Konser Tanpa Ponsel: Ajakan Keras Boyband Cortis yang Memicu Perdebatan di Kalangan Penggemar
Baca dalam 60 detik
- Boyband asal Korea Selatan, Cortis, melarang penggunaan ponsel selama konser tur dunia mereka, memicu reaksi beragam dari penggemar yang terbiasa mengabadikan momen.
- Fenomena ini mencerminkan pergeseran budaya di industri musik global, di mana interaksi langsung antara artis dan penonton dianggap lebih berharga daripada dokumentasi digital.
- Di Indonesia, tren serupa mulai terlihat di konser-konser lokal, namun penggemar masih terbelah antara keinginan untuk menikmati momen dan kebutuhan untuk berbagi di media sosial.

Boyband K-pop pendatang baru, Cortis, memulai tur dunia mereka di Incheon, Korea Selatan, dengan sebuah permintaan yang tidak biasa: "Letakkan ponsel kalian." Teriakan yang diulang-ulang oleh para member ini bukan sekadar seruan panggung, melainkan inti dari kampanye mereka yang bertajuk "Put Your Phone Down". Ajakan ini sontak memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar, yang selama ini menganggap merekam konser sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya K-pop.
Tur yang dimulai pada 18 Juli ini akan menjangkau kota-kota besar seperti New York dan Los Angeles, sebelum kembali ke Seoul pada akhir bulan. Bagi Cortis, pesan ini adalah wujud nyata dari nama band mereka yang terinspirasi dari frasa "colour outside the lines" โ sebuah filosofi untuk menolak kepatuhan pada aturan sosial, termasuk godaan untuk terus-menerus menatap layar ponsel. Namun, di balik idealisme tersebut, terdapat benturan dengan realitas penggemar yang telah menginvestasikan banyak uang dan waktu untuk menyaksikan idola mereka.
Park Ji-yeon, seorang penggemar berusia 22 tahun, mengaku sengaja menyewa smartphone kelas atas untuk dua hari konser Cortis demi mendapatkan kualitas rekaman terbaik. "Saya berdiri di barisan depan dan tidak bisa meletakkan ponsel saya karena saya tidak tahu apakah saya akan mendapat kesempatan ini lagi," ujarnya. Ia menambahkan bahwa merekam konser adalah caranya untuk mengabadikan memori yang mungkin memudar begitu ia meninggalkan venue. Sikap ini kontras dengan penggemar lain seperti Kim Ga-eun (25) yang justru menikmati momen tanpa layar, menyaksikan penonton di belakangnya berdansa bersama dengan penuh semangat.
Fenomena ini bukan hanya milik Cortis. Sejumlah musisi global seperti Phoebe Bridgers dan Alicia Keys telah mewajibkan penonton menggunakan kantong pengunci ponsel, sementara vokalis Suede, Brett Anderson, bahkan pernah melompati barikade untuk merampas ponsel penggemar di Singapura. Billie Eilish dan BTS pun pernah melontarkan permintaan serupa. Namun, yang membedakan Cortis adalah cara mereka menyampaikan pesan ini secara terang-terangan dan menjadikannya tema tur, yang memicu reaksi keras dari penggemar yang merasa hak mereka untuk mendokumentasikan momen terenggut.
Di Indonesia, di mana industri musik K-pop memiliki basis penggemar yang besar, isu ini relevan. Banyak penggemar Indonesia yang rela merogoh kocek dalam untuk menonton konser, dan fenomena fancam โ video close-up artis yang diunggah ke media sosial โ telah menjadi budaya yang mengakar. Ajakan seperti yang dilakukan Cortis bisa menjadi preseden bagi artis-artis yang tampil di Indonesia, namun perlu dipertimbangkan bahwa bagi sebagian penggemar, merekam adalah cara untuk berbagi kebahagiaan dengan komunitas yang lebih luas.
Menariknya, setelah hari pertama konser, muncul keluhan di kalangan penggemar tentang intensitas pesan anti-ponsel ini. Park mengungkapkan kekesalannya, "Saya menghabiskan banyak uang, dan terus-menerus diminta meletakkan ponsel membuat sebagian penggemar frustrasi." Menanggapi hal ini, Cortis tampaknya melunak pada hari kedua. Kim Ga-eun mencatat perubahan nada: "Pada hari pertama, pesannya lebih seperti 'Ayo letakkan ponsel dan bersenang-senang bersama.' Hari kedua, mereka berkata, 'Kami paham mengapa kalian ingin merekam, tapi mari pastikan kita menikmati konser bersama.'"
Pergeseran ini menunjukkan bahwa meskipun artis ingin mendorong interaksi langsung, mereka juga harus berkompromi dengan budaya penggemar yang sudah mendarah daging. Pertanyaannya, apakah tren ini akan mengubah cara penggemar di Indonesia dan seluruh dunia menikmati konser di masa depan? Atau justru menjadi bumerang bagi artis yang terlalu keras memaksakan kehendak? Yang jelas, dialog antara artis dan penggemar tentang etika bermedia sosial di ruang publik akan terus berlanjut, dan keputusan Cortis untuk menyesuaikan pesan mereka bisa menjadi pelajaran berharga bagi industri musik secara keseluruhan.



