SpaceX Uji Terbang ke-14: Starship Incar Orbit Bumi, Bawa 26 Satelit Starlink
Baca dalam 60 detik
- SpaceX akan meluncurkan Starship dalam misi uji ke-14 dari Texas, Senin, dengan target mencapai orbit Bumi dan melepaskan 26 satelit Starlink generasi baru.
- Keberhasilan orbit menjadi krusial bagi ambisi Elon Musk menjadikan Starship kendaraan serba bisa untuk misi komersial, Bulan, dan Mars.
- Uji coba ini juga menjadi sorotan investor pasca-IPO, sekaligus respons terhadap kemajuan pesaing dari China di teknologi roket yang dapat digunakan ulang.

SpaceX dijadwalkan meluncurkan roket Starship dari Texas, Senin (waktu setempat), dalam uji terbang ke-14 yang menargetkan pencapaian orbit Bumi untuk pertama kalinya. Misi ini menjadi tonggak penting bagi kendaraan peluncur terbesar yang pernah dibuat, sekaligus menguji kemampuan perusahaan milik Elon Musk itu memasuki fase operasional yang lebih matang.
Peluncuran dijadwalkan dimulai pukul 07.15 waktu setempat (12.15 GMT) dari fasilitas SpaceX di Boca Chica, Texas. Jika kondisi memungkinkan, Starship akan menempuh jalur suborbital, kemudian melakukan pembakaran ulang untuk mencapai orbit melingkar sekitar 275 kilometer di atas Bumi. Kecepatan yang dibutuhkan sekitar 28.000 kilometer per jam. Setelah mengorbit enam kali, wahana akan mengakhiri perjalanan di Samudra Pasifik.
Berbeda dari uji sebelumnya yang kerap berakhir dengan ledakan spektakuler, misi kali ini membawa muatan konkret: 26 satelit Starlink generasi terbaru. Satelit-satelit itu akan dilepaskan di orbit untuk memperluas konstelasi internet satelit milik SpaceX yang sudah sangat besar. Tahap pertama roket, Super Heavy, akan jatuh ke perairan Teluk Meksiko setelah lepas landas, dan SpaceX tidak berencana menangkapnya dengan lengan mekanik raksasa seperti pada beberapa uji sebelumnya.
Pencapaian orbit bukan sekadar soal gengsi. Selama ini, Starship hanya terbang dalam lintasan suborbital yang secara teknis lebih aman dan tidak menuntut manuver rumit. Untuk masuk orbit, roket harus melakukan pembakaran kedua yang memerlukan perhitungan lebih kompleks karena menghadapi tingkat gravitasi yang berubah-ubah. "Itu bagian tersulit," ujar Kathleen Curlee, analis senior di Center for Security and Emerging Technology, Universitas Georgetown, seperti dikutip kantor berita AFP. Menurutnya, roket harus melakukan serangkaian aksi berbeda saat mengalami kondisi gravitasi yang tidak sama.
Bagi kalangan insinyur, keberhasilan tidak selalu diukur dari orbit sempurna. Curlee menilai bahwa "hanya mencapai penerbangan dan mendapatkan data" sudah bisa dianggap sukses. Namun, ekspektasi publik dan investor berbeda. Mereka menuntut uji coba yang terlihat meyakinkan, dan hasil yang kurang dari itu akan dianggap kegagalan. Tekanan ini kian terasa setelah SpaceX melantai di bursa saham pada Juni lalu, yang menuntut perusahaan menunjukkan kemajuan signifikan.
Pengembangan Starship memang tidak lepas dari berbagai penundaan. Sejumlah modifikasi besar telah dilakukan pada roket hitam-perak itu, termasuk perbaikan sistem propulsi dan struktur. Sementara itu, perusahaan antariksa asal China dilaporkan mulai menunjukkan kemajuan dalam teknologi roket yang dapat digunakan ulang, meski SpaceX masih mendominasi pasar peluncuran global lewat roket Falcon yang sebagian komponennya bisa dipakai kembali.
"Mereka membutuhkan uji coba yang mencolok" karena hasil yang biasa saja akan dipandang sebagai kegagalan, tambah Curlee.
Di Indonesia, perkembangan Starship dan Starlink berpotensi memengaruhi lanskap konektivitas digital. Layanan internet satelit Starlink telah beroperasi di Indonesia sejak 2023, terutama untuk daerah terpencil. Jika Starship sukses mengorbitkan satelit dalam jumlah besar, kapasitas jaringan bisa meningkat, membuka peluang harga layanan lebih kompetitif. Namun, tantangan regulasi dan kedaulatan data tetap menjadi perhatian pemerintah. Selain itu, kemajuan roket reusable SpaceX dapat mendorong negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk mempercepat pengembangan teknologi antariksa sendiri, baik untuk komunikasi maupun pemantauan sumber daya alam.
Terlepas dari hasil uji terbang ini, SpaceX telah menjadwalkan tiga peluncuran roket lain pada pekan yang sama, salah satunya membawa awak astronot ke Stasiun Antariksa Internasional. Jika Starship berhasil mencapai orbit, langkah selanjutnya adalah uji pengisian bahan bakar di orbit, yang menjadi kunci untuk misi ke Bulan dan Mars. Keberhasilan ini juga akan menentukan apakah SpaceX dapat memenuhi kontrak dengan NASA dan mitra komersialnya. Pertanyaannya, apakah ambisi orbit ini akan membuka era baru eksplorasi ruang angkasa, atau justru menambah daftar panjang uji coba yang harus diulang?



