Jeremy Monga: Remaja 17 Tahun yang Menolak Arsenal demi Manchester City
Baca dalam 60 detik
- Gelandang muda berbakat asal Inggris, Jeremy Monga, resmi berseragam Manchester City setelah memilih The Citizens dibanding Arsenal pada bursa transfer musim panas ini.
- Keputusan tersebut didasari pertimbangan jalur karier dan kesuksesan klub, dengan target meniru gaya bermain legenda Chelsea, Eden Hazard.
- Debutnya di laga pramusim melawan K-League XI menjadi awal yang menjanjikan, meski harus bersaing ketat untuk menembus skuad utama di Etihad.

Jeremy Monga, remaja 17 tahun yang baru saja direkrut Manchester City dari Leicester City dengan nilai transfer mencapai £10 juta, akhirnya menjalani debutnya dalam laga pramusim melawan K-League XI di Seoul World Cup Stadium. Kehadirannya di lini tengah The Citizens pada pertandingan yang berakhir dengan skor 3-1 itu langsung mencuri perhatian, meski hanya bermain sekitar 30 menit. Namun, di balik penampilan perdananya, tersimpan keputusan besar yang sempat menggantung: menolak pinangan Arsenal demi bergabung dengan rival beratnya.
Sejak awal bursa transfer, nama Monga memang dikaitkan dengan Arsenal. The Gunners, yang musim lalu tampil impresif di bawah asuhan Mikel Arteta, dikabarkan hampir menyelesaikan kesepakatan dengan pemain yang juga memperkuat Timnas Inggris U-19 ini. Namun, Manchester City yang datang belakangan justru berhasil mengamankan tanda tangannya. "Ketertarikan Arsenal sangat kuat, sangat dekat dengan saya bergabung ke sana," ujar Monga kepada BBC Sport. "Tetapi keputusan utama adalah jalur karier dan klubnya sendiri. Mereka sangat sukses, jadi ketika City memanggil, itu keputusan yang tidak perlu dipikir panjang."
Keputusan ini tentu menjadi sinyal penting bagi persaingan di papan atas Premier League. Manchester City, yang dikenal dengan proyek pengembangan pemain mudanya, memberikan jaminan menit bermain yang lebih jelas dibanding Arsenal yang saat ini dihuni banyak bintang. Monga sendiri mengaku tidak ragu dengan pilihannya. "Saya merasa lebih cocok di City. Saya melihat diri saya dalam balutan biru," tegasnya. Pernyataan ini sekaligus menjadi jawaban atas keraguan sebagian pihak yang menilai kepindahannya terlalu dini.
Perjalanan Monga menuju panggung sepak bola elite tidaklah mulus. Ia sempat mencatatkan rekor sebagai pemain termuda ketiga yang tampil di Premier League saat berusia 15 tahun 271 hari, ketika Leicester kalah dari Newcastle United pada April lalu. Namun, musim itu berakhir pahit: Leicester terdegradasi ke Championship, dan musim berikutnya mereka justru jatuh lebih dalam ke League One. Meski demikian, Monga tetap memandang masa-masa sulit itu sebagai pelajaran berharga. "Championship adalah liga yang keras, para pemain bertahan memberi saya lebih sedikit waktu dan rasa hormat. Ini dunia yang saling menjatuhkan," kenangnya. "Tetapi saya tidak melihat sisi negatifnya, saya justru bersyukur atas kesempatan yang diberikan Leicester."
Di balik ketangguhannya di lapangan, Monga ternyata memiliki idola yang cukup mengejutkan: Eden Hazard. Meski tumbuh sebagai pendukung Chelsea, ia mengagumi gaya bermain mantan pemain Belgia tersebut. "Ketajamannya, caranya mengambil alih permainan, dan tentu saja kemampuannya mengolah bola—semua itu ingin saya tiru," ungkapnya. Baginya, gol solo Hazard ke gawang Tottenham atau golnya melawan Liverpool adalah momen yang selalu membekas. "Ketika Anda melihat gol seperti itu, Anda pasti mengingatnya," tambahnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kepindahan Monga ke Manchester City menjadi cermin bagaimana klub-klub besar Eropa berlomba merebut talenta muda. Fenomena ini juga relevan dengan perkembangan pesepak bola muda Indonesia yang mulai dilirik klub-klub Eropa, seperti halnya Marselino Ferdinan atau Ronaldo Kwateh. Jika mereka mampu menembus klub selevel City, bukan tidak mungkin suatu saat kita akan melihat pemain Indonesia tampil di panggung Premier League. Namun, jalan itu masih panjang dan penuh tantangan.
Kini, pertanyaan besarnya adalah bagaimana Monga akan bersaing dengan lini tengah City yang sudah dihuni pemain-pemain sekelas Kevin De Bruyne, Rodri, atau Bernardo Silva. Dengan usianya yang masih sangat muda, ia mungkin akan lebih sering bermain di tim U-21 atau dipinjamkan ke klub lain. Namun, jika melihat tekad dan kemampuannya, bukan tidak mungkin ia akan menjadi salah satu bintang masa depan. Apakah ia akan mampu mengikuti jejak Hazard yang sukses di Chelsea dan Real Madrid? Atau justru menjadi pemain yang terlupakan? Hanya waktu yang bisa menjawab.



