Thomson Reuters Naikkan Target Pendapatan, AI Jadi Andalan Baru di Tengah Kekhawatiran Disrupsi
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan menaikkan proyeksi pendapatan organik tahunan menjadi sekitar 8 persen setelah kinerja kuartal kedua melampaui ekspektasi.
- Model bahasa besar internal, Thomson, dinilai mampu bersaing dengan produk Anthropic, OpenAI, dan Google, membuka peluang komersialisasi lebih luas.
- Langkah ini menjadi sinyal bahwa investasi AI mulai membuahkan hasil, meredakan kekhawatiran pasar akan disrupsi di sektor informasi profesional.

Thomson Reuters, raksasa informasi dan teknologi asal Toronto, merevisi naik proyeksi pendapatan organik tahunannya menjadi sekitar 8 persen, menyusul kinerja kuartal kedua yang melampaui perkiraan analis. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kepercayaan perusahaan terhadap model kecerdasan buatan (AI) internalnya, Thomson, yang dinilai mampu bersaing dengan produk sejenis dari Anthropic, OpenAI, dan Google.
Pada kuartal kedua, pendapatan perusahaan naik 9 persen menjadi 1,95 miliar dolar AS, sedikit di atas estimasi pasar yang berkisar 1,9 miliar dolar AS. Laba per saham di luar item tertentu juga tercatat 99 sen, lebih tinggi dari perkiraan analis sebesar 96 sen. Angka-angka ini menjadi penanda bahwa transformasi digital yang digencarkan perusahaan mulai menunjukkan hasil nyata.
Chief Executive Officer Steve Hasker, dalam wawancara setelah rilis laporan keuangan, menegaskan bahwa fokus perusahaan adalah mengembangkan Thomson dan aplikasi-aplikasi untuk profesi hukum, pajak, akuntansi, dan audit. โKami melihat peluang untuk menciptakan solusi AI berdaulat bagi pelanggan terbesar dan paling canggih kami, sambil memberdayakan produk seperti Westlaw dan Co-Counsel,โ ujarnya. Hasker juga menyebut adanya potensi penerapan di divisi berita, meski belum merinci lebih lanjut.
Kinerja ini datang di tengah kekhawatiran pasar bahwa kehadiran AI generatif akan mengganggu model bisnis perusahaan informasi tradisional. Saham Thomson Reuters sempat tertekan, turun 15,28 persen sejak awal tahun, sementara indeks S&P/TSX Composite justru naik 12,35 persen. Namun, Adam Sarhan, CEO firma investasi 50 Park di New York, menilai hasil kuartal ini membantu meredakan kekhawatiran tersebut. โKenaikan pendapatan 9 persen dan revisi naik proyeksi tahunan menunjukkan pelanggan masih membayar untuk produk inti, bahkan saat AI mengubah cara konsumsi informasi hukum dan pajak,โ katanya.
Chief Financial Officer Gary E. Bischoping Jr. mengungkapkan bahwa sekitar 32 persen dari nilai kontrak dasar perusahaan kini bergantung pada AI generatif, naik dari 30 persen pada kuartal sebelumnya. Ini menandakan adopsi AI tidak hanya sebagai wacana, tetapi sudah terintegrasi dalam layanan yang ditawarkan. Sebelumnya, Thomson Reuters juga menjual 51 persen bisnis Global Print-nya ke KKR untuk membentuk usaha patungan, dengan fokus pada bisnis digital dan โAI kelas fidusiaโ yang hasilnya dapat diverifikasi dan diaudit.
- Pendapatan Q2 2025: $1,95 miliar, naik 9% YoY.
- Laba per saham: 99 sen, di atas estimasi 96 sen.
- Proyeksi pendapatan organik FY2025: sekitar 8% (sebelumnya 7,5โ8%).
- 32% nilai kontrak berbasis AI generatif pada Q2, naik dari 30% di Q1.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan ini menjadi cermin bagaimana perusahaan informasi global beradaptasi dengan AI. Di dalam negeri, industri media dan layanan profesional juga mulai merambah AI, namun masih dalam tahap awal. Keberhasilan Thomson Reuters dalam mengintegrasikan AI tanpa mengorbankan pendapatan dapat menjadi pelajaran berharga bagi perusahaan lokal yang tengah mencari model bisnis berkelanjutan di tengah disrupsi teknologi.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan mengubah industri informasi, melainkan seberapa cepat dan sejauh mana perusahaan seperti Thomson Reuters dapat memanfaatkannya untuk memperkuat posisi pasar. Dengan langkah agresif ini, mereka tampaknya ingin memimpin, bukan sekadar bertahan. Namun, apakah model AI internal yang dikembangkan mampu terus bersaing dengan raksasa teknologi seperti OpenAI dan Google dalam jangka panjang? Hanya waktu yang akan membuktikan.



