De Zerbi Incar Dana Segar: Mathys Tel dan Richarlison Masuk Daftar Jual Spurs
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur berencana melepas Mathys Tel dan Richarlison pada bursa transfer Januari untuk mendanai perburuan striker baru.
- Keputusan ini diambil setelah performa lini depan yang tumpul, dengan Tel baru mencetak tujuh gol dalam 64 penampilan sejak bergabung.
- Manajemen Spurs berharap perombakan skuad dapat mengatasi krisis gol dan menyelamatkan posisi Roberto De Zerbi yang tengah tertekan.

Roberto De Zerbi dikabarkan telah menetapkan target untuk merombak lini serang Tottenham Hotspur dengan menjual Mathys Tel dan Richarlison pada jendela transfer Januari mendatang. Langkah ini diambil sebagai upaya mengumpulkan dana segar guna mendatangkan striker baru yang lebih produktif, menyusul awal musim yang mengecewakan bagi klub berjuluk Lilywhites tersebut.
Keputusan untuk melepas dua penyerang tersebut muncul setelah serangkaian hasil buruk yang membuat posisi De Zerbi sebagai manajer semakin tidak aman. Dengan hanya meraih hasil imbang dan kekalahan dalam beberapa pertandingan terakhir, tekanan publik dan manajemen terhadap kursi kepelatihan asal Italia itu terus meningkat. Manajemen Spurs menyadari bahwa permasalahan utama bukan hanya pada taktik, melainkan juga pada ketajaman pemain di depan gawang.
Mathys Tel, yang didatangkan dari Bayern Munich dengan ekspektasi tinggi, belum mampu memenuhi harapan. Dalam 64 penampilan di semua kompetisi, pemain berusia 21 tahun itu hanya mencatatkan tujuh gol dan empat assist. Angka tersebut sangat jauh dari standar yang diharapkan untuk seorang penyerang di klub sekelas Tottenham. Terlebih lagi, Tel sempat mendapat teguran publik dari De Zerbi setelah hasil imbang melawan Everton, dan kemudian tidak dimasukkan ke dalam skuad saat melawan Aston Villa dengan alasan "keputusan teknis".
Richarlison, yang merupakan top skor klub musim lalu, juga mengalami nasib serupa. Meskipun kontribusinya cukup signifikan, ia justru jarang mendapatkan menit bermain di musim ini. Keputusan untuk mengasingkan pemain asal Brasil itu dianggap telah merugikan lini depan Spurs, yang kini kesulitan mencetak gol. Hanya Conor Gallagher dan Jan Paul van Hecke yang tercatat sebagai pencetak gol Liga Premier untuk Tottenham sejauh ini, sebuah indikasi jelas bahwa lini serang perlu evaluasi total.
"Keputusan teknis. Dia berada di tribun, karena saya pikir selama pertandingan, Maddison dan Kudus memiliki peluang lebih besar untuk mengubah permainan. Saya menjelaskan alasannya kepada Mathys kemarin. Tidak ada masalah. Dia sangat baik, dan dia memahami alasannya." - Roberto De Zerbi
De Zerbi disebut-sebut ingin segera menguangkan kedua pemain tersebut untuk mendanai perburuan penyerang baru pada Januari. Langkah ini sejalan dengan kebutuhan mendesak akan sosok striker yang mampu mencetak gol secara konsisten, terutama setelah kepergian Harry Kane pada 2023 yang hingga kini belum tergantikan. Tottenham telah mencoba beberapa opsi, termasuk Dominic Solanke, namun hasilnya masih jauh dari memuaskan. Solanke, yang dibeli dengan harga mahal, baru mencetak 12 gol Liga Premier sejak 2024, menurun drastis dibandingkan performanya di Bournemouth.
Dengan situasi ini, manajemen Spurs dihadapkan pada pilihan sulit: terus memberikan kesempatan kepada pemain yang ada atau melakukan perombakan besar-besaran. Penjualan Tel dan Richarlison bisa menjadi langkah awal untuk membangun kembali kekuatan lini depan. Namun, keputusan ini juga berisiko jika tidak diikuti dengan rekrutan yang tepat. De Zerbi sendiri berada di bawah tekanan untuk segera membalikkan keadaan, dan bursa transfer Januari menjadi momen krusial baginya untuk membuktikan kemampuannya.
Ke depan, fokus akan tertuju pada siapa yang akan menjadi target utama Tottenham untuk mengisi posisi striker. Nama-nama seperti Victor Osimhen atau Ivan Toney mungkin akan kembali mencuat, tetapi semuanya bergantung pada ketersediaan dana yang diperoleh dari penjualan pemain. Jika rencana ini gagal, bukan tidak mungkin posisi De Zerbi akan semakin terancam, dan Spurs harus menerima kenyataan pahit gagal bersaing di kompetisi domestik maupun Eropa.



