Figma Naikkan Proyeksi Pendapatan Tahunan: Strategi AI Terbukti Menarik Pengguna
Baca dalam 60 detik
- Figma merevisi target pendapatan 2024 menjadi hingga US$1,47 miliar, didorong adopsi fitur AI yang meningkat.
- Laba kotor dan retensi pelanggan membaik, menandakan monetisasi AI mulai terlihat nyata.
- Saham sempat tertekan 10% karena laba tahunan dipertahankan, memicu kekhawatiran margin.

Figma, perusahaan pengembang perangkat lunak desain berbasis kolaborasi, mengerek proyeksi pendapatan tahunannya untuk kedua kalinya tahun ini. Langkah ini dipicu oleh permintaan yang solid terhadap produk-produknya, terutama setelah perusahaan gencar mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) ke dalam seluruh lini layanan. Keputusan ini sekaligus menegaskan bahwa strategi AI yang diusung sejak awal tahun mulai menuai hasil nyata.
Dalam laporan keuangan yang dirilis Rabu (5/8) waktu setempat, Figma menargetkan pendapatan tahun penuh di kisaran US$1,463 miliar hingga US$1,467 miliar. Titik tengah dari rentang itu mengindikasikan pertumbuhan sekitar 39 persen, melampaui proyeksi sebelumnya yang hanya 35 persen. Angka ini juga lebih tinggi dari perkiraan analis yang dihimpun LSEG, yang mematok pertumbuhan 36,1 persen. Pencapaian ini menunjukkan kepercayaan manajemen terhadap momentum adopsi AI di kalangan pengguna.
Figma, yang dikenal lewat platform berbasis browser untuk kolaborasi desain secara real-time, telah menanamkan AI di berbagai fitur, mulai dari asisten yang mampu mengedit file besar, mengubah tata letak, hingga mengeksekusi alur kerja bertingkat. Langkah ini dinilai berhasil menarik pengguna baru sekaligus mempertahankan pelanggan lama. CFO Figma, Praveer Melwani, mengungkapkan bahwa monetisasi AI mulai terlihat dari peningkatan retensi dolar dan laba kotor. "Kami melihat traksi nyata pada monetisasi AI... Ini mulai terlihat di tingkat retensi dolar dan laba kotor kami, dan semua itu karena Figma menawarkan sesuatu yang unik," ujarnya kepada Reuters.
Pada kuartal kedua yang berakhir 30 Juni, Figma membukukan pendapatan US$370,1 juta, melonjak 48 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Capaian ini jauh melampaui ekspektasi pasar yang mematok US$351,6 juta. Pertumbuhan ini tidak lepas dari meningkatnya adopsi AI untuk berbagai kebutuhan, mulai dari membuat sketsa, brainstorming, hingga coding dan peluncuran produk. Namun, di balik kinerja gemilang tersebut, saham Figma justru terpantau turun 10 persen dalam perdagangan setelah jam bursa. Penyebabnya, perusahaan mempertahankan proyeksi laba tahunan, memicu kekhawatiran bahwa investasi besar di AI akan menggerus margin keuntungan.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan Figma menjadi sinyal penting bagi ekosistem startup dan industri kreatif digital. Banyak perusahaan teknologi di Tanah Air, termasuk startup dan agensi desain, mengandalkan Figma sebagai alat kolaborasi utama. Adopsi AI yang semakin matang di Figma berpotensi meningkatkan efisiensi kerja tim desain, yang pada akhirnya dapat mempercepat siklus pengembangan produk. Namun, kekhawatiran akan kenaikan biaya langganan juga muncul, mengingat Figma mulai memonetisasi fitur AI secara terpisah. Para pelaku industri di Indonesia perlu mencermati apakah nilai tambah AI sebanding dengan biaya tambahan yang harus dikeluarkan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Figma mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas. Tekanan untuk membuktikan bahwa investasi AI tidak hanya mendongkrak pendapatan, tetapi juga menghasilkan laba yang sehat, akan menjadi ujian bagi manajemen. Jika berhasil, Figma tidak hanya akan memperkuat posisinya di pasar global, tetapi juga menjadi tolok ukur bagi perusahaan SaaS lain yang ingin mengadopsi strategi serupa. Sebaliknya, jika margin terus tertekan, investor mungkin akan semakin skeptis terhadap model bisnis berbasis AI.


