Modric Blak-blakan: Milan Terlalu Percaya Diri dan Kehilangan Tiket Liga Champions
Baca dalam 60 detik
- Gelandang veteran Luka Modric menyebut kepercayaan diri berlebihan sebagai biang keladi kegagalan AC Milan finis di empat besar Serie A musim lalu.
- Cedera tulang pipi yang dideritanya membuat Modric tak bisa membantu tim di laga-laga krusial, memicu tekadnya untuk menebus kegagalan musim ini.
- Keputusan Modric bertahan di San Siro diambil setelah mendengarkan kondisi fisik dan mentalnya, bukan karena desakan pihak luar.

Luka Modric angkat bicara mengenai kegagalan AC Milan merebut tiket Liga Champions musim lalu. Gelandang Kroasia itu menilai, salah satu faktor terbesar yang membuat I Rossoneri terpeleset di penghujung musim adalah rasa percaya diri yang berlebihan. Tim asuhan Stefano Pioli sempat bersaing ketat di papan atas, bahkan sempat mengancam Inter Milan dalam perburuan Scudetto, namun akhirnya harus puas finis di peringkat kelima.
Dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport, Modric mengakui bahwa dirinya merasa frustrasi karena tidak mampu memberikan kontribusi maksimal di saat-saat genting. Cedera tulang pipi yang dialaminya memaksanya menepi dari lapangan hijau, tepat ketika Milan membutuhkan semua pemain terbaiknya untuk mengamankan posisi di empat besar. โSaya kecewa tidak bisa membantu tim di pertandingan-pertandingan terpenting akhir musim karena cedera,โ ujarnya, seperti dikutip Football Italia.
Meski demikian, mantan peraih Ballon d'Or itu menegaskan bahwa keputusannya untuk bertahan di San Siro musim ini murni didasari oleh kenyamanan dan rasa percaya yang diberikan klub serta para pendukung. โSaya di sini karena saya mengalami waktu yang menyenangkan. Klub dan fans menunjukkan kasih sayang yang besar, dan itu alasan pertama saya memilih bertahan,โ tegasnya. Ia juga membantah anggapan bahwa ia bertahan hanya untuk menghindari pensiun dengan catatan negatif.
Modric mengungkapkan bahwa momen krusial yang mengubah arah musim Milan adalah kekalahan dari Lazio. Sebelum laga tersebut, tim masih percaya diri bisa merebut gelar juara. Namun setelah menyadari peluang itu menipis, fokus mereka justru kendur dan asumsi bahwa tiket Liga Champions sudah di tangan menjadi bumerang. โKami melakukan kesalahan. Kami mungkin merasa sudah aman di Liga Champions, padahal belum,โ katanya.
Keputusan Modric untuk bertahan juga melalui proses yang matang. Ia mengaku sebenarnya bisa menandatangani kontrak baru sejak Desember, tetapi memilih menunggu hingga mendengarkan respons tubuhnya. โSaya perlu memahami bagaimana perasaan saya, apakah masih memiliki gairah yang sama untuk terus bermain,โ jelasnya. Setelah mendapat jawaban yang diharapkan, dan melihat manajemen masih menginginkannya, ia pun tak ragu lagi.
Bagi pengamat sepak bola Italia, pengakuan Modric ini menjadi cermin betapa rapuhnya mentalitas tim papan atas ketika menghadapi tekanan. Milan, yang sempat tampil meyakinkan sepanjang musim, justru kehilangan fokus di momen penentu. Kegagalan ini menjadi pelajaran berharga, tidak hanya bagi Milan, tetapi juga klub-klub lain yang kerap lengah di penghujung musim.
Di Indonesia, fenomena ini juga relevan dengan kompetisi domestik. Tim-tim seperti Persija Jakarta atau Persib Bandung sering kali mengalami penurunan performa saat berada di puncak klasemen, akibat rasa percaya diri yang berlebihan. Pelajaran dari Milan bisa menjadi referensi bagi klub-klub Liga 1 untuk menjaga konsistensi hingga akhir musim.
Kini, dengan Modric yang tetap berseragam merah-hitam, harapan baru muncul di San Siro. Pertanyaannya, akankah pengalaman pahit musim lalu menjadi cambuk bagi Milan untuk bangkit dan kembali bersaing di papan atas? Atau justru menjadi awal dari kemunduran yang lebih panjang? Musim 2026-27 akan menjadi ujian sesungguhnya bagi ambisi Milan dan ketajaman insting Modric di usia senjanya.



