal ini menjadi fondasi konservasi yang telah berjalan sejak puluhan tahun.
Menurut Sandra MacInnes, ketua Comann Each nan Eilean—perkumpulan kuda poni pulau yang didirikan pada 1972—populasi pernah merosot tajam hingga sekitar 20 ekor pada dekade 1970-an. Penyebab utamanya adalah mekanisasi pertanian yang menggantikan peran kuda dalam mengangkut gambut dan rumput laut. Sejak itu, upaya pemulihan dilakukan secara sistematis, termasuk program penangkaran dan pengaturan jumlah kawanan agar daya dukung lahan tetap terjaga. "Mereka saling membutuhkan," ujar MacInnes, menggambarkan hubungan simbiosis antara warga dan kuda poni.
Ancaman baru datang dari perubahan iklim. Triona MacKinnon, pemilik dua kuda poni di Eriskay dan beberapa di South Uist, mengungkapkan bahwa musim dingin kian panjang dan basah. "Musim dingin kali ini sangat panjang. Hujan deras bisa menyebabkan rain scald pada kuda, sesuatu yang dulu jarang terlihat," katanya. Cuaca yang lebih hangat juga memicu populasi kutu yang mengganggu kesehatan hewan. Meski demikian, kuda poni Eriskay dikenal tangguh menghadapi fluktuasi cuaca berkat bulu tebal dan kemampuan navigasi untuk berlindung dari angin.
Dampak perubahan iklim tidak hanya pada kuda, tetapi juga pada pulau. Erosi pantai mulai menggerus garis pantai, sementara komunitas harus mengeluarkan biaya ekstra untuk pakan tambahan di musim dingin. Perawatan kuku dan layanan dokter hewan menjadi beban finansial yang signifikan. Namun, bagi warga, hidup bersama kuda poni adalah bagian dari identitas budaya yang tak ternilai. Seperti dikutip dari almarhum Pastor Calum MacLellan, "Tanpa orang Eriskay tidak akan ada kuda poni, tetapi tanpa kuda poni tidak akan ada orang di Eriskay."
Kisah Eriskay mencerminkan tantangan global dalam konservasi ras lokal. Di Indonesia, keberadaan kuda Sumba, kuda Bali, dan kuda Gayo juga menghadapi tekanan serupa: modernisasi transportasi, alih fungsi lahan, dan kurangnya perhatian pada pelestarian genetik. Padahal, ras-ras ini menyimpan adaptasi unik terhadap lingkungan tropis dan memiliki nilai budaya tinggi. Upaya komunitas Eriskay dapat menjadi pelajaran tentang pentingnya keterlibatan warga dalam menjaga warisan hayati, sekaligus mengingatkan bahwa konservasi tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah.
Ke depan, Comann Each nan Eilean berencana memperluas program penangkaran dan mengelola jumlah kawanan agar tidak melebihi kapasitas padang rumput. Satu anak kuda lahir tahun ini, dan harapan akan kelahiran berikutnya menjadi tanda optimisme. Namun, tanpa dukungan pendanaan yang berkelanjutan dan kesadaran global, masa depan kuda poni Eriskay tetap rentan. Akankah komunitas kecil di ujung utara Skotlandia ini mampu mempertahankan warisan yang telah bertahan ratusan tahun, ataukah mereka akan menjadi catatan sejarah yang hilang ditelan zaman?



