SoftBank Raup Untung dari Saham Intel, Laba Kuartalan Turun 18%
Baca dalam 60 detik
- Laba bersih SoftBank kuartal April-Juni tercatat 347,3 miliar yen, lebih rendah dari ekspektasi pasar, meski ada keuntungan investasi 1,86 triliun yen.
- Keuntungan terbesar berasal dari kepemilikan saham di Intel dan ByteDance, sementara valuasi OpenAI belum memberikan kontribusi pada kuartal ini.
- SoftBank berencana meminjam $10 miliar dengan jaminan saham OpenAI, dan memiliki komitmen investasi besar hingga 2026 yang menuntut likuiditas tinggi.

SoftBank Group mencatatkan laba bersih 347,3 miliar yen pada kuartal pertama tahun fiskal 2025, turun 18% dibanding periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini lebih kecil dari perkiraan analis, berkat keuntungan investasi dari kepemilikan saham di Intel yang sahamnya menguat. Namun, konglomerat teknologi asal Jepang itu tidak mencatat keuntungan valuasi dari kepemilikan sahamnya di OpenAI, pengembang ChatGPT, yang menjadi andalan utama portofolio mereka.
Di tengah sorotan global terhadap paparan perusahaan terhadap ledakan kecerdasan buatan (AI), investor kini semakin mengamati langkah Masayoshi Son, pendiri sekaligus CEO SoftBank, yang terus menggeber taruhan besar di sektor AI. Tahun lalu, SoftBank membukukan laba bersih rekor lebih dari 5 triliun yen, didorong oleh melonjaknya nilai kepemilikan saham di OpenAI. Namun, pada kuartal ini, kontribusi dari OpenAI belum terlihat, sementara keuntungan investasi sebesar 1,86 triliun yen lebih banyak berasal dari saham Intel dan ByteDance, induk TikTok.
Intel, yang kini dipimpin oleh Lip-Bu Tan, sekutu dekat Son, menjadi penyumbang terbesar keuntungan SoftBank. Investasi SoftBank di Intel dilakukan tahun lalu saat perusahaan semikonduktor itu sedang melakukan restrukturisasi. Saham Intel memang mengalami reli signifikan, memberikan keuntungan besar bagi SoftBank. Selain itu, SoftBank juga mengakui keuntungan dari kepemilikan sahamnya di ByteDance.
Nasib SoftBank kini semakin terikat dengan OpenAI, yang sedang mempersiapkan penawaran umum perdana (IPO) yang kemungkinan baru akan terjadi tahun depan. Total investasi SoftBank di OpenAI diperkirakan mencapai $64,6 miliar pada Oktober mendatang, dengan kepemilikan sekitar 13%. Keuntungan investasi kumulatif dari OpenAI sendiri telah mencapai $45 miliar.
Untuk mendanai komitmen investasinya, SoftBank telah menyetujui pinjaman $10 miliar pada Agustus ini, dengan menggunakan saham OpenAI sebagai jaminan. Sebelumnya, negosiasi pinjaman sempat terhambat karena kesulitan menilai valuasi OpenAI yang masih perusahaan privat. Langkah ini menunjukkan kepercayaan diri SoftBank terhadap potensi OpenAI, meskipun ada risiko yang menyertainya.
Son juga telah melepas sejumlah aset, termasuk kepemilikan di Nvidia dan T-Mobile, untuk membiayai investasi di perusahaan-perusahaan AI. Strategi ini sejalan dengan fokusnya yang semakin tajam pada AI, yang dianggapnya sebagai gelombang teknologi berikutnya.
Meski demikian, SoftBank masih menghadapi tantangan likuiditas yang signifikan. Perusahaan telah mengamankan pinjaman jembatan $40 miliar untuk menutupi komitmen investasi pada 2026, namun fasilitas ini akan jatuh tempo pada Maret 2027. Jika tidak mampu membayar atau refinancing, SoftBank bisa menghadapi tekanan keuangan. Selain itu, pada paruh kedua 2026, SoftBank berkomitmen untuk menginvestasikan tambahan $20 miliar di OpenAI, $5,4 miliar untuk mengakuisisi bisnis robotika ABB, dan $3,1 miliar untuk mengakuisisi DigitalBridge, investor infrastruktur digital.
Nilai aset bersih SoftBank sempat mencapai rekor tertinggi pada Juni, namun turun menjadi 58,3 triliun yen per 5 Agustus. Fluktuasi ini mencerminkan volatilitas pasar dan ketergantungan SoftBank pada kinerja perusahaan-perusahaan portofolionya, terutama di sektor teknologi.
Bagi investor Indonesia, pergerakan SoftBank menjadi sinyal penting. Banyak perusahaan teknologi Indonesia, seperti GoTo dan e-commerce, yang juga bergantung pada pendanaan ventura dan valuasi startup. Jika SoftBank menghadapi kesulitan likuiditas, bisa berdampak pada aliran modal ke startup Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Selain itu, keberhasilan OpenAI dan IPO-nya nanti akan menjadi barometer bagi industri AI global, yang juga akan memengaruhi adopsi AI di Indonesia.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah SoftBank mampu mempertahankan momentum keuntungan dari investasi AI-nya, terutama dengan jadwal pembayaran utang yang ketat. Apakah OpenAI akan segera melantai di bursa dan memberikan keuntungan valuasi yang dinantikan? Atau justru risiko yang lebih besar menanti? Hanya waktu yang akan membuktikan, namun langkah SoftBank akan terus menjadi sorotan bagi pelaku pasar global.



