Gianfranco Zola Resmi Masuk Struktur FIGC: Koordinator Pembinaan Usia Muda Italia
Baca dalam 60 detik
- FIGC menunjuk Gianfranco Zola sebagai koordinator aktivitas pembinaan usia muda, mulai dari akademi hingga tim U-21.
- Langkah ini melengkapi restrukturisasi tim nasional Italia di bawah Roberto Mancini dan Claudio Ranieri, dengan fokus pada regenerasi pemain.
- Zola juga tetap menjabat sebagai wakil presiden Lega Pro, menunjukkan sinergi antara federasi dan liga kasta ketiga Italia.

Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) resmi mengumumkan penunjukan Gianfranco Zola sebagai koordinator pembinaan usia muda, sebuah peran strategis yang akan membawahi seluruh akademi hingga tim nasional U-21. Keputusan ini diumumkan langsung oleh Presiden FIGC, Giovanni Malagรฒ, pada Selasa (11/2) waktu setempat, menandai babak baru dalam upaya Italia membangun kembali fondasi sepak bola usia dini.
Penunjukan Zola bukanlah kejutan besar. Sejak pekan lalu, ketika FIGC memperkenalkan Roberto Mancini sebagai pelatih kepala dan Claudio Ranieri sebagai direktur teknis, federasi telah mengisyaratkan akan ada satu figur lagi yang melengkapi troika kepemimpinan teknis. Nama Zola langsung mengemuka sebagai kandidat ideal, mengingat rekam jejaknya sebagai legenda lapangan dan pengalamannya di dunia kepelatihan.
Malagรฒ, dalam pernyataannya kepada kantor berita ANSA, mengungkapkan bahwa Zola dipilih karena kharisma, kesiapan, dan dedikasinya terhadap pengembangan pemain muda, yang telah terlihat jelas selama masa baktinya di Lega Pro. "Ranieri dan saya sangat menginginkan Zola, dan kami sepakat dengan Presiden Lega Pro, Matteo Marani. Ia akan tetap menjabat sebagai wakil presiden Lega Pro," ujar Malagรฒ. Ia menambahkan bahwa fondasi terbaik untuk masa depan Italia adalah kombinasi antara kualitas personal Zola dan kerja nyatanya di liga kasta ketiga tersebut.
Peran baru Zola ini tidak hanya bersifat seremonial. Ia akan bertanggung jawab langsung terhadap koordinasi seluruh aktivitas pembinaan usia muda, mulai dari akademi klub hingga level tim nasional U-21. Ini merupakan bagian dari restrukturisasi besar yang dicanangkan FIGC untuk menjawab kritik tajam terhadap minimnya talenta muda yang lahir dari sistem pembinaan Italia dalam satu dekade terakhir.
Ranieri, dalam konferensi pers perkenalannya, telah menyoroti salah satu masalah krusial: biaya akademi yang semakin mahal dan memberatkan keluarga. Hal ini, menurutnya, membatasi akses bagi pemain-pemain potensial yang seharusnya bisa berkembang lebih jauh. Zola diharapkan mampu menjadi jembatan antara federasi, klub, dan keluarga untuk mencari solusi atas persoalan ini.
Bagi pengamat sepak bola, langkah ini menunjukkan keseriusan Italia dalam melakukan regenerasi. Kegagalan tim nasional Italia untuk tampil di Piala Dunia 2018 dan 2022 menjadi tamparan keras yang memaksa federasi untuk berbenah. Dengan hadirnya Zola, diharapkan ada perubahan paradigma dalam pembinaan usia muda, yang selama ini kerap dikritik karena terlalu fokus pada hasil instan dibanding pengembangan jangka panjang.
Konteks Indonesia: Pelajaran berharga dapat diambil dari langkah FIGC ini. Indonesia, yang tengah gencar membenahi sepak bola nasional, bisa meniru pendekatan Italia dalam menempatkan figur legendaris dan berpengalaman di posisi strategis pembinaan usia muda. Kehadiran sosok seperti Zola tidak hanya membawa nama besar, tetapi juga jaringan dan pengetahuan yang luas. Jika Indonesia ingin serius membangun tim nasional yang kompetitif, investasi pada pembinaan usia muda dengan melibatkan para legenda sepak bola nasional bisa menjadi langkah awal yang bijak.
Ke depan, tantangan terbesar Zola adalah bagaimana mengubah kebijakan menjadi aksi nyata di lapangan. Pertanyaan yang menggantung: akankah ia mampu menekan biaya akademi dan memperluas akses bagi talenta-talenta dari daerah? Atau justru akan terjebak dalam birokrasi yang selama ini menghambat? Publik Italia, dan juga penggemar sepak bola di seluruh dunia, akan mengawasi dengan saksama.



