Krisis Tata Kelola FIFA Belum Usai: Infantino Menang di Rabat, tapi Reformasi Dipertanyakan
Baca dalam 60 detik
- FIFA meminta maaf kepada 211 anggota atas kegagalan komunikasi dalam proposal komersial Piala Dunia yang dibatalkan.
- Kritik dari UEFA, CONCACAF, dan AFC menyoroti pola pengambilan keputusan yang tidak konsultatif di FIFA.
- Meski Infantino diprediksi kembali terpilih pada 2027, tuntutan transparansi dan akuntabilitas akan semakin kuat.

Krisis internal terbesar selama kepemimpinan Gianni Infantino di FIFA mungkin telah mereda setelah pertemuan darurat di Rabat, Maroko, pekan ini. Namun, gelombang kritik terhadap tata kelola sepak bola dunia dipastikan tidak akan surut, terutama dengan pemilihan presiden FIFA yang akan digelar pada Maret 2027. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Infantino akan bertahan, melainkan apakah janji reformasi yang digaungkan akan benar-benar mengubah cara FIFA mengambil keputusan strategis.
Langkah FIFA meminta maaf kepada 211 asosiasi anggota atas kekeliruan dalam penanganan proposal penjualan hak komersial Piala Dunia yang akhirnya dibatalkan, menjadi pengakuan pertama atas kegagalan proses yang memicu pemberontakan terbesar selama masa jabatan Infantino. Dalam pernyataan resminya, FIFA mengakui bahwa proposal tersebut "seharusnya ditangani dengan cara berbeda" dan menegaskan tidak ada niat untuk mengesampingkan Dewan FIFA atau asosiasi anggota. Meski nada permintaan maaf ini terkesan menenangkan, banyak pihak menilai ini hanyalah upaya meredam amarah, bukan perubahan fundamental.
Kritik tidak hanya datang dari asosiasi kecil yang merasa tersisih, tetapi juga dari liga-liga Eropa yang mewakili lebih dari 1.300 klub. Mereka menyoroti tenggat waktu penilaian yang hanya empat pekan untuk proposal terpisah mengenai perluasan Piala Dunia 2030 dari 48 menjadi 64 tim. European Leagues menilai praktik semacam itu menunjukkan bahwa pemangku kepentingan sering kali hanya dihadapkan pada keputusan final, bukan dilibatkan dalam proses konsultasi. FIFA, di sisi lain, bersikeras bahwa semua tindakan terkait proposal komersial telah sesuai regulasi dan kekeliruan hanya terjadi pada aspek prosedur dan komunikasi, bukan pelanggaran tata kelola.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki relevansi langsung. Sebagai salah satu dari 211 anggota FIFA, PSSI memiliki hak suara yang sama dalam pemilihan presiden. Meski selama ini PSSI cenderung mendukung Infantino, kritik yang muncul dari konfederasi seperti UEFA, CONCACAF, dan AFC menunjukkan adanya ketidakpuasan yang meluas. Jika tren ini berlanjut, PSSI mungkin perlu mempertimbangkan posisinya secara lebih hati-hati, terutama jika tuntutan transparansi semakin menguat. Selain itu, keputusan FIFA mengenai perluasan Piala Dunia atau perubahan format kompetisi akan berdampak langsung pada peluang Timnas Indonesia untuk tampil di panggung dunia.
Di balik layar, Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafstrom sempat mengirim memo internal yang menyebut rangkaian peristiwa ini sebagai "menyedihkan dan tercela". Meski tidak menyebut nama Infantino, pernyataan Grafstrom bahwa "individu, momen tidak stabil, dan episode malang datang dan pergi" mengindikasikan adanya ketegangan di internal FIFA. Namun, di depan publik, keduanya menunjukkan keakraban dengan foto bersama di pertandingan Piala Afrika Wanita di Rabat. Langkah ini tampaknya disengaja untuk menampilkan citra soliditas, tetapi tidak serta-merta menghapus keraguan di benak banyak pihak.
Infantino sendiri masih diprediksi akan memenangkan pemilihan presiden pada 2027 tanpa pesaing yang berarti. Dukungan kuat dari asosiasi kecil di Afrika dan Asia, yang sangat bergantung pada dana pembangunan FIFA, menjadi modal politik utamanya. Namun, kontroversi ini telah mengalihkan sorotan pada proses pengambilan keputusan internal FIFA. Ke depan, setiap proposal yang menyangkut strategi komersial, perluasan turnamen, atau reformasi tata kelola akan menghadapi tuntutan transparansi, konsultasi, dan akuntabilitas yang jauh lebih besar. Pertanyaannya, akankah FIFA benar-benar berubah, atau hanya sekadar meredam gejolak sementara? Bagi sepak bola dunia, jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan kredibilitas organisasi di mata publik dan pemangku kepentingan.



