Keajaiban di Nepal: Pekerja PLTA Bertahan 10 Hari di Dalam Terowongan, Tim Penyelamat Temukan Korban Selamat
Baca dalam 60 detik
- Seorang warga negara China ditemukan hidup di dalam terowongan proyek PLTA Upper Trishuli-1 setelah 10 hari terkubur material longsor, memicu harapan baru bagi pencarian ratusan korban hilang.
- Bencana yang dipicu gletser runtuh pada 26 Agustus telah menewaskan lebih dari 1.300 orang di Nepal dan China, dengan ribuan lainnya masih belum ditemukan, menjadikannya salah satu bencana terburuk di kawasan Himalaya.
- Keberhasilan penyelamatan ini menyoroti pentingnya respons cepat dan kerja sama internasional, namun juga memunculkan pertanyaan tentang kesiapsiagaan Indonesia menghadapi risiko serupa akibat perubahan iklim.

Tim penyelamat gabungan yang dipimpin Tentara Nepal berhasil mengeluarkan seorang warga negara China dari kedalaman 225 meter di dalam terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Upper Trishuli-1 di Distrik Rasuwa pada Sabtu (5/9). Pria yang diidentifikasi bernama Luhaitao itu ditemukan dalam kondisi selamat setelah terjebak selama sepuluh hari pasca-bencana dahsyat yang merenggut ratusan nyawa di kawasan perbatasan China-Nepal.
Operasi penyelamatan yang berlangsung dramatis ini menjadi titik terang di tengah duka mendalam yang menyelimuti Nepal. Sejak gelombang air dan lumpur setinggi tsunami menerjang wilayah tersebut pada 26 Agustus lalu, akibat runtuhnya gletser dan batuan dalam skala besar, sedikitnya 1.344 jenazah telah ditemukan di Nepal, sementara sekitar 5.000 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Di sisi China, otoritas setempat melaporkan 31 orang tewas dan 531 orang hilang, menjadikan total korban jiwa mencapai 1.375 orang dengan lebih dari 5.500 orang belum ditemukan.
Keberhasilan penyelamatan Luhaitao, yang menurut pernyataan militer Nepal kini menjalani pemeriksaan kesehatan, langsung memicu optimisme baru di antara tim penyelamat. Sehari sebelumnya, dua pekerja asal Nepal juga berhasil ditarik hidup-hidup dari terowongan Trishuli 3A setelah sembilan hari terperangkap. Mereka dievakuasi ke rumah sakit dalam kondisi stabil, sebuah pencapaian yang oleh para penyelamat disebut sebagai "keajaiban". Pemerintah Nepal sebelumnya memperkirakan lebih dari 100 pekerja mungkin masih hidup di dalam beberapa terowongan yang terkubur.
Bencana ini tidak hanya menimbulkan duka, tetapi juga menghancurkan infrastruktur vital. Setidaknya 12 proyek pembangkit listrik tenaga air di Nepal rusak parah, mengganggu pasokan listrik dan prospek ekonomi negara yang sangat bergantung pada energi hidro. Para ahli dari India, China, Australia, dan Korea Selatan telah dikerahkan untuk membantu pencarian korban di dalam terowongan-terowongan yang tersumbat. Sementara itu, Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, berjanji menyediakan akomodasi yang layak bagi ribuan warga yang mengungsi di kamp-kamp darurat. "Kami tahu tinggal di sana tidak mudah bagi Anda," tulisnya di media sosial, seraya berjanji menciptakan lingkungan yang memungkinkan mereka kembali bermimpi membangun masa depan.
Bagi Indonesia, bencana di Nepal ini menjadi pengingat akan kerentanan negara-negara berkembang terhadap dampak perubahan iklim. Meskipun Indonesia tidak memiliki gletser, risiko hidrometeorologi seperti banjir bandang dan tanah longsor sangat tinggi, terutama di daerah pegunungan dan aliran sungai. Kejadian ini menggarisbawahi pentingnya sistem peringatan dini yang efektif, tata kelola risiko bencana yang kuat, serta kerja sama regional dalam penanganan darurat. Investasi dalam infrastruktur yang tahan iklim dan pelatihan tim penyelamat khusus menjadi langkah krusial yang perlu dipertimbangkan.
Operasi pencarian di Nepal masih terus berlanjut, dengan fokus pada terowongan-terowongan yang diyakini masih menyimpan korban selamat. Juru bicara Angkatan Darat Nepal, Raja Ram Basnet, menegaskan bahwa pekerjaan di terowongan terus dilakukan untuk menemukan siapa pun yang mungkin masih hidup. Namun, dengan meluapnya kamar mayat dan proses pemakaman massal yang berjalan, pertanyaan besar pun mengemuka: berapa banyak lagi keajaiban yang mungkin terjadi, dan akankah dunia belajar dari tragedi ini untuk mencegah bencana serupa di masa depan?



