DeepSeek Lanjutkan Putaran Pendanaan Kedua, Targetkan Dana Hampir US$8 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Startup AI China DeepSeek kembali membuka putaran pendanaan kedua dengan target dana hampir US$8 miliar, setelah sempat ditangguhkan pada Juli lalu.
- Valuasi yang diincar mencapai 500 miliar yuan (sekitar US$74 miliar), menandakan kepercayaan investor yang kuat di tengah ketatnya persaingan AI global.
- Kesepakatan ini berpotensi mempengaruhi peta persaingan AI di Asia, termasuk mendorong adopsi teknologi serupa di Indonesia.

Startup kecerdasan buatan (AI) asal China, DeepSeek, dikabarkan kembali melanjutkan putaran pendanaan keduanya dengan target mengumpulkan dana hampir US$8 miliar. Kabar ini muncul setelah sebelumnya perusahaan sempat menunda proses tersebut pada akhir Juli lalu. Menurut laporan Bloomberg yang mengutip sumber internal, perusahaan sedang dalam pembicaraan dengan Monolith Management, sebuah firma manajemen investasi, untuk ikut serta dalam pendanaan ini.
DeepSeek membidik valuasi sekitar 500 miliar yuan atau setara US$74 miliar. Angka ini menunjukkan ambisi besar perusahaan untuk bersaing di panggung AI global, terutama melawan raksasa seperti OpenAI dan Google. Sebelumnya, Reuters pada Juli melaporkan bahwa DeepSeek berencana meluncurkan putaran pendanaan baru dengan valuasi serupa sebagai langkah awal menuju penawaran umum perdana (IPO) di daratan China.
Namun, rencana tersebut sempat tertunda. Bloomberg melaporkan bahwa DeepSeek telah memberi tahu calon investor bahwa putaran kedua ditangguhkan untuk sementara waktu. Kini, dengan dimulainya kembali proses ini, pasar menilai bahwa perusahaan mungkin telah menyelesaikan kendala internal atau menunggu momentum yang lebih baik.
Langkah DeepSeek ini menarik perhatian karena terjadi di tengah meningkatnya tensi geopolitik antara China dan Amerika Serikat, terutama terkait pembatasan ekspor chip dan teknologi AI. Meski begitu, minat investor terhadap DeepSeek tetap tinggi, menunjukkan bahwa potensi keuntungan jangka panjang masih dianggap lebih besar daripada risiko regulasi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Adopsi AI di Indonesia sedang meningkat, terutama di sektor fintech, e-commerce, dan layanan publik. Kehadiran pemain besar seperti DeepSeek dapat mempercepat transfer teknologi dan mendorong inovasi lokal. Namun, hal ini juga menuntut kesiapan regulasi dan infrastruktur digital agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar konsumen, tetapi juga pemain aktif dalam ekosistem AI regional.
Menurut analis teknologi di Jakarta, langkah DeepSeek untuk kembali menggalang dana menunjukkan bahwa pasar modal masih optimis terhadap masa depan AI, meskipun ada gejolak ekonomi global. "Ini sinyal bahwa investor melihat AI sebagai sektor yang tahan banting, bahkan di tengah ketidakpastian," ujar seorang analis yang enggan disebut namanya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana DeepSeek akan menggunakan dana segar ini. Apakah akan fokus pada riset dan pengembangan model AI yang lebih canggih, atau justru ekspansi pasar ke Asia Tenggara? Jika yang terakhir, Indonesia bisa menjadi salah satu target utama, mengingat populasi digitalnya yang besar dan kebutuhan akan solusi AI yang terjangkau.
Dengan dimulainya kembali putaran pendanaan ini, persaingan di industri AI global dipastikan semakin memanas. Bagi Indonesia, ini adalah momen untuk memperkuat posisi sebagai hub AI regional, atau justru tertinggal jika tidak segera beradaptasi.



