Xi Klaim Perangkap Thucydides Bisa Diatasi, Sinyal Baru Persaingan AS-China
Baca dalam 60 detik
- Presiden China Xi Jinping menyatakan Perangkap Thucydides dapat diatasi saat bertemu Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, Kamis (26/9/2026).
- Pernyataan itu menandai pergeseran dari pertanyaan retoris Xi pada Mei lalu tentang apakah kedua negara bisa menghindari perangkap tersebut.
- Kesepakatan untuk bersaing tanpa konflik militer dinilai sebagai hasil politik paling signifikan dari KTT tersebut, meski isu Taiwan masih menggantung.

Presiden China Xi Jinping secara eksplisit menyatakan bahwa Perangkap Thucydides—konsep yang menggambarkan risiko perang antara kekuatan yang sedang naik dan kekuatan dominan—dapat diatasi. Pernyataan itu disampaikan Xi saat tiba di Gedung Putih untuk bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Kamis (26/9/2026), menurut rilis resmi pemerintah China.
Ucapan Xi tersebut berbeda dari sikapnya pada KTT Mei lalu, ketika ia masih mempertanyakan apakah kedua negara mampu menghindari jebakan sejarah itu. Perubahan nada ini menjadi sinyal bahwa Beijing ingin menegaskan persaingan tanpa konfrontasi sebagai kerangka hubungan bilateral ke depan.
Istilah Perangkap Thucydides dipopulerkan oleh Guru Besar Universitas Harvard, Graham Allison, pada awal 2010-an. Konsep ini merujuk pada catatan sejarah Thucydides, seorang jenderal Athena, tentang Perang Peloponnesos: kebangkitan Athena yang pesat membuat Sparta merasa terancam, dan perang antara kedua kota-negara itu pun tak terelakkan. Allison, yang pernah menjabat Asisten Menteri Pertahanan AS pada era Clinton dan penasihat khusus Menhan pada era Reagan, telah beberapa kali bertemu Xi dan mengunjungi China, terakhir pada Juni 2026 untuk acara World Economic Forum.
Dalam kunjungan kenegaraan pertamanya ke AS dalam 11 tahun, Xi menekankan pentingnya hidup berdampingan secara damai. Ia menyebut AS dan China dapat memiliki kompetisi yang sehat tanpa konfrontasi. "Ini harus menjadi perlombaan saling mengejar, bukan gulat di mana satu pihak menang dan yang lain kalah," ujar Xi, seraya menambahkan bahwa militer kedua negara perlu meningkatkan komunikasi krisis dan pencegahan.
Pernyataan Xi tentang batas bawah hubungan—bersaing ketat tanpa konflik militer—dinilai sebagai hasil politik paling penting dari KTT tersebut. Cui Shoujun, profesor di Sekolah Studi Internasional Universitas Renmin China, mengatakan bahwa hal itu "menyuntikkan kepastian ke dalam hubungan bilateral yang volatil." Menurutnya, penetapan batas bawah semacam itu memberikan kerangka yang lebih jelas bagi kedua negara untuk mengelola persaingan.
Meski demikian, isu Taiwan tetap menjadi titik rawan. Xi dilaporkan meminta AS untuk "menentang kemerdekaan Taiwan" dalam pembicaraan tersebut. Namun, hingga berita ini diturunkan, Trump belum memberikan komentar spesifik mengenai Taiwan. Sikap diamnya bisa dibaca sebagai upaya menghindari eskalasi, tetapi juga menyisakan ketidakpastian bagi sekutu-sekutu AS di kawasan.
Bagi Indonesia, dinamika AS-China ini memiliki implikasi langsung. Sebagai mitra dagang utama kedua negara, Indonesia berkepentingan menjaga stabilitas kawasan agar arus investasi dan perdagangan tidak terganggu. Ketegangan yang mereda dapat membuka ruang bagi penyelesaian sengketa Laut China Selatan melalui jalur diplomatik, serta mempercepat negosiasi Kode Perilaku (COC) yang selama ini tersendat. Sebaliknya, jika persaingan kembali memanas, Indonesia berisiko terjebak dalam tekanan untuk memilih kubu.
Pasar keuangan regional juga akan mencermati perkembangan ini. Setiap sinyal perbaikan hubungan AS-China biasanya mendorong penguatan mata uang Asia, termasuk rupiah, dan meningkatkan selera risiko investor. Sebaliknya, ketegangan yang meningkat dapat memicu arus modal keluar dari negara berkembang.
Ke depan, apakah komitmen "kompetisi tanpa konfrontasi" ini akan bertahan menghadapi ujian nyata, seperti sengketa teknologi atau manuver militer di Selat Taiwan? Jawabannya akan menentukan arah stabilitas ekonomi dan keamanan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dalam beberapa tahun mendatang.



