Maskapai Vietnam Sun PhuQuoc Airways Borong 8 Airbus A330, Siap Ekspansi ke Pasar Internasional
Baca dalam 60 detik
- Sun PhuQuoc Airways, maskapai asal Vietnam, akan menerima delapan pesawat wide-body Airbus A330 secara bertahap hingga April 2027 untuk mendukung rute internasional.
- Langkah ini menandai ambisi maskapai yang baru beroperasi setahun untuk bersaing di kancah global, dengan fokus pada pasar Korea Selatan, Jepang, dan Australia.
- Ekspansi armada ini juga membuka peluang kerja sama bagi industri aviasi regional, termasuk Indonesia, dalam hal pelatihan pilot dan perawatan pesawat.

Maskapai asal Vietnam, Sun PhuQuoc Airways, mengumumkan rencana kedatangan delapan pesawat berbadan lebar Airbus A330 dalam dua gelombang, dengan dua unit pertama dijadwalkan tiba bulan depan dan langsung dioperasikan. Langkah ini menjadi sinyal kuat bagi ambisi ekspansi internasional maskapai yang baru beroperasi sejak November lalu.
Dua pesawat A330 pertama akan mendarat di Vietnam pada September 2024 dan langsung melayani rute-rute jarak jauh. Dua unit tambahan menyusul pada akhir tahun ini, sementara empat unit lainnya dijadwalkan tiba pada kuartal pertama 2027. Dengan tambahan armada ini, Sun PhuQuoc menargetkan penguatan konektivitas ke sejumlah negara, termasuk Korea Selatan, Rusia, Kazakhstan, Jepang, dan Australia.
Keputusan ini diumumkan melalui akun Facebook resmi maskapai, yang juga mengungkapkan rencana jangka panjang untuk menerima 40 unit Boeing 787-9 Dreamliner mulai 2031. Secara keseluruhan, Sun PhuQuoc menargetkan armada hingga 100 pesawat pada akhir 2035, sebuah lompatan besar bagi maskapai yang selama ini fokus melayani wisatawan ke Pulau Phu Quoc, destinasi wisata bahari di selatan Vietnam.
Langkah ekspansi ini menarik dicermati, terutama di tengah persaingan ketat industri penerbangan Asia Tenggara. Maskapai seperti Vietjet dan Bamboo Airways telah lebih dulu menguasai pangsa pasar domestik dan internasional. Namun, Sun PhuQuoc mencoba membedakan diri dengan fokus pada rute-rute baru yang belum banyak dilayani, seperti Kazakhstan dan Rusia, yang justru menjadi celah pasar potensial.
Dari sisi operasional, maskapai ini juga menjalin kemitraan dengan BAA Training, organisasi pelatihan penerbangan asal Lithuania, untuk program pelatihan pilot pada pesawat narrow-body Airbus A320. Kerja sama ini menunjukkan keseriusan Sun PhuQuoc dalam membangun sumber daya manusia yang kompeten, sejalan dengan ekspansi armada yang agresif.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi ganda. Di satu sisi, kehadiran maskapai Vietnam yang semakin agresif dapat memperketat persaingan di rute-rute internasional yang selama ini menjadi andalan Garuda Indonesia dan Lion Air Group. Di sisi lain, ekspansi ini membuka peluang kerja sama di bidang perawatan pesawat (MRO) dan pelatihan pilot, mengingat Indonesia memiliki industri aviasi yang cukup maju dengan banyaknya sekolah penerbangan dan fasilitas perawatan.
Pengamat penerbangan menilai bahwa langkah Sun PhuQuoc merupakan bagian dari tren maskapai Asia Tenggara yang berlomba-lomba memperkuat armada wide-body untuk menangkap pertumbuhan permintaan perjalanan jarak jauh pasca-pandemi. "Mereka melihat peluang di rute-rute yang belum terlayani dengan baik, dan dengan biaya operasional yang efisien, mereka bisa menawarkan harga kompetitif," ujar seorang analis yang enggan disebutkan namanya.
Namun, tantangan besar menanti. Maskapai ini harus bersaing dengan pemain mapan seperti Singapore Airlines dan Thai Airways di rute yang sama. Selain itu, ketidakpastian geopolitik, terutama terkait sanksi terhadap Rusia, dapat mempengaruhi kelancaran operasi di rute tersebut. Meski demikian, dengan dukungan pemerintah Vietnam yang gencar mempromosikan pariwisata, Sun PhuQuoc optimistis dapat merebut pangsa pasar.
Ke depan, publik akan mencermati apakah maskapai ini mampu mempertahankan komitmen pengiriman pesawat tepat waktu, mengingat industri penerbangan global masih dibayangi masalah rantai pasok dan kekurangan suku cadang. Apakah Sun PhuQuoc akan menjadi pemain baru yang disegani atau sekadar nama yang berlalu? Waktu yang akan menjawab, namun langkah berani ini setidaknya menunjukkan bahwa persaingan di langit Asia Tenggara semakin memanas.



