Epidemi Senyap Kanker Mulut di Papua Nugini: Tradisi Sirih Pinang dan Tantangan Deteksi Dini
Baca dalam 60 detik
- Papua Nugini mencatat insiden kanker mulut tertinggi di dunia, didorong kebiasaan mengunyah pinang yang mengakar kuat dalam budaya setempat.
- Kurangnya registri kanker nasional dan keterbatasan keterampilan dokter gigi memperparah keterlambatan diagnosis, sehingga banyak pasien datang saat penyakit sudah lanjut.
- Program pelatihan deteksi dini yang melibatkan ahli Australia mulai menjangkau 12 provinsi, namun tanpa kebijakan global pengendalian pinang, epidemi ini berisiko terus meluas.

Di balik keramahan dan senyum khas masyarakat Papua Nugini, tersembunyi ancaman kesehatan yang serius: kebiasaan mengunyah pinang yang telah mengakar selama generasi, kini memicu lonjakan kasus kanker mulut. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat negara ini memiliki tingkat kejadian kanker mulut tertinggi di dunia, melampaui 185 negara lain, sebuah fakta yang jarang terungkap di permukaan.
Kebiasaan mengunyah "betel quid"—campuran buah pinang mentah, biji sesawi, dan kapur sirih—bukan sekadar tradisi, melainkan ritual sosial yang digunakan untuk menyambut tamu, mengisi waktu senggang, hingga memulai percakapan. Kandungan alkaloid arecoline dalam pinang memberikan efek euforia dengan merangsang pelepasan dopamin, yang menjelaskan mengapa kebiasaan ini begitu adiktif dan sulit ditinggalkan. Namun, Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) di bawah WHO telah mengklasifikasikan arecoline sebagai zat yang mungkin bersifat karsinogenik bagi manusia.
Yang lebih memprihatinkan, praktik ini tidak mengenal batas usia. Di Port Moresby, ibu kota Papua Nugini, anak-anak kecil terlihat ikut mengunyah dan bahkan membantu menjual pinang di pinggir jalan. Urbanisasi telah memperluas akses terhadap buah pinang, yang awalnya hanya tumbuh di daerah pesisir, kini mudah ditemukan di seluruh negeri. Pedagang kaki lima menjamur di persimpangan jalan, memanfaatkan kemacetan untuk menawarkan pinang dan rokok kepada pengendara—sebuah gambaran betapa tingginya permintaan akan produk ini.
Menurut data WHO Global Cancer Observatory, India, Bangladesh, dan Pakistan menyusul di belakang Papua Nugini dalam hal insiden kanker mulut, dengan faktor tembakau juga berperan. Namun, di Papua Nugini, tantangannya lebih kompleks karena negara ini belum memiliki registri kanker nasional, sehingga beban sebenarnya dari penyakit ini tidak diketahui secara pasti. Sebuah survei terhadap dokter gigi pada tahun 2024 mengungkapkan adanya kesenjangan pengetahuan dalam mengidentifikasi "gangguan mulut yang berpotensi menjadi ganas" (OPMDs), yang menjadi penghambat utama deteksi dini.
Untuk menjawab tantangan ini, divisi kedokteran gigi di Universitas Papua Nugini berkolaborasi dengan para ahli Australia meluncurkan program pelatihan tahunan bagi dokter gigi di 22 provinsi. Program ini fokus pada pemeriksaan visual mulut dan pengenalan dini perubahan warna atau ketebalan lapisan dalam mulut. Hingga saat ini, dokter gigi dari 12 provinsi telah mengikuti pelatihan tersebut, dan diharapkan mereka dapat meneruskan pengetahuan ini ke rekan-rekan di daerah serta mengadvokasi penyediaan area skrining khusus di klinik gigi.
Menariknya, sebuah studi yang membandingkan campuran pinang yang dikunyah di lima wilayah Indonesia menemukan konsentrasi arecoline tertinggi terdapat pada campuran yang dikunyah oleh masyarakat Papua Barat. Hal ini memberikan konteks penting bagi Indonesia, yang juga memiliki prevalensi mengunyah pinang yang tinggi, terutama di wilayah timur. Meskipun Indonesia belum memiliki data nasional yang komprehensif, risiko yang dihadapi Papua Nugini dapat menjadi cermin bagi Indonesia untuk memperkuat upaya pencegahan dan deteksi dini.
Berbeda dengan pengendalian tembakau yang memiliki konvensi global, belum ada kebijakan internasional yang mengatur buah pinang. Para peneliti mendesak perlunya studi lebih lanjut di negara-negara Pasifik dan Asia Tenggara untuk mengembangkan kebijakan pengendalian yang efektif. Sementara itu, di Papua Nugini, proyek skrining dan deteksi dini terus berjalan, dengan harapan dapat mengurangi beban penyakit ini secara bertahap.
Pertanyaan yang kini menggantung: akankah upaya pelatihan dan advokasi ini cukup untuk mengubah arah epidemi yang telah mengakar kuat dalam budaya? Atau justru diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif, termasuk regulasi penjualan dan edukasi publik yang masif, untuk benar-benar menekan angka kejadian kanker mulut di kawasan Pasifik?



