Gadget Baru Pekan Ini: Meta VR hingga Headphone Beats 360, Sinyal Perlombaan AI di Perangkat Konsumen
Baca dalam 60 detik
- Meta meluncurkan kacamata VR seberat 100 gram dengan dua layar 5K, menargetkan rilis musim semi 2027.
- Beats 360 hadir dengan desain modular yang memungkinkan penggantian bantalan telinga dan headband sesuai kebutuhan.
- Produsen audio seperti Fiio dan iFi merilis perangkat yang mendukung codec resolusi tinggi untuk streaming musik kualitas studio.

Meta secara resmi memperkenalkan kacamata virtual reality (VR) yang diklaim lima kali lebih ringan dari headset Quest 3, menandai babak baru persaingan perangkat wearable di segmen konsumen. Peluncuran ini menjadi sorotan karena Meta berani meninggalkan format headset besar dan beralih ke desain mirip kacamata biasa, dengan bobot hanya 100 gram.
Kacamata tersebut mengusung dua layar 5K yang memungkinkan pengguna menonton film, bermain gim, hingga menjalankan aplikasi kerja. Navigasi dilakukan melalui gerakan mata, isyarat tangan, dan perintah suara. Komponen komputasi serta baterai ditempatkan pada sebuah puck eksternal, solusi yang lazim untuk menjaga bobot tetap ringan. Meta menjadwalkan peluncuran produk ini pada musim semi 2027, sebuah tenggat yang cukup panjang namun menunjukkan ambisi jangka panjang perusahaan.
Langkah Meta ini bukan tanpa tekanan. Apple dengan Vision Pro telah lebih dulu memasuki pasar spatial computing, meski dengan bentuk headset yang lebih besar. Meta tampaknya ingin mengambil ceruk pengguna yang menginginkan perangkat lebih portabel tanpa mengorbankan kualitas visual. Jika berhasil, kacamata VR ini bisa menjadi jembatan antara smart glasses dan headset VR penuh, memperluas adopsi teknologi imersif di kalangan profesional maupun konsumen umum.
Sementara itu, Beats—yang dimiliki Apple—memperkenalkan Beats 360 sebagai headphone flagship untuk 2026. Produk ini merupakan evolusi dari Studio Pro yang dirilis 2023, dengan chip khusus Beats yang menghadirkan fitur mirip AirPods saat dipasangkan dengan iPhone atau Android. Keunggulan utamanya terletak pada desain modular: pengguna dapat mengganti bantalan telinga dan headband. Apple menjual dua kit bantalan, satu untuk olahraga dan satu untuk kenyamanan maksimal, serta tersedia dalam berbagai warna yang bisa dikombinasikan secara bebas.
Di segmen audio rumahan, Fiio meluncurkan DP11, pemutar CD kompak dengan DAC Cirrus Logic CS43198 dan beragam output termasuk AES, coaxial, optical, dan RCA stereo. Layar LCD 3,7 inci menampilkan informasi pemutaran, sementara mekanisme pemuatan CD dari depan mengurangi kebisingan mekanis. Dengan harga US$185, perangkat ini menyasar audiophile yang masih setia pada format fisik. Fiio juga merilis FT15, headphone open-back dengan driver planar magnetic, yang merupakan penyempurnaan dari FT5. Diafragma lebih tipis dan driver lebih besar menjanjikan suara lebih natural dan soundstage lebih luas. Earcup kayu asli membuat setiap unit memiliki tampilan unik.
Untuk pasar yang lebih niche, iFi memperkenalkan UP Play dan UP Play Max, transmitter Bluetooth ultra-portabel yang dicolokkan ke iPhone. UP Play mendukung LDAC, sedangkan UP Play Max menambahkan aptX Lossless. Menurut iFi, LDAC mampu melipatgandakan detail audio saat streaming dari layanan seperti Apple Music, Spotify Lossless, dan Qobuz. Langkah ini menjawab keterbatasan codec Bluetooth bawaan iPhone yang sering dikritik audiophile.
Tak ketinggalan, Coros merilis Pace 4 Pro, jam tangan GPS flagship untuk pelari. Dibanding Pace 3 Pro (2024), model ini memiliki bodi titanium dan daya tahan baterai hingga 21 hari, atau sepekan dengan always-on display. Layar 1,47 inci menjadi yang terbesar yang pernah Coros sematkan di smartwatch, 22 persen lebih luas dari Pace 4. Peningkatan ini krusial bagi pelari yang membutuhkan visibilitas data saat beraktivitas.
Dari deretan peluncuran tersebut, terlihat pola yang konsisten: produsen berlomba menghadirkan perangkat dengan konektivitas lebih baik, desain modular, dan dukungan codec audio resolusi tinggi. Meta dan Beats menyoroti personalisasi serta integrasi AI, sementara Fiio dan iFi fokus pada kualitas suara. Bagi konsumen Indonesia, produk-produk ini menawarkan beragam pilihan, meski sebagian besar akan masuk melalui jalur impor dengan harga yang lebih tinggi karena pajak dan distribusi. Kehadiran smart glasses dan VR juga berpotensi mendorong ekosistem aplikasi lokal, terutama di sektor pendidikan, kesehatan, dan hiburan.
Pertanyaannya, akankah inovasi seperti kacamata VR ringan dan headphone modular benar-benar mengubah kebiasaan konsumen, atau hanya menjadi barang mewah bagi early adopter? Waktu yang akan menjawab, tetapi arah industri sudah jelas: perangkat masa depan dituntut lebih ringan, lebih pintar, dan lebih personal.



