The Assassin(s) Tembus 1,3 Juta Penonton dalam Empat Hari, Siap Tantang Rekor 10 Juta
Baca dalam 60 detik
- Film thriller sejarah Korea The Assassin(s) mengumpulkan 1,3 juta penonton hanya dalam empat hari, dengan 432.341 tiket terjual pada Sabtu (26/9).
- Dominasi film ini di box office Chuseok menandai pergeseran strategi distributor lokal yang menghindari benturan dengan blockbuster Hollywood.
- Pencapaian ini membuka peluang bagi The Assassin(s) untuk bergabung dengan klub film Korea dengan 10 juta penonton, sekaligus menguji daya tarik drama sejarah di pasar global.

Film thriller sejarah Korea Selatan The Assassin(s) resmi menembus 1,3 juta penonton hanya dalam empat hari penayangan. Data Dewan Film Korea mencatat, sejak dirilis pada 23 September, film ini langsung melesat dengan tambahan 432.341 penonton pada hari Sabtu saja—sebuah angka yang jarang dicapai film drama sejarah pada pekan pembukaan.
Lonjakan ini menempatkan The Assassin(s) di jalur elit film blockbuster liburan Chuseok, sebuah periode di mana penonton Korea berbondong-bondong ke bioskop. Yang membedakan, film ini bukan sekuel laga atau komedi ringan, melainkan drama politik yang mengangkat peristiwa kelam: upaya pembunuhan terhadap Presiden Park Chung Hee pada 1974 yang menewaskan Ibu Negara Yuk Young Soo.
Disutradarai Hur Jin Ho, film ini mengikuti para jurnalis dan detektif yang mempertaruhkan karier serta keselamatan demi mengungkap kebenaran di balik penembakan tersebut. Alih-alih menyajikan aksi tembak-menembak, narasi dibangun dari intrik ruang redaksi dan penyelidikan bawah tanah—sebuah pendekatan yang ternyata mampu menarik minat pasar massal.
Keberhasilan ini tidak lepas dari deretan penampilan khusus yang mengundang rasa penasaran. Park Jeong Min memerankan tersangka penembak ibu negara, sementara Jung Woo Sung tampil sebagai ketua konglomerat sekaligus kakak dari karakter Lee Min Ho, seorang reporter muda bernama Young Il. Shim Eun Kyung berperan sebagai sekutu Young Il, dan Oh Jung Se hadir sebagai tokoh kunci pemegang rekaman audio dari lokasi kejadian—sebuah sentuhan humor yang menyegarkan di tengah tensi politik.
"Kombinasi bintang papan atas dan narasi sejarah yang kontroversial menjadi magnet ganda. Penonton Korea sedang mencari tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberi konteks atas masa lalu kelam mereka," ujar seorang pengamat industri film Korea yang enggan disebutkan namanya.
Yang tak kalah penting, kesuksesan The Assassin(s) terjadi di tengah strategi distributor lokal yang semakin agresif memusatkan perilisan film besar pada liburan Chuseok. Langkah ini diambil untuk menghindari benturan langsung dengan The Odyssey, film epik Christopher Nolan yang masih bertengger di posisi ketiga box office Korea dengan 11,69 juta penonton hingga Sabtu lalu. Nolan, yang sebelumnya sukses besar lewat Interstellar (2014) dengan lebih dari 10 juta penonton, kini menjadi tolok ukur baru di pasar Korea.
Menariknya, layar IMAX yang menayangkan The Odyssey hampir selalu penuh selama liburan Chuseok, membuktikan bahwa penonton Korea semakin haus akan pengalaman menonton format besar. Namun, di tengah gempuran film Hollywood, The Assassin(s) justru menunjukkan bahwa cerita lokal yang dikemas dengan baik tetap memiliki tempat istimewa.
Konteks Indonesia: Peluang dan Tantangan bagi Pasar Film Nasional
Bagi pembaca Indonesia, fenomena The Assassin(s) menawarkan pelajaran berharga. Pasar film Korea Selatan yang matang—dengan dukungan data transparan dari Dewan Film Korea—memungkinkan distributor dan investor mengukur kinerja film secara real-time. Di Indonesia, keterbatasan data box office yang terpusat masih menjadi kendala bagi pelaku industri untuk mengambil keputusan berbasis angka.
Selain itu, keberhasilan film sejarah Korea menunjukkan bahwa genre drama politik tidak selalu identik dengan pasar terbatas. Jika diadaptasi dengan pendekatan sinematik yang kuat, cerita berlatar sejarah Indonesia—misalnya peristiwa 1965 atau reformasi 1998—berpotensi menarik minat penonton muda, asalkan dikemas dengan narasi yang tidak menggurui.
Dari sisi distribusi, strategi menghindari benturan dengan film Hollywood besar juga relevan bagi bioskop Indonesia. Jadwal rilis film nasional sering kali bertabrakan dengan blockbuster internasional, sehingga potensi pendapatan tergerus. Penjadwalan yang cermat, seperti yang dilakukan distributor Korea, bisa menjadi contoh.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah The Assassin(s) akan menembus 10 juta penonton—sebuah ambang yang hanya diraih segelintir film Korea—tetapi apakah gelombang drama sejarah ini akan mengubah lanskap produksi film Asia secara lebih luas. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin Indonesia akan melihat lebih banyak film berlatar sejarah dengan anggaran besar dan ambisi global.



