Menperin Canangkan Tiga Arahan: Startup RI Tak Cukup Banyak, Harus Mampu Bertahan dan Menjawab Kebutuhan Industri
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Perindustrian mengalihkan fokus dari kuantitas startup ke kualitas, dengan tiga arahan utama yang menekankan industri sebagai pasar pertama, peningkatan daya tarik investasi, dan penguasaan teknologi kunci.
- Di balik peringkat keenam dunia dengan 3.100 startup, ekosistem Indonesia hanya menempati posisi ke-45 secara global, mengindikasikan kesenjangan antara jumlah dan daya saing.
- Dengan pendanaan startup yang merosot 49 persen pada 2025, arahan ini menjadi uji nyata bagi kemampuan pemerintah dalam menjembatani kebutuhan industri dengan inovasi anak negeri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa masa depan startup nasional tidak lagi diukur dari banyaknya perusahaan rintisan yang lahir, melainkan dari kemampuan mereka untuk bertahan dan menjadi tulang punggung industrialisasi. Dalam peluncuran Indo Startup Expo & Forum 2026 di Jakarta, Kamis, ia menyampaikan tiga arahan strategis yang ia sebut sebagai 'call for action' bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk dirinya sendiri.
Arahan pertama mengubah paradigma pembinaan menjadi permintaan. Agus memerintahkan seluruh unit di Kementerian Perindustrian untuk mengidentifikasi persoalan konkret di sektor industri yang bisa diselesaikan melalui teknologi, sehingga industri nasional menjadi pasar pertama bagi produk startup. Ini adalah pergeseran yang signifikan: pemerintah tidak lagi sekadar memberi pelatihan, tetapi aktif memesan solusi dari anak negeri.
Kedua, ia menyoroti mutu dan kelayakan investasi. Indikator keberhasilan ke depan, menurut Agus, bukan lagi jumlah startup baru, melainkan berapa banyak yang mampu bertahan, digunakan oleh industri, dan menarik minat investor. Ketiga, ia mendorong penguasaan teknologi kunci serta konsolidasi ekosistem yang masih terfragmentasi. Setiap kerja sama teknologi global harus menghasilkan manfaat terukur, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia hingga tumbuhnya kemampuan desain dan produksi dalam negeri.
Di balik optimisme tersebut, data menunjukkan pekerjaan rumah yang besar. Berdasarkan Startup Ranking, Indonesia memang unggul dalam jumlah, namun kualitas ekosistemnya masih tertinggal. Tantangan utamanya, seperti diungkapkan Agus, adalah kemampuan startup untuk bertahan, tumbuh, mendapatkan pendanaan, dan menyelesaikan persoalan konkret industri. Kondisi ini diperparah oleh penurunan pendanaan yang hampir setengahnya pada tahun lalu, sebuah sinyal bahwa investor semakin selektif.
Bagi Indonesia, arahan ini memiliki implikasi langsung. Dengan 4,43 juta unit Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang mencakup 99,79 persen dari seluruh unit industri, pasar domestik adalah ladang yang belum digarap optimal. Agus menekankan bahwa startup di negara lain harus bersusah payah mencari masalah, sementara di Indonesia masalah sudah 'mengantre di depan pintu'. Ini adalah keunggulan komparatif yang tidak dimiliki banyak negara.
"Nilai tambah tidak lahir hanya dari kapasitas produksi yang diperluas, tetapi dari teknologi. Di sinilah peran startup menjadi sangat penting," ujar Agus dalam sambutannya.
Namun, pertanyaannya adalah apakah arahan ini cukup untuk membalikkan tren pendanaan yang lesu. Para pelaku industri menilai bahwa tanpa insentif fiskal dan kemudahan regulasi, seruan moral semata tidak akan menarik investor. Selain itu, konsolidasi ekosistem yang tersebar membutuhkan koordinasi lintas kementerian, sesuatu yang kerap menjadi hambatan di masa lalu.
Ke depan, keberhasilan agenda ini akan terlihat dari seberapa cepat Kementerian Perindustrian menerjemahkan arahan menjadi program konkret, seperti skema pengadaan teknologi dari startup atau pendampingan untuk memenuhi standar industri. Jika berhasil, Indonesia tidak hanya akan naik peringkat dalam indeks global, tetapi juga menciptakan siklus di mana inovasi lokal menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Apakah para pemangku kepentingan mampu bergerak secepat kebutuhan industri?



