Luis Enrique Akui PSG Belum Siap Tempur di Piala Super UEFA: Jadwal Padat dan Pemain Baru Pulang dari Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Pelatih PSG, Luis Enrique, secara blak-blakan menyebut laga Piala Super UEFA kontra Aston Villa berisiko tidak berkelas karena skuadnya minim persiapan.
- Sebanyak 15 pemain PSG baru kembali dari Piala Dunia, dengan mayoritas baru bergabung kembali pada pekan ini, memaksa Enrique merotasi pemain yang sudah siap.
- Di tengah gempuran kritik terhadap FIFA dan UEFA, Enrique memilih fokus pada timnya dan menolak berkomentar soal gejolak politik sepak bola global.

Paris Saint-Germain (PSG) mengawali musim dengan misi mempertahankan trofi Piala Super UEFA, tetapi pelatih Luis Enrique justru memasang target realistis: jangan berharap laga kontra Aston Villa pada Rabu (11/8) dini hari WIB akan berjalan apik. Pasalnya, persiapan timnya berantakan akibat jadwal padat pasca-Piala Dunia yang baru usai tiga pekan lalu.
PSG, yang musim lalu menjuarai Piala Super untuk pertama kalinya setelah menaklukkan Tottenham Hotspur lewat adu penalti, kini dihadapkan pada lawan yang tak kalah tangguh: Aston Villa, juara Liga Europa. Namun, kondisi internal PSG jauh dari ideal. Sebanyak 15 pemainnya terlibat di Piala Dunia, termasuk Fabian Ruiz yang membawa Spanyol juara dan lima pemain Prancis yang menembus semifinal.
"Kami senang berada di sini karena itu berarti kami melakukan pekerjaan dengan baik musim lalu, tetapi dari segi persiapan, ini sangat sulit diatur," ujar Enrique dalam konferensi pers, Selasa (10/8). "Para pemain internasional baru saja kembali. Pemain Prancis, Spanyol, dan Maroko baru bergabung Senin kemarin, sedangkan pemain Brasil dan Portugal sudah seminggu. Ini situasi yang diciptakan oleh kalender."
Enrique dengan tegas menyatakan bahwa laga kontra Aston Villa tidak akan menampilkan level permainan terbaik. "Dalam hal pertandingan level atas besok, akan sulit melihat itu. Beberapa pemain kami nyaris tidak berlatih, tetapi mereka yang sudah siap akan bermain. Dari segi persiapan, ini bukan cara yang seharusnya," tambahnya.
Selain Piala Super UEFA, PSG juga akan mempertahankan gelar Piala Super Prancis melawan Lens akhir pekan ini. Meski demikian, Enrique menegaskan bahwa target utamanya adalah performa tim di akhir musim, bukan sekadar menambah koleksi trofi di awal. "Kami menetapkan target ambisius dan akan terus melakukannya. Kami mempersiapkan musim dengan cerdas dan ingin berada dalam kondisi terbaik di akhir musim, bukan di awal," jelasnya.
Di luar lapangan, dunia sepak bola tengah dilanda gejolak setelah FIFA membatalkan rencana menjual saham Piala Dunia kepada investor swasta akibat penolakan luas. UEFA bahkan mengancam akan memboikot kompetisi FIFA, dan posisi Presiden FIFA Gianni Infantino semakin tertekan. Saat dimintai komentar, Enrique memilih bungkam. "Saya fokus pada tim saya, pemain saya, dan bursa transfer. Saya tidak punya kata-kata tentang itu. Itu urusan politisi, saya bukan politisi. Saya punya opini, tapi bukan di sini," ujarnya singkat.
Kekhawatiran Enrique soal kesiapan tim juga diperparah oleh masalah non-teknis. Menurut laporan BBC, PSG mendapat alokasi ruang ganti tambahan di Salzburg karena mereka tidak puas dengan ruang ganti tandang yang lebih kecil dibandingkan ruang ganti kandang yang digunakan Aston Villa. Insiden ini menambah daftar keluhan PSG di tengah persiapan yang sudah mepet.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, situasi ini menegaskan bahwa kalender internasional yang padat kerap menjadi momok bagi klub-klub besar Eropa. Dampaknya bisa dirasakan hingga ke Asia, termasuk Indonesia, karena jadwal padat sering kali membuat pemain bintang kelelahan dan performa menurun. Pertanyaan besarnya, akankah UEFA dan FIFA segera mencari solusi atas konflik kalender yang terus berulang, atau justru semakin memperlebar jurang antara kepentingan klub dan tim nasional?



