Sylvester Stallone Akui Bulimia dan Steroid demi Tubuh Ideal: 'Segalanya Ditopang Kawat'
Baca dalam 60 detik
- Stallone mengungkapkan bahwa obsesinya terhadap bentuk tubuh membuatnya mengalami bulimia dan menggunakan steroid selama bertahun-tahun.
- Aktor 80 tahun itu mengaku telah menjalani sembilan operasi punggung, dua operasi bahu, dan tiga fusi leher akibat mengeksploitasi fisiknya secara berlebihan.
- Pengakuan ini menyoroti tekanan industri hiburan terhadap standar tubuh dan menjadi cermin bagi budaya fitness di Indonesia yang kian kompetitif.

Sylvester Stallone, ikon laga Hollywood yang genap berusia 80 tahun, membuka pengakuan mengejutkan tentang perjalanan kariernya: ia pernah mengalami bulimia dan mengonsumsi steroid demi mengejar bentuk tubuh yang dianggap ideal. Dalam wawancara dengan The New York Times, bintang Rocky itu mengaku terobsesi dengan penampilan fisiknya pada awal karier, sampai-sampai ia tidak mempertahankan makanan yang masuk ke tubuhnya.
Stallone mengaku ingin tampil seperti kucing besar—liar, agresif, lentur, dan atletis—bukan seperti Arnold Schwarzenegger yang berotot besar. Obsesi itu membawanya ke titik ekstrem: saat syuting Rocky III pada 1982, kadar lemak tubuhnya hanya 2,6 persen. "Saya tidak bisa menahan apa pun. Atau saya tidak ingin menahannya karena saya begitu terobsesi untuk tetap berada di titik kebugaran itu," ujarnya.
Ia juga secara terbuka mengakui penggunaan steroid, meski ia menyebutnya dilakukan dengan cara yang "sensitif"—enam minggu konsumsi, enam minggu istirahat. Menurut Stallone, tidak ada orang yang bisa mencapai target kebugaran seperti dirinya tanpa bantuan zat tambahan dan obat-obatan. "Saya tidak peduli apa kata orang," tegasnya. Ia menambahkan bahwa penggunaan hormon sintetis itu "menimbulkan dampak yang mengerikan" bagi tubuhnya.
Stallone mengungkapkan bahwa tekanan untuk selalu tampil prima membuatnya merasa terkurung selama puluhan tahun. Ia baru merasa terbebas ketika memerankan karakter lemah dalam film Cop Land (1997)—seorang pria tunarungu sebagian dan kelebihan berat badan. Namun, setelah itu kariernya di Hollywood sempat meredup. "Segalanya menjadi kacau dan saya kehilangan kepercayaan Hollywood," kenangnya.
Dampak jangka panjang dari eksploitasi fisik itu pun tak terhindarkan. Stallone mengaku telah "menyalahgunakan" tubuhnya selama bertahun-tahun, yang berujung pada sembilan operasi punggung, dua operasi bahu, dan tiga fusi leher. "Semuanya ditahan dengan kawat," ujarnya. Meski demikian, ia masih ingin tetap bugar. "Ini semua datang dengan harga yang sangat mahal. Jika bisa mengulanginya, saya akan bilang, biarkan orang lain yang membawa panji dan jangan lakukan adegan berbahaya sendiri," tambahnya.
"Saya tidak tahu apa yang membuat saya selalu menyakiti diri sendiri." — Sylvester Stallone
Pengakuan Stallone ini bukan sekadar cerita masa lalu seorang bintang. Ia menyoroti tekanan industri hiburan—dan juga masyarakat luas—terhadap standar tubuh tertentu. Di Indonesia, budaya fitness dan obsesi terhadap bentuk tubuh ideal kian meningkat, terutama di kalangan anak muda dan pekerja profesional. Media sosial kerap menampilkan tubuh sempurna sebagai simbol kesuksesan, tanpa mengungkap risiko kesehatan mental dan fisik di baliknya.
Praktik bulimia dan penggunaan steroid tanpa pengawasan medis dapat menyebabkan gangguan elektrolit, kerusakan organ, hingga kematian. Di Indonesia, steroid anabolik sebenarnya termasuk obat keras yang hanya boleh digunakan dengan resep dokter, namun penyalahgunaannya masih marak di kalangan penggemar binaraga. Kasus Stallone menjadi pengingat bahwa mengejar penampilan ideal dengan cara instan bisa berujung pada penyesalan seumur hidup.
Ke depan, apakah industri hiburan dan media akan mulai mengurangi glorifikasi tubuh ekstrem? Ataukah tekanan untuk tampil sempurna justru semakin kuat seiring maraknya konten visual? Pengakuan Stallone setidaknya membuka ruang dialog tentang kesehatan mental dan fisik di balik layar gemerlap dunia hiburan.



