Wabah Virus Sardin di Afrika Selatan: Antara Kelangsungan Penguin dan Ekonomi Nelayan
Baca dalam 60 detik
- Kematian massal sardin di sepanjang 2.600 km pantai Afrika Selatan dan Namibia dipicu oleh virus herpes pilchard (PHV), memicu perdebatan antara penutupan perikanan dan dampak ekonomi.
- Ilmuwan konservasi mendesak penghentian sementara penangkapan sardin untuk melindungi penguin Afrika yang terancam punah, sementara industri perikanan memperingatkan kerugian hingga 1,2 miliar rand.
- Hasil survei biomassa hidroakustik pada Desember 2025 akan menentukan kuota penangkapan dan nasib populasi sardin serta penguin ke depan.

Kematian massal ikan sardin (pilchard) yang melanda perairan Afrika Selatan sejak akhir Juli 2025 telah memicu ketegangan antara upaya konservasi dan kepentingan ekonomi nelayan. Ikan yang dijuluki “energy bars of the sea” ini ditemukan mati mengapung di laut dekat Saldanha Bay, lalu terdampar di pantai-pantai sekitar Cape Town, dan dalam beberapa pekan menyebar ke wilayah pesisir sepanjang 2.600 km, termasuk Henties Bay di Namibia dan Mbotyi di Provinsi Eastern Cape.
Virus herpes pilchard (PHV) diidentifikasi sebagai penyebab utama. Virus ini spesifik menyerang sardin dan tidak berbahaya bagi manusia atau hewan yang mengonsumsi ikan terinfeksi. Meski demikian, sumber masuknya virus masih ditelusuri; dugaan mengarah pada impor sardin beku dari industri pengalengan atau umpan nelayan komersial. Sebuah studi tahun 2016 telah memperingatkan risiko ini karena populasi sardin Afrika Selatan sebelumnya belum terpapar PHV.
Dampak ekologisnya signifikan. Sardin merupakan makanan utama bagi penguin Afrika yang berstatus kritis, anjing laut, lumba-lumba, dan berbagai spesies ikan. Sementara itu, perikanan sardin komersial menyumbang miliaran rand dan ribuan lapangan kerja. “Kami belum pernah menghadapi peristiwa sebesar ini,” ujar Dr. Janet Coetzee dari Departemen Kehutanan, Perikanan, dan Lingkungan, yang mengetuai gugus tugas respons cepat.
Gugus tugas pemerintah pada awal September memutuskan untuk tidak menutup perikanan sardin secara total, dengan alasan bukti yang ada tidak menunjukkan penurunan populasi yang sangat besar. Namun, keputusan ini menuai kritik dari 12 ilmuwan independen dan organisasi konservasi yang menuntut penghentian sementara hingga hasil survei biomassa keluar. “Kami tidak tahu berapa banyak sardin yang mati karena sebagian besar tenggelam ke dasar laut,” kata Dr. Alistair McInnes dari BirdLife South Africa. “Yang kami tahu, peristiwa serupa di Australia sangat menghancurkan.”
McInnes menyoroti periode pergantian bulu penguin Afrika pada Oktober-Februari, saat kebutuhan makanan meningkat. “Ada kaitan erat antara kelangsungan hidup penguin dan biomassa sardin. Dampak keruntuhan perikanan—seperti yang terjadi di California dan Namibia—jauh lebih buruk daripada penutupan sementara,” tegasnya. Sementara itu, Asosiasi Industri Perikanan Pelagis Afrika Selatan memperingatkan bahwa moratorium akan melumpuhkan komunitas pesisir yang bergantung pada sektor ini.
Konteks Indonesia: Sebagai negara dengan keanekaragaman hayati laut tinggi, Indonesia menghadapi tantangan serupa dalam menyeimbangkan konservasi dan ekonomi nelayan. Kasus ini menjadi cermin pentingnya pengelolaan stok ikan berbasis data dan kesiapsiagaan terhadap wabah penyakit laut yang dapat berdampak pada ketahanan pangan dan ekspor perikanan.
Hasil survei hidroakustik yang dijadwalkan rilis awal Desember akan menjadi penentu. Jika biomassa sardin menurun drastis, tekanan untuk menutup perikanan akan menguat, dengan konsekuensi ekonomi yang besar. Sebaliknya, jika populasi dinilai cukup, nelayan dapat melanjutkan operasi pada Januari 2026. Keputusan ini tidak hanya menentukan nasib penguin Afrika, tetapi juga masa depan industri perikanan sardin di kawasan tersebut.



