Fruktosa Dikaitkan dengan Penyebaran Kanker Ovarium: Studi Baru Ungkap Peran Gula dalam Metastasis
Baca dalam 60 detik
- Studi praklinis dari The Wistar Institute menemukan bahwa sel kanker ovarium yang bertahan dari kemoterapi melepaskan fruktosa, yang justru memicu sel kanker lain untuk menyebar.
- Fruktosa bekerja dengan menurunkan produksi kolesterol, 'lem seluler' yang menjaga sel kanker tetap bersama, sehingga memudahkan pelepasan dan metastasis.
- Temuan ini membuka peluang intervensi diet dan obat, namun masih memerlukan validasi lebih lanjut pada manusia sebelum dapat diterapkan dalam perawatan.

Sebuah studi praklinis yang diterbitkan di jurnal Nature Aging mengungkap keterkaitan mengejutkan antara fruktosa, gula yang umum ditemukan dalam buah dan sirup jagung fruktosa tinggi, dengan penyebaran kanker ovarium. Para peneliti dari The Wistar Institute di University of Pennsylvania menemukan bahwa sel-sel kanker yang bertahan dari kemoterapi melepaskan fruktosa, yang kemudian 'memerintahkan' sel kanker lainnya untuk mempercepat metastasis. Temuan ini membuka perspektif baru mengenai peran diet dalam perkembangan kanker, sekaligus menyoroti efek samping kemoterapi yang selama ini kurang disadari.
Kanker ovarium merupakan salah satu keganasan ginekologi dengan tingkat kematian tinggi, sebagian besar karena diagnosis terlambat. Di Amerika Serikat, diperkirakan 21.010 kasus baru akan terdiagnosis pada 2026, dengan tingkat kelangsungan hidup relatif lima tahun hanya 52%. Kemoterapi memang menjadi andalan, tetapi tidak jarang sel-sel kanker resisten dan tetap bertahan, memicu kekambuhan dan metastasis. Penelitian ini mencoba mengungkap mekanisme di balik fenomena tersebut, dan hasilnya menunjuk pada fruktosa sebagai 'bahan bakar' yang mempercepat penyebaran.
Para ilmuwan mengumpulkan sel kanker ovarium yang telah terpapar kemoterapi dan bertahan hidup. Mereka kemudian mengekstrak molekul sinyal yang dilepaskan sel-sel tersebut dan memaparkannya ke sel kanker lain. Hasilnya, sel-sel yang menerima sinyal tersebut menunjukkan peningkatan kemampuan menyebar. Analisis lebih lanjut mengungkap bahwa fruktosa adalah kunci sinyal tersebut. Fruktosa bekerja dengan menurunkan produksi kolesterol—yang berperan sebagai 'lem' yang merekatkan sel-sel kanker—sehingga sel-sel lebih mudah terlepas dan bermigrasi.
Yang lebih mengkhawatirkan, tim peneliti juga menemukan bahwa diet tinggi fruktosa saja, tanpa kemoterapi, sudah cukup untuk meningkatkan penyebaran kanker pada model hewan. Ini menyiratkan bahwa konsumsi gula berlebih, terutama dari minuman manis dan makanan olahan, dapat memperburuk prognosis pasien kanker. Katherine Aird, PhD, penulis senior studi ini, menegaskan bahwa temuan ini tidak berarti pasien harus berhenti menjalani kemoterapi, melainkan menjadi dasar untuk memahami efek negatif kemoterapi agar dapat dicegah.
Nathan Goodyear, MD, seorang dokter pengobatan integratif yang tidak terlibat dalam studi, menyoroti pergeseran paradigma bahwa metabolisme—bukan hanya genetika—menjadi pendorong utama metastasis. Ia juga mengkritik praktik rumah sakit yang menyediakan makanan olahan tinggi gula bagi pasien kemoterapi, yang justru dapat memperburuk kondisi. Sementara itu, Ami Vaidya, MD, Co-Chief Divisi Onkologi Ginekologi di Hackensack University Medical Center, menyebut temuan ini sebagai 'penemuan paling mencolok' yang membuka peluang terapi baru, seperti intervensi diet atau obat yang menargetkan jalur fruktosa-kolesterol.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat tingginya konsumsi gula masyarakat, terutama dari minuman manis dan makanan olahan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi kanker ovarium yang cukup signifikan, dan banyak pasien baru terdiagnosis pada stadium lanjut. Edukasi mengenai pola makan sehat, terutama mengurangi gula tambahan, dapat menjadi langkah preventif yang penting. Namun, para ahli mengingatkan bahwa hasil ini masih bersifat praklinis dan belum dapat langsung diterapkan pada manusia.
Ke depan, tim peneliti berencana meneliti obat diabetes yang telah disetujui FDA yang berpotensi menekan produksi fruktosa dari sel yang bertahan dari kemoterapi. Mereka juga berharap dapat berkolaborasi dengan dokter untuk memahami hubungan asupan diet dengan luaran pasien. Meski demikian, pasien tetap disarankan untuk berkonsultasi dengan tim onkologi mereka sebelum membuat keputusan terkait pengobatan atau perubahan gaya hidup.
Pertanyaan yang muncul: apakah konsumsi gula harian kita, yang sering dianggap sepele, dapat menjadi faktor penentu dalam perjalanan penyakit kanker? Studi ini memberikan pijakan awal untuk menjawabnya, namun jalan menuju aplikasi klinis masih panjang.



