Saham SpaceX Diburu Investor Ritel di Tengah Aksi Jual Pasca-Laporan Laba
Baca dalam 60 detik
- Investor individu memborong saham SpaceX senilai US$22,7 juta pada jam pertama perdagangan, menandakan optimisme yang tak kunjung padam.
- Aksi beli ini terjadi setelah saham anjlok hingga 12,9% pasca laporan laba perdana, mencerminkan strategi 'beli saat jatuh' yang agresif.
- Jika tren berlanjut, Rabu berpotensi menjadi hari pembelian ritel terbesar kedua sejak IPO, menegaskan daya tarik SpaceX di mata investor publik.

Investor ritel kembali menunjukkan agresivitasnya dengan memborong saham SpaceX pada Rabu (5/8), hanya sehari setelah harga saham perusahaan merosot tajam pasca rilis laporan keuangan perdana sejak melantai di bursa. Data dari Vanda Research mencatat, dalam satu jam pertama perdagangan, investor individu membeli saham SpaceX senilai US$22,7 juta secara neto, menjadikannya volume pembelian jam pertama tertinggi ketiga sejak perusahaan melakukan penawaran umum perdana (IPO) pada 12 Juni lalu.
Fenomena ini menunjukkan bahwa investor ritel tidak gentar dengan aksi jual yang terjadi. Mereka justru melihat penurunan harga sebagai peluang untuk masuk dengan harga lebih murah. Vanda Research dalam catatannya menyebut bahwa perilaku ini menegaskan strategi 'dip-buying' yang semakin berani di kalangan investor individu. "Mereka menjadi lebih oportunis," tulis firma riset tersebut.
Jika laju pembelian ini bertahan hingga penutupan pasar, Rabu berpotensi menjadi hari kedua terbesar untuk pembelian bersih ritel sejak IPO, menggeser rekor sebelumnya yang tercatat pada 16 Juni dengan nilai US$144,6 juta. Yang lebih menarik, sejak debutnya di bursa, SpaceX belum pernah mencatatkan hari di mana investor ritel menjual sahamnya secara neto. Ini menandakan loyalitas dan kepercayaan yang tinggi dari investor publik terhadap perusahaan yang digawangi Elon Musk tersebut.
Laporan laba perdana SpaceX memang memicu gejolak. Saham perusahaan sempat terpukul hingga 12,9% karena kekhawatiran investor mengenai keberlanjutan bisnis Starlink yang selama ini menjadi mesin uang, sementara perusahaan gencar berinvestasi di bidang kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan dana besar. Meski demikian, volume perdagangan tetap solid, dengan total nilai transaksi menembus US$10,5 miliar hingga pukul 11.47 waktu setempat, menurut data LSEG.
Di tengah gejolak ini, SpaceX justru menjadi saham paling banyak dibeli oleh investor ritel di Amerika Serikat pada Rabu, mengungguli produsen chip Advanced Micro Devices (AMD) yang juga mengalami penurunan 6,5% pasca laporan kuartalannya. Hal ini mengindikasikan bahwa investor publik melihat penurunan harga SpaceX sebagai koreksi sementara, bukan awal dari tren negatif.
Bagi pasar Indonesia, fenomena ini memberikan pelajaran menarik tentang perilaku investor ritel di era digital. Meski SpaceX bukan perusahaan yang secara langsung terkait dengan pasar domestik, minat investor Indonesia terhadap saham teknologi global, termasuk melalui platform investasi asing, semakin meningkat. Fenomena 'dip-buying' ala investor ritel AS ini bisa menjadi cermin bagi investor lokal untuk lebih berani mengambil posisi saat terjadi koreksi, namun tetap dengan manajemen risiko yang matang.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah aksi beli ini akan berlanjut atau justru menjadi puncak optimisme. Dengan SpaceX yang terus menggelontorkan dana untuk proyek AI dan ekspansi Starlink, investor perlu mencermati apakah fundamental perusahaan mampu menopang valuasi yang tinggi. Jika laporan keuangan berikutnya kembali mengecewakan, bukan tidak mungkin aksi jual yang lebih dalam akan terjadi, dan investor ritel yang agresif ini akan menghadapi ujian kesabaran yang sesungguhnya.



