ETF Solana Cetak Rekor Baru, Dana Masuk Rp3 Triliun dalam Sepekan
Baca dalam 60 detik
- Dana kelolaan ETF spot Solana di AS melonjak ke rekor 188 juta dolar AS pekan lalu, dengan Bitwise mendominasi dua pertiga aliran masuk.
- Minat investor terhadap aset kripto alternatif selain Bitcoin dan Ethereum kian menguat, tercermin dari derasnya arus modal ke produk berdenominasi SOL.
- Uji coba teknologi Alpenglow yang menjanjikan finalitas transaksi super cepat menjadi katalis berikutnya bagi adopsi Solana di pasar global, termasuk Indonesia.

Pasar ETF spot Solana di Amerika Serikat menorehkan rekor baru dengan meraup aliran dana bersih sebesar 188 juta dolar AS (sekitar Rp3 triliun) sepanjang pekan lalu. Seluruh produk dalam kelompok ini kompak mencatatkan arus masuk, menandai babak baru persaingan aset kripto di luar Bitcoin dan Ethereum.
Bitwise melalui produk BSOL menjadi bintang utamanya. Sepanjang lima hari perdagangan hingga 25 September, BSOL menyerap sekitar 128 juta dolar AS, disusul Grayscale GSOL dengan 28 juta dolar AS dan Fidelity FSOL senilai 18 juta dolar AS. Sisanya, sekitar 14 juta dolar AS, dibagi rata oleh Morgan Stanley, VanEck, Franklin Templeton, dan 21Shares. Jumat menjadi hari paling deras dengan tambahan 87 juta dolar AS, terbesar sejak peluncuran perdana.
Dominasi Bitwise bukan hal baru. Sepanjang periode akumulasi, BSOL menguasai sekitar 1,2 miliar dolar AS dari total 1,6 miliar dolar AS aliran masuk bersih industri ini, atau setara 76 persen. Meski pangsa mingguannya turun ke 68 persen, posisi Bitwise masih jauh meninggalkan para pesaing yang hanya mengumpulkan sekitar 60 juta dolar AS secara kolektif.
Gelombang modal ini tidak berdiri sendiri. ETF Bitcoin di AS menyerap sekitar 2,4 miliar dolar AS pada periode yang sama, sementara produk Ether menambah 690 juta dolar AS. Angka-angka ini menunjukkan bahwa investor institusional dan ritel masih agresif menempatkan dana di instrumen kripto yang teregulasi, meski harga SOL sendiri belum kembali ke level puncaknya.
"Aliran dana ke ETF Solana mencerminkan diversifikasi portofolio kripto yang semakin matang. Investor mulai melihat SOL sebagai aset produktif, bukan sekadar spekulasi jangka pendek," ujar seorang analis pasar kripto yang memantau pergerakan ini.
Dari sisi teknologi, pengembang Solana tengah menguji Alpenglow, peningkatan yang menjanjikan waktu finalitas transaksi jauh lebih singkatโdari 12,8 detik menjadi sekitar 150 milidetik. Uji coba telah memasuki lingkungan pengujian publik kedua pada Jumat lalu, meski tanggal peluncuran di jaringan utama belum diumumkan. Jika berhasil, lompatan ini bisa memperkuat posisi Solana di segmen pembayaran dan keuangan terdesentralisasi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi langsung. Investor domestik yang semakin melek kripto dapat memanfaatkan ETF berbasis Solana sebagai alternatif eksposur tanpa harus mengelola dompet digital sendiri. Namun, regulator dalam negeri masih membatasi produk ETF kripto asing, sehingga aksesnya harus melalui platform investasi lintas negara yang legal. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bappebti terus memperbarui aturan aset kripto, dan lonjakan minat global ini bisa menjadi pendorong bagi percepatan regulasi yang lebih ramah inovasi.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah momentum ini berlanjut atau justru mengendur saat pasar menanti kejelasan arah suku bunga The Fed. Dengan harga SOL yang masih jauh dari rekor dan uji coba Alpenglow yang belum final, investor perlu mencermati apakah aliran dana ini didorong oleh fundamental teknologi atau sekadar euforia jangka pendek.



