Laba SoftBank Anjlok 17,7% di Kuartal I, tapi Investasi AI Masih Jadi Andalan
Baca dalam 60 detik
- Pendapatan SoftBank naik 10,9% menjadi 2,02 triliun yen, tetapi laba bersih justru terkoreksi signifikan.
- Keuntungan investasi di Intel menyumbang 1,33 triliun yen, sementara valuasi OpenAI stagnan.
- Fokus besar pada AI membuat SoftBank rentan terhadap gejolak pasar teknologi global, termasuk dampaknya ke Indonesia.

SoftBank Group Corp. mencatatkan laba bersih 347,33 miliar yen (sekitar Rp36 triliun) pada kuartal pertama tahun fiskal 2026, atau periode April-Juni. Angka ini merosot 17,7% dibanding periode yang sama tahun lalu, meski perusahaan masih mengantongi keuntungan investasi dari kepemilikan saham di Intel Corp.
Pendapatan konglomerat teknologi asal Jepang ini justru tumbuh 10,9% menjadi 2,02 triliun yen. Namun, pertumbuhan pendapatan itu belum mampu menahan penurunan laba yang disebabkan oleh beban operasional dan dinamika valuasi portofolio investasi. SoftBank sendiri tidak menerbitkan proyeksi laba tahunan, dengan alasan ketidakpastian lingkungan bisnis yang masih tinggi.
Keuntungan investasi menjadi penopang utama kinerja kuartal ini. SoftBank mencatat gain 1,33 triliun yen dari investasinya di Intel, sementara valuasi investasi di OpenAI—pengembang ChatGPT—tidak berubah dibanding akhir kuartal sebelumnya. Total laba investasi mencapai 1,86 triliun yen, melonjak dari 486,95 miliar yen pada kuartal yang sama tahun lalu.
Lonjakan laba investasi ini menunjukkan bahwa SoftBank semakin agresif menempatkan modal di sektor-sektor yang terkait kecerdasan buatan (AI), termasuk semikonduktor, robotika, pusat data, dan infrastruktur energi. Strategi ini sejalan dengan visi jangka panjang pendiri SoftBank, Masayoshi Son, yang kerap menyebut AI sebagai 'revolusi berikutnya' yang akan mengubah peradaban.
Bagi Indonesia, pergerakan SoftBank memiliki relevansi yang tidak bisa diabaikan. Melalui Vision Fund, SoftBank telah menanamkan modal di berbagai startup Asia Tenggara, termasuk beberapa unicorn Indonesia seperti Tokopedia (sebelum merger dengan TikTok Shop) dan GoTo Group. Meski saat ini fokusnya bergeser ke AI, perubahan strategi SoftBank bisa berdampak pada ketersediaan modal ventura bagi ekosistem startup lokal.
Analis menilai bahwa penurunan laba SoftBank bukanlah sinyal negatif secara keseluruhan. Justru, konsistensi pendapatan dan pertumbuhan investasi menunjukkan bahwa perusahaan sedang dalam fase transisi menuju portofolio yang lebih berbasis AI. Namun, risiko tetap ada: jika gelembung AI pecah, SoftBank bisa menjadi korban terbesar, dan efeknya akan terasa hingga ke pasar modal Asia, termasuk Indonesia.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah SoftBank mampu mempertahankan momentum pertumbuhan investasi AI di tengah ketidakpastian regulasi dan perlambatan ekonomi global. Bagi investor Indonesia yang memiliki eksposur ke saham teknologi global, kinerja SoftBank bisa menjadi indikator awal arah pasar. Apakah ini saatnya berhati-hati, atau justru momentum untuk masuk lebih dalam ke sektor AI? Waktu yang akan menjawab.



