Trump Sinyal Serangan Baru ke Iran, Bitcoin dan Nasdaq Tertekan
Baca dalam 60 detik
- Pernyataan Trump soal kemungkinan serangan militer tambahan ke Iran sebelum pemilu sela November memicu aksi jual aset berisiko, menekan Bitcoin 1,3% dan futures Nasdaq 0,7%.
- Ketidakpastian geopolitik mendorong yield Treasury 10 tahun ke level tertinggi sejak 2007 di 5,20%, sementara harga minyak mentah naik mendekati 1%.
- Pasar kripto masih menunjukkan ketahanan dengan kenaikan 42% dalam tiga bulan, tetapi data inflasi PCE dan nonfarm payrolls AS pekan ini menjadi penentu arah suku bunga The Fed.

Bitcoin dan futures indeks Nasdaq memulai pekan dengan nada lemah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi sinyal bahwa serangan militer tambahan terhadap Iran masih mungkin terjadi sebelum pemilihan sela November. Pada perdagangan pukul 03:30 UTC, Bitcoin turun 1,3% ke level US$83.324, sementara ether, XRP, dan solana mengalami koreksi serupa. Futures Nasdaq yang padat teknologi melemah 0,7%, sedangkan kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) justru menguat hampir 1% menjadi US$93,28 per barel.
Pernyataan Trump muncul dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu (27/9). Ketika ditanya apakah aksi militer bisa dilanjutkan, ia menjawab, “Saya tidak ingin mengatakan itu. Maksud saya, mungkin saja, tapi saya tidak mau mengatakannya.” Trump menambahkan bahwa AS akan memenangkan perang melalui tekanan militer dan ekonomi. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan negaranya “sepenuhnya siap” menghadapi konflik baru dan bahkan mampu menghadapi potensi “perang kiamat”.
Di sidang Majelis Umum PBB, Iran mengusulkan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz—jalur pelayaran minyak strategis yang terganggu akibat perang—selama tujuh hari dan menghentikan pertempuran, yang akan diikuti negosiasi lebih luas. Namun, Trump menolak proposal tersebut dan menegaskan di Truth Social bahwa Iran “tidak boleh memiliki senjata nuklir”.
Ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan telah memicu kekhawatiran inflasi sejak perang dimulai awal Maret. Hal ini tercermin dari lonjakan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang naik 127 basis poin ke 5,20%, level tertinggi sejak 2007, seiring kekhawatiran inflasi, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, dan kekhawatiran utang. Meskipun Bitcoin sempat tertekan di awal tahun, aset kripto ini bangkit kuat pada kuartal ketiga dengan kenaikan 42% dalam tiga bulan, mengalahkan kinerja semua aset utama termasuk Nasdaq dan emas.
Analis kini mencermati data ekonomi yang akan dirilis pekan ini untuk mendapatkan petunjuk arah pergerakan cryptocurrency. Vikram Subburaj, CEO bursa kripto asal India Giottus, dalam surelnya menyatakan, “Bagi investor, zona 83.800-84.000 merupakan support penting jangka pendek. Area 85.000-85.800 adalah zona resistance terdekat. Akan bijak untuk menghindari mengejar reli di level saat ini.” Ia menambahkan bahwa membatasi leverage dan menggunakan entri bertahap dapat membantu mengelola volatilitas saat pasar merespons arus ETF, yield Treasury, dan data inflasi AS.
Bagi investor Indonesia, gejolak ini menjadi pengingat bahwa aset kripto dan saham teknologi sangat sensitif terhadap sentimen global. Pelemahan Bitcoin dan Nasdaq dapat berdampak pada portofolio yang terdiversifikasi, sementara kenaikan harga minyak berpotensi menekan inflasi domestik melalui biaya energi dan transportasi. Bank Indonesia mungkin perlu mencermati pergerakan yield AS yang dapat mempengaruhi aliran modal asing dan nilai tukar rupiah. Di sisi lain, kenaikan Bitcoin sebesar 42% dalam tiga bulan menunjukkan bahwa aset kripto masih menjadi alternatif lindung nilai di tengah ketidakpastian, meski dengan risiko tinggi.
Ke depan, pasar akan bergantung pada data inflasi PCE, ISM manufaktur, dan nonfarm payrolls AS yang dirilis pekan ini. Angka-angka tersebut akan mempengaruhi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan pergerakan pasar secara luas. Jika data menunjukkan inflasi yang membandel, tekanan jual pada aset berisiko bisa berlanjut. Sebaliknya, jika data melunak, Bitcoin dan Nasdaq berpotensi kembali menguat. Pertanyaannya, apakah investor Indonesia siap menghadapi volatilitas yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah?



