Guruh Soekarnoputra Berpulang: Seni sebagai Jalan Perjuangan yang Tak Selesai
Baca dalam 60 detik
- Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra meninggal dunia pada 26 September 2026 di usia 73 tahun akibat komplikasi penyakit.
- Ia dikenang bukan sekadar sebagai putra Bung Karno, melainkan sebagai budayawan yang menjadikan seni sebagai instrumen perjuangan ideologi.
- Warisan gagasannya tentang kebudayaan sebagai ruang pergulatan politik masih relevan bagi generasi muda dan dunia seni Indonesia.

Indonesia kehilangan salah satu tokoh yang paling gigih memperjuangkan seni sebagai ruang politik. Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno, menghembuskan napas terakhir pada Sabtu, 26 September 2026, pukul 04.16 WIB, di usia 73 tahun. Ia wafat setelah berjuang melawan komplikasi penyakit yang cukup lama. Jenazahnya dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta, dengan prosesi yang dihadiri keluarga dan Satgas Cakra Buana PDI Perjuangan.
Kepergian Guruh menutup babak panjang seorang seniman yang menolak direduksi hanya sebagai anak presiden. Sepanjang hidupnya, ia menempuh jalur yang berbeda dari sang ayah: jika Soekarno mengartikulasikan kebangsaan lewat orasi dan manuver politik, Guruh memilih panggung, musik, tari, dan koreografi sebagai medium perjuangan. Baginya, seni bukan sekadar ekspresi estetis, melainkan alat untuk membangun kesadaran kolektif dan merawat identitas bangsa.
Dalam wawancara saat mementaskan Beta Cinta Indonesia pada 2011, Guruh menegaskan bahwa perjuangannya bukan untuk golongan tertentu, melainkan untuk Indonesia dan ideologi. Ia juga mengingatkan bahwa seniman perlu memahami politik agar tidak diperalat sebagai alat kampanye. Pernyataan itu menegaskan pandangannya bahwa kebudayaan adalah wilayah yang tidak netralโdi dalamnya berlangsung pertarungan tentang nilai, identitas, dan arah masa depan bangsa.
Karya Guruh Gipsy menjadi bukti bagaimana ia mampu menjembatani dunia musik modern dan tradisi lokal. Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat album tersebut sebagai bagian penting dari perjalanan kreatifnya. Langkah itu menunjukkan bahwa Guruh tidak pernah melihat modernitas dan tradisi sebagai dua kutub yang bertentangan, melainkan sebagai bahan dialog yang kaya. Pendekatan ini sejalan dengan pemikiran Antonio Gramsci tentang hegemoni budaya, di mana kekuasaan juga bekerja melalui cara masyarakat memahami dunia dan nilai-nilai yang dianggap wajar.
Bagi pembaca Indonesia, terutama generasi muda dan pelaku industri kreatif, warisan Guruh menawarkan pelajaran berharga: seni dapat menjadi instrumen perubahan sosial tanpa harus kehilangan akar budaya. Di tengah derasnya arus globalisasi dan komersialisasi seni, pertanyaan yang ia tinggalkan adalah bagaimana menjaga agar kebudayaan tetap menjadi ruang perjuangan, bukan sekadar komoditas. Dunia seni Indonesia kehilangan seorang mentor, tetapi gagasannya tentang seni sebagai jalan perjuangan akan terus hidup selama ada yang merawatnya.
"Perjuangan saya bukan untuk golongan atau kelompok tertentu. Perjuangan saya hanyalah untuk Indonesia tercinta dan perjuangan saya adalah perjuangan ideologi." โ Guruh Soekarnoputra (2011)
Ke depan, tantangan bagi para seniman dan budayawan adalah menerjemahkan semangat Guruh ke dalam konteks zaman yang berubah. Apakah seni masih bisa menjadi alat perjuangan yang efektif di era digital, atau justru tenggelam dalam arus hiburan sesaat? Pertanyaan itu terbuka untuk dijawab oleh generasi penerus.



