Sutradara James Gray: AI Tak Akan Pernah Mampu Meniru Sentuhan Manusia dalam Film
Baca dalam 60 detik
- Sutradara James Gray menilai AI tidak akan pernah bisa meniru gaya khas seorang sutradara, sehingga dianggapnya 'tidak berguna' dalam industri film.
- Gray mengkritik obsesi industri terhadap kebaruan, yang menurutnya lebih didorong oleh kepentingan kapitalisme dan hak cipta daripada nilai artistik.
- Pernyataan ini memicu perdebatan tentang peran AI di masa depan, terutama di tengah meningkatnya penggunaan teknologi dalam produksi film.

Sutradara kenamaan James Gray, yang dikenal lewat karya-karya seperti Ad Astra dan The Lost City of Z, melontarkan kritik tajam terhadap kecerdasan buatan (AI) dalam industri perfilman. Dalam wawancara dengan Variety, Gray dengan tegas menyebut AI sebagai sesuatu yang "tidak berguna" dan meragukan dampak besarnya yang selama ini diprediksi banyak pihak. Baginya, kehadiran AI tidak akan pernah mampu menggantikan sentuhan personal seorang sutradara dalam menciptakan karya yang otentik.
Gray, yang kini berusia 57 tahun, menilai bahwa potensi pengaruh AI dalam industri film telah dilebih-lebihkan. Ia justru melihat bahwa penonton semakin menghargai orisinalitas dan keaslian sebuah karya. "Gagasan bahwa kita harus selalu mencoba menjadi 'baru'... itu tidak berarti apa-apa," ujarnya. "Banyak orang berkata: 'Oh, penting bagi sebuah karya untuk segar.' Semakin tua saya, semakin saya menyadari bahwa pengejaran itu adalah kebodohan."
Lebih jauh, Gray menjelaskan bahwa selera sinematiknya terbentuk pada akhir 1970-an, dipengaruhi oleh film-film yang lahir jauh sebelum zamannya. Baginya, ini bukan upaya sadar untuk membuat pernyataan, melainkan perpanjangan dari identitas dirinya. "Saya pikir penting untuk merangkul siapa diri kita, terutama seiring bertambahnya usia," tegasnya. Gray juga menyoroti bahwa banyak maestro seni justru 'mencuri' dari karya-karya lama, seperti Picasso yang terinspirasi seni Afrika kuno, atau Stanley Kubrick yang meminjam dari film bisu untuk The Shining dan 2001: A Space Odyssey.
Menurut Gray, obsesi terhadap kebaruan sebenarnya adalah konsep bisnis yang berakar pada hak cipta dan kapitalisme, bukan pada nilai-nilai universal seperti emosi, keindahan, dan transendensi. "Apa yang segar di kulkasmu hari ini akan basi besok," katanya dengan metafora yang tajam. Ia juga mengkritik penggunaan angka box office sebagai satu-satunya tolok ukur kesuksesan sebuah film. "Jika itu satu-satunya ukuranmu, maka kamu ingin menghilangkan risiko โ padahal risiko adalah keunikan dan subversi, semua hal yang kita hargai dalam film," tambahnya.
Gray juga menegaskan bahwa ia ingin setiap filmnya memiliki jejak khas yang mudah dikenali. "Saya tidak pergi ke lokasi syuting dan berkata: 'Saya akan menunjukkan pada dunia bahwa ini saya dalam adegan ini.' Itu gila. Tapi saya pikir bagus ketika saya bisa melihat tangan sutradara dan mengenali mereka hanya dari satu adegan," jelasnya. Ia menambahkan, "Ada banyak masalah dengan teori auteur, tapi hebatnya kamu bisa mengidentifikasi film John Ford atau Alfred Hitchcock hanya dari penempatan kamera dan ritme adegan. Itulah mengapa AI sangat tidak berguna. Ia tidak akan pernah bisa melakukan itu."
Pernyataan Gray ini muncul di tengah maraknya penggunaan AI dalam berbagai aspek produksi film, mulai dari penulisan skenario hingga efek visual. Di Indonesia, industri perfilman juga mulai merambah teknologi serupa, meski masih dalam tahap awal. Beberapa sineas muda tanah air mulai bereksperimen dengan AI untuk membantu proses kreatif, namun Gray mengingatkan bahwa teknologi tidak akan pernah bisa menggantikan kepekaan artistik manusia. "AI mungkin bisa membantu teknis, tapi jiwa sebuah film tetap lahir dari pengalaman dan intuisi sutradaranya," ujarnya.
Pandangan Gray ini tentu memicu perdebatan. Di satu sisi, AI menawarkan efisiensi dan kemungkinan baru yang menarik. Namun di sisi lain, kekhawatiran tentang hilangnya sentuhan manusia dalam seni semakin menguat. Pertanyaannya, apakah industri film akan semakin bergantung pada AI, atau justru semakin menghargai keunikan yang hanya bisa diberikan oleh manusia? Gray tampaknya telah menjawabnya dengan tegas: "AI tidak akan pernah bisa melakukan itu."



